Sunday, March 15, 2015

Cukai Naik, HET Rokok jadi Rp20 rebu. Mana Komitmen PDIP Membela Petani?


April 2015, Harga Rokok Bakal Naik Jadi Rp. 20 Ribu per Bungkus
15 Mar, 2015 harry Berita Jakarta, Bisnis, Ekonomi 71 views 0 0

Cukai Naik, HET Rokok jadi Rp20 rebu. Mana Komitmen PDIP Membela Petani?

Jakartakita.com – Bagi Anda para penikmat rokok, siap-siap saja untuk merogoh kocek lebih dalam lagi. Pasalnya, di bulan April 2015 mendatang, harga rokok dipasaran bakal naik menyusul rencana Pemerintah menaikan pajak rokok menjadi 10 persen.

"Harga rokok bakal naik, saat kebijakan pemerintah menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) rokok dari 8,4 persen menjadi 10 persen dan kenaikan tarif cukai," kata Regional Sales Manager Indonesia Timur, Red Mild, Joseph Kopalit di Manado, seperti dilansir Antara, Sabtu (14/3/2015).

Dijelaskan, apabila memang pajak rokok tetap naik 10 persen, maka harga rokok di penjualan eceran akan menjadi Rp20.000 per bungkus.

"Rata-rata rokok dijual menjadi Rp16.000 per bungkus, itu untuk pembelian di pabrik. Sementara di toko menjadi Rp17.000 dan eceran bakal Rp20.000," jelasnya.

Dia menilai, kenaikan pajak rokok ini tidak tepat. Karena, tak seimbang dengan konsumen berpenghasilan rendah.

"Padahal mereka itu penghasilannya bisa dikatakan masih labil. Nah, ketika harga rokok naik mereka mengurung niatnya membeli rokok. Beda dengan yang berpenghasilan di atas, berapapun harganya tetap dibeli," tuturnya.

Menurut Joseph, pemerintah harus lebih jeli dalam menaikan harga rokok ini, jangan meniru negara tetangga Singapura, yang sudah layak. Sementara negara kita masih merupakan negara berkembang.

Namun demikian, ia tetap akan memenuhi kenaikan pajak tersebut. "Mau tidak mau tetap akan ikut karena kita warga negara harus taat pajak," tandasnya.
http://jakartakita.com/2015/03/15/ap...u-per-bungkus/


Ribka Tjiptaning Beber Hilangnya 'Ayat Rokok'
Ribka mengakui mendukung penghapusan 'ayat rokok' namun soal penghapusan, jangan tuduh dia
Selasa, 12 Oktober 2010 | 11:27 WIB

Cukai Naik, HET Rokok jadi Rp20 rebu. Mana Komitmen PDIP Membela Petani?

Sikap Ribka dan PDIP

Ribka mengakui, dia dan fraksinya memang menginginkan penghapusan ayat 2. "Memang sikap saya adalah menolak ketentuan bahwa tembakau atau produk tembakau dinyatakan oleh UU itu sebagai zat adiktif (ayat 2 pasal 113 UU No 36 2009). Sikap saya, dan sikap PDIP membela petani tembakau. Pembatasan itu akan menyebabkan kerugian bagi petani tembakau," katanya.

"Kami berpandangan bahwa pembatasan bahkan pelarangan tembakau tidak hanya dilihat oleh aspek kesehatan saja. Isu itu digulirkan harus dilihat dalam konteks ekonomi politik," ujarnya.

Ribka menyebut, dalam beberapa penelitian di berbagai negara, peraturan yang mengilegalkan tembakau selalu diiringi dengan meningkatnya produk nikotin bukan tembakau, tetapi nikotin obat. Dari tesis itu dapat disimpulkan bahwa korporat besar farmasi memperoleh manfaat dan sekaligus mendanai kampanye anti tembakau.

Namun, ujar Ribka, "Sikap saya ini tidak harus serta merta menjadi landasan dan keabasahan Kakar dan Koalisi Penegak Citra DPR untuk menghajar saya." Jelas sikap Ribka Tjiptaning yang menyetujui menghapus ayat 2 pasal 113 pada tanggal 12 September 2009 (sebelum sidang Paripurna) dijadikan landasan tuduhan bahwa hilangnya ayat itu karena rekayasa Ribka Tjiptaning.

Dan sekali lagi, Ribka menyatakan menjunjung tinggi asas demokrasi karena mayoritas fraksi sudah setuju mempertahankan 'ayat rokok' itu. "Dalam tahap sebelum paripurna saya akan berjuang gigih, tetapi kalau mayoritas sudah memutuskan saya wajib tunduk dan menghormatinya," kata Ribka.

Polisi sudah menangani kasus penghilangan 'ayat rokok' ini dengan memanggil sejumlah orang termasuk mantan anggota Komisi IX dari Partai Demokrat, Hakim Sarimuda Pohan. Namun sudah berbulan-bulan, polisi belum menetapkan tersangka atas kasus ini.
http://politik.news.viva.co.id/news/...a--ayat-rokok-


Industri Rokok Dicurigai Dalangi Raibnya "Ayat Tembakau"
June 9th, 2010, 3:10

Industri rokok ditengarai berperan dalam hilangnya ayat yang mengatur bahaya tembakau dalam Undang-Undang Kesehatan yang disahkan pada sidang paripurna DPR September lalu. Hal ini dikatakan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi kepada Suara Hidayatullah awal Oktober lalu.

Tulus meyakini, kasus hilangnya ayat 2 pada pasal 113 yang mengatur zat adiktif, termasuk tembakau, adalah kejahatan sistematis yang direncanakan. Dia mengatakan, ada dua hal yang menjadi indikasi campur tangan industri rokok. Sebelum undang-undang disahkan, kata Tulus, sejumlah pengusaha rokok menyatakan keberatan terhadap ayat tersebut.

Selain itu, kata Tulus, secara historis industri rokok pernah melakukan aksi serupa pada tahun 1992. Hal ini terungkap dari dokumen internal tentang korespondensi antara pihak British American Tobacco pusat dengan cabangnya di Indonesia. Isi dari dokumen itu adalah kabar keberhasilan industri rokok melobi parlemen dan pemerintah yang tidak menyebut nikotin sebagai zat adiktif yang harus diawasi penggunaannya.

Pembaca bisa melihat dokumen tersebut di http://bat.library.ucsf.edu, khususnya dokumen nomor 304046112 dan 304044598.

Seperti ramai diberitakan di media, ayat tentang tembakau tersebut hilang di DPR. Oleh karena itu, Tulus menilai DPR telah bertindak seperti preman jalanan. "Kalau mau menghilangkan ayat, bermainlah secara lebih elegan," jelasnya.

Dalam Rapat Paripurna tanggal 14 September 2009, DPR mengesahkan pasal 113 UU Kesehatan berisi 3 ayat. Namun, saat UU tersebut dikirim ke Presiden untuk ditandatangani, pasal tersebut hanya berisi dua ayat. Ayat (2) yang ikut disahkan dalam paripurna telah dihapus.

Penghapusan pasal tersebut tidak diikuti penghapusan penjelasan pasalnya. Akibatnya meski ayat (2) tentang tembakau itu hilang, tapi penjelasan pasalnya masih ada.

Ayat (2) itu berbunyi, "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya."
http://majalah.hidayatullah.com/wart...%E2%80%9D.html

Asal tahu aja ...
Dua Orang Terkaya RI Sukses Berkat Industri Rokok
14 Mar 2015 at 21:00 WIB

Cukai Naik, HET Rokok jadi Rp20 rebu. Mana Komitmen PDIP Membela Petani?

Liputan6.com, Jakarta Anda mungkin sudah tahu Forbes setiap tahun merilis daftar nama-nama miliarder dari seluruh dunia. Dari nama-nama itu, tahun ini terselip 22 nama orang-orang terkaya dari Indonesia.

Bangga atau tidak, ada fakta menarik dari jejeran nama-nama tersebut. Dilansir dari forbes.com, Sabtu (14/3/2015), dari sekian nama orang terkaya di Indonesia, dua teratas dinobatkan sebagai miliarder berkat industri rokok. R. Budi dan Michael Hartono merupakan pewaris perusahaan Djarum.

Digabung dengan harga saham BCA milik mereka yang terus meningkat, total kekayaan mereka tercatat sebanyak US$ 16,5 miliar (setara Rp 214,5 rupiah). Sedangkan di nomor dua ada Susilo Wonowidjojo.

Nama Susilo mungkin kurang akrab dikenal, namun siapa yang tidak pernah mendengar Gudang Garam? Berkat perusahaan rokok yang diwarisi oleh ayahnya, Surya Wonowidjojo, kini jumlah kekayaan Susilo mencapai US$ 8 miliar (setara Rp 104 triliun).

Mungkin karena tanah Indonesia yang subur namun kurang sistem yang mendukung, sehingga tembakau cocok tumbuh berkembang baik. Mungkin karena rokok merupakan substansi pelampiasan tekanan pikiran paling terjangkau oleh seluruh kalangan.

Tidak akan mengejutkan jika di tahun berikutnya, akan ada perusahaan rokok lain yang mengantar penemunya menjadi daftar orang terkaya di Indonesia mengikuti Djarum dan Gudang Garam
http://bisnis.liputan6.com/read/2190...industri-rokok

-----------------------------

Lidah tak bertulang ... pagi tempe, sore tahu ....




Link: http://adf.ly/1ABbvI

Blog Archive