Monday, March 30, 2015

Campione!


Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Akhirnya, sweet moment itu datang juga. Kontingen Jawa Timur berhasil menjadi juara umum dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja Pertama yang dihelat di Jawa Timur 2014 ini. Kita menutup tahun dengan kenangan manis yang menjadi pendorong semangat untuk meraih kesuksesan selanjutnya.
Ini buah dari kerja kolektif serta kerja keras dan cerdas dari semua pemangku kepentingan olahraga di Jawa Timur.
Citarasa sukses itu manis, the taste of success is sweet. Kita harus menunggu 14 tahun untuk bisa kembali merasakan euforia seperti ini. Kita pernah merasakannya pada tahun 2000 ketika menjadi tuan rumah PON ke-15. Sukses ganda sebagai tuan rumah dan juara umum adalah kebanggaan yang luar biasa.
Kita kemudian menjadi juara umum kembali delapan tahun berselang pada PON ke-17 di Kalimantan Timur. Sungguh capaian yang luar biasa karena kita melakukannya di luar kandang dan kita menundukkan rival abadi kita DKI Jakarta.
Pada PON ke-18 2012 di Riau kita gagal mempertahankan supremasi dan melorot di posisi ketiga di bawah juara umum DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tapi, Jatim tidak perlu waktu lama untuk meraih kembali kedigdayaannya. Dua tahun kemudian, di PON Remaja Pertama ini kita kembali bisa memukul DKI Jakarta dan membuktikan bahwa kita tetap menjadi salah satu yang terbaik.
Ada yang mengatakan bahwa perhelatan kali ini kalah pamor karena hanya PON Remaja. Tentu saja, dibanding PON Senior kalah gengsi. Tetapi, jangan lupa bahwa DKI Jakarta sangat serius untuk memenangkannya, dan persaingan neck to neck (leher lawan leher) berlangsung sengit sampai hampir penutupan.
Kemenangan ini penting dan bersejarah. Inilah PON Remaja Pertama yang akan menjadi tonggak bagi pembinaan atlet usia remaja selanjutnya. Jatim melaksanakannya dengan sukses dan mengukir sejarah sebagai juara. Tinta emas sejarah akan mencatat prestasi monumental itu.
Bagi Jatim sukses juara umum ini mempunyai arti sangat psikologis yang luar biasa penting. Kegagalan di PON Riau adalah pukulan telak yang sempat menggoyahkan konfiden. Kita menjadi berpikir apakah kita mampu bangkit pada PON berikutnya. Disinilah letak pentingnya kemenangan tahun ini. Konfidensi kita bangkit kembali dan keyakinan kita membuncah bahwa kita bisa menjadi juara.
Yang lebih membanggakan adalah kita menjadi juara umum dengan atlet-atlet kita sendiri. Kalau meminjam tagline JTV kontingen kita adalah "Satus Persen Jatim". Belum lagi soal anggaran. Dibanding DKI kita hanyalah seperenamnya. Tapi kita bisa buktikan bahwa semangat, soliditas, kemauan hebat, serta kerja keras bisa menundukkan uang yang berlimpah.
Tentu saja penyelenggaraan perhelatan ini tak mungkin nir-masalah. Dukungan dana yang minim dari pemerintah pusat membuat gebyar PON Remaja terasa kurang. Untunglah pemerintah Provinsi Jatim sigap dan trengginas dengan menutup biaya sehingga dalam hal pelayanan semuanya berlangsung mulus lancar.
Memang ada protes keras dari kontingen DKI. Ada tiga hal yang menjadi gugatan DKI. Pertama soal gangguan suporter bonek, kedua soal dugaan permainan kuota, dan ketiga kecurigaan kecurangan penjurian cabor senam karena ada empat nomor dengan juara kembar.
Soal intrusi bonek pada pertandingan bulutangkis sempat menjadi masalah. DKI memutuskan menarik diri dari pertandingan dengan alasan terganggu aksi bonek. Pada haris berikutnya bonek lebih tertib. Toh pada semifinal tunggal putri atlet DKI kalah dari Jatim yang akhirnya merebut emas. Tanpa intrusi bonek pun atlet DKI tetap kalah.
Kita sudah meminta maaf atas insiden itu. Suporter adalah komponen penting yang tak terpisahkan dari pertandingan olahraga. Tanpa suporter bisa kita bayangkan hambarnya pertandingan. Atlet-atlet Jatim junior maupun senior tidak boleh manja dan harus selalu siap menghadapi suporter dimana pun.
Lantas soal dugaan permainan kuota. Sebagai tuan rumah kita tidak pernah meminta jatah kuota lebih. KONI Pusat yang memberi kita privelege sebagai tuan rumah dengan memberi tambahan kuota bulu tangkis dan tenis meja. Hal itu sudah tertuang dalam surat keputusan yang sudah diketahui seluruh peserta. Protes keras DKI agak terlambat sehingga tidak mungkin ditarik mundur.
Kemudian soal kecurigaan kecurangan dalam cabor senam. Dari empat nomor yang menghasilkan juara kembar hanya dua yang melibatkan Jatim. Protes kita lakukan karena selisih poin sangat tipis dan juri pun menerima protes kita. Para juri itu lebih banyak yang berasal dari DKI, jadi tudingan ada permainan juri kurang berdasar.
Lepas dari itu semua, kita memenangkan kompetisi ini dengan elegan. Kontingan renang Jatim tampil garang. Atletik heroik, panahan menawan, dan senam membanggakan. Bulutangkis sangat manis, tenis meja bikin lega, cabor menembak menggebrak, voli pantai sangat pasti, silat menciat dengan cepat. Dan gong dari semua gong adalah sepakbola. Tidak terkalahkan sejak babak penyisihan dan sampai final gawang tak pernah bobol. Memasukkan 23 gol dan hanya bobol 2 biji gola. Sungguh Young Guns yang dahsyat!
* * * *
Tentu saja sekarang kita lebih pede bicara mengenai peluang juara pada PON 2016. Banyak yang mengatakan ini mission imposible karena tuan rumah sudah mengapling posisi juara umum.
Saya ingin katakan disini, kalau kita bekerja keras dan efektif serta efisien seperti tahun ini, kita akan tetap menjadi kontingen yang kompetitif yang diperhitungkan oleh siapapun.
Tuan rumah Jabar adalah hot favourite juara. DKI diam-diam tetap menyimpan ambisi untuk mempertahankan juara. Tetapi, Jatim adalah kuda hitam, underdog yang selalu siap untuk meraup kemenangan pada detik-detik yang menentukan.
Mari kita teguhkan komitmen besar kita untuk mencatat sejarah sebagai Double Winner dan Back to Back Champion. Mari kita kimpoikan gelar juara PON Remaja 2014 dengan gelar juara PON Senior 2016.

Mari kita satukan tekad.
Impossible is Nothing! (*)

ijin share ya gan...... sumbernya sih dari sini (cek tkp) 

Link: http://adf.ly/1CLY5w

Blog Archive