Tuesday, March 17, 2015

Ekonomi Anjlok! Yang di "Reshuffle" itu Menterinya atau Presidennya?


Ekonomi Anjlok, Menteri-menteri Santai, Jokowi Harus Reshuffle
Senin, 16 Maret 2015 , 12:10:00 WIB

RMOL. Situasi ekonomi nasional yang anjlok dan tidak menentu seperti sekarang adalah waktu yang tepat bagi Presiden Joko Widodo melakukan evaluasi.

Demikian dikatakan anggota Fraksi Gerindra DPR RI, Bambang Harjo, yang mendesak Presiden Jokowi secepatnya melakukan reshuffle (perombakan) kabinet, khususnya pada pos-pos menteri bidang ekonomi yang menyangkut hidup orang banyak. Baca: Rizal Ramli: Pejabat Asal Njeplak Rusak Citra Indonesia di Dunia

"Saya lihat para menteri kabinet kerja sangat santai menghadapi gejolak ekonomi yang ada saat ini. Mereka tidak melihat ke bawah keadaaan rakyat yang sudah sangat menjerit untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya," kata Bambang dalam keterangan persnya, Senin (16/3).

Melonjaknya harga beras, tarif dasar listrik, dan bahan bakar minyak, menurut dia jadi sebagian bukti bahwa harus ada perombakan kabinet secepat mungkin. Baca: Dianggap sebagai ATM, TKI Kecam Menko Perekenomian

"Presiden Jokowi jangan takut perombakan, mengganti menteri yang tidak becus kerjanya. Itu hak presiden yang diilindungi oleh UUD. Jadi Beliau harus berani dan jangan takut bila benar, karena beliau didukung mayoritas rakyat," tutupnya.
http://politik.rmol.co/read/2015/03/...rus-Reshuffle-


Blunder Menko Sofyan Djalil Bagian dari Skenario untuk Delegitimasi Jokowi?
Senin, 16 Maret 2015 , 17:55:00 WIB


RMOL. Kinerja tim ekonomi Jokowi-JK mendapat sorotan belakangan ini. Pasalnya, pemahaman para menteri bidang ekonomi terkait makro ekonomi sangat lemah, terutama Menko Perekonomian Sofyan Djalil.

"Menurut saya, sejak awal, penunjukan Sofyan Djalil sebagai Menteri Koordinator Perekonomian adalah kesalahan," jelas peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra petang ini (Senin, 16/3).

Gede Sandra mengungkapkan, sejak sebelum terbentuknya Kabinet Kerja, dirinya sudah berulang kali mengingatkan Presiden Jokowi, bahwa Sofyan Djalil tidak kompeten dalam bidang makro ekonomi.

"Kini kita semua menjadi saksi atas situasi perekonomian nasional yang terus merosot di lima bulan pertama pemerintahan Jokowi. Sementara pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut para menteri ekonomi justru membuat publik semakin berang," ungkapnya.

Misalnya, pekan lalu publik dikejutkan dengan komentar kontroversial Menko Sofyan Djalil yang mengkambing-hitamkan kecilnya remitansi TKI sebagai penyebab melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS.

Juga komentar sejawatnya di tim ekonomi, Menkeu Bambang Brodjonegoro, yang menyatakan bahwa melemahnya kurs akan semakin menguntungkan APBN. Kontan saja reaksi yang keras berdatangan dari para aktivis pejuang TKI, para anggota DPR, hingga mantan menteri perekonomian.

Terlebih hari ini (Senin, 16/3) publik juga dikejutkan dengan pemberitaan yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi tidak pernah menerima laporan perkembangan harga beras dari para bawahannya, yang seharusnya menjadi tugas Menko Perekonomian yang mengkoordinasikan Menteri Perdagangan dan Kepala Bulog.

Gede menilai hal ini sebagai kelalaian yang "berbahaya" jika tidak ingin disebut sebagai suatu bentuk pembangkangan, dari bawahan kepada atasan.

"Kita paham benar bahwa Pak Sofyan adalah titipan dari JK. Apalagi belakangan beredar desas desus, bahwa ada upaya masif yang laten untuk mendeligitimasi Presiden Jokowi dan menaikkan JK sebagai Presiden kelak jika terjadi krisis ekonomi-politik. Namun harapan kita tentu semoga kedua hal ini tidak berhubungan," tutup Gede.
http://www.rmol.co/read/2015/03/16/1...timasi-Jokowi-


Ultimatum Mahasiswa: 20 Mei Jokowi Harus Mundur
Senin, 16 Maret 2015, 20:42 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ratusan Aliansi Mahasiswa Cinta Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Senin (16/3). Dalam aksinya mahasiswa memberi ultimatum kepada Presiden Jokowi untuk membereskan segala permasalahan yang sedang menghimpit bangsa Indonesia.

"Kami sangat mencintai Indonesia. Apabila sampai 20 Mei 2015 Pemerintah tidak melakukan perbaikan secara signifikan, maka mahasiswa dan rakyat memohon dengan hormat agar Bapak Jokowi mundur dari kursi Presiden RI," ujar Koordinator aksi, Achmad Faqihuddinn, Senin (16/3).

Dalam aksinya, puluhan mahasiswa tersebut mengkritisi pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dinilai dzolim kepada rakyat.

Karena dalam waktu belum satu tahun, Jokowi telah mengubah segalanya. Berbagai kebijakan pemerintahan Presiden ke-7 Indonesia tersebut membuat rakyat menjerit.
Yakni, mulai dari menaikan harga BBM yang dibarengi dengan kenaikan harga sembako, harga elpiji yang melambung dan sekarang diperparah dengan nilai tukar rupiah yang merosot. "Kondisi ini semakin membuat masyarakat susah," katanya.

Achmad mengatakan, pihaknya memberikan beberapa tuntutan kepada Jokowi. Di antaranya, mendesak pemerintahan Jokowi untuk menurunkan harga-harga, mendukung agenda reformasi berupa pemberantasan korupsi, menegakkan kedaulatan hukum dan mewujudkan stabilitas nasional.
http://nasional.republika.co.id/beri...i-harus-mundur


Rizal Ramli sebut banyak menteri kabinet Jokowi yang KW3
Rabu, 4 Februari 2015 20:05

Ekonomi Anjlok! Yang di Reshuffle itu Menterinya atau Presidennya?
Jokowi lantik menteri Kabinet Kerja. ©2014 Setpres/CahyoBruri Sasmito

Merdeka.com - Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, sensasi Jokowi sebagai kepala negara sepertinya sudah sangat surut akhir-akhir ini. Hal itu dikarenakan sejumlah kebijakan ekonominya yang sangat tidak populer dan berdampak buruk pada masyarakat menengah ke bawah.

"Kami biasa melakukan forecasting (ramalan) dalam politik dan ekonomi. Maka begitu Jokowi naik, saya prediksikan bahwa (popularitas) Jokowi baru akan merosot pada satu tahun ke depan. Tapi ternyata, baru 3 bulan kok sudah enggak populer," kata Rizal dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Rabu (4/2).

"Hal itu dikarenakan kebijakan Jokowi dalam hal ekonomi dalam 3 bulan ini jelas menggerogoti kesejahteraan golongan menengah ke bawah. Sehingga ada pertanyaan, apa yang dimaksud perubahan yang dibawa Jokowi ini. Saya melihat ada upaya pembelokan dalam hal ini," katanya menambahkan.

Selain itu, Rizal juga mengkritik kualitas menteri kabinet Jokowi yang menurutnya diisi oleh orang-orang yang 'abal-abal' dan tidak berkualitas dalam memerintah kementeriannya.

Dirinya juga mengkritik mengenai polemik KPK-Polri yang makin panas akhir-akhir ini, ditambah dengan kelakukan Menko Polhukam yang menurutnya memiliki kapasitas sebagai penengah, namun nyatanya sama sekali tidak bermanfaat untuk berada di dalam pemerintahan hari ini.

"Kalau menterinya hanya bisa naikin harga, Indonesia makin enggak kompetitif. Padahal kalau cost diturunkan, rakyat senang dan tidak merugikan golongan menengah ke bawah. Kabinet Jokowi memang ada yang bagus seperti Jonan, Susi, tapi menteri yang lainnya itu kualitasnya KW3," cetus Rizal.

"Kalau urusan KPK-Polri ini kan sebenarnya Menko Polhukam saja bisa beresin. Tapi masalahnya kan kita itu perlunya pejabat yang ori (original), bukan yang KW3 seperti Menko Polhukam saat ini," pungkasnya.
http://www.merdeka.com/politik/rizal...-yang-kw3.html


Rizal Ramli Prediksi Pemerintahan Baru Bisa Bertahan 2,5 Tahun
Jumat, 22 Agustus 2014 , 01:34:00

JAKARTA - Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengatakan oposisi setelah Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jauh akan lebih kuat, kritis dan galak. Jika pemerintahan hasil pemilu 2014 ini tidak canggih, Rizal memprediksi pemerintah hanya akan bertahan paling lama dua setengah tahun.

"Ke depan, oposisi akan jauh lebih serius dan konfrontatif. Kalau pemerintah tidak canggih, bisa DPR yang duapertiga jumlahnya beroposisi bikin banyak masalah. Prediksi saya, pemerintah hanya akan bertahan dua setengah tahun saja," kata Rizal Ramli, saat berdisksusi, di press room DPR, Senayan Jakarta, Kamis (21/8).

Berbeda dengan pola oposisi di era SBY yang oleh Rizal Ramli disebut sebagai oposisi ecek-ecek. "Menurut saya, oposisi di DPR era SBY sesungguhnya ecek-ecek dan korupsi partai politik dibiarkan untuk menyenangkan elit partai," ujarnya.

Selain itu ujarnya, pemerintahan SBY juga tertolong oleh ekspor berbagai komoditi yang nilainya ekonominya tinggi ditambah dengan kondisi ekonomi negara-negara maju relatif kesulitan. Kini kondisi berubah karena negara maju ekonominya membaik dan modal akan lari ke negaranya masing-masing. "Ibarat lebaran, 'Mudik' lah uang itu," tegasnya.

Rizal mengatakan kalau presidennya tidak canggih, siapa pun presidennya sangat mudah terjerembab, karena memang banyak jebakan baik di internal APBN maupun kondisi eksternal. "Sebaliknya, jika presidennya canggih dan berani membongkar APBN 2015, maka bisa-bisa pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen. Kuncinya bukan uang, tapi kebijakan," tegasnya.

Lebih lanjut, Rizal mengkritisi APBN 2015 yang diajukan SBY kepada DPR. Ia mengaku sedih dengan postur APBN yang dibangun SBY.

"Sedih melihat sahabat saya, SBY. Kalau lihat angka-angka APBN yang diwarisinya kepada pemerintahan mendatang sesungguhnya bom waktu dan terlalu banyak perangkap batmennya. Ini menunjukan, maaf, kelas SBY itu belum negarawan, baru sekelas politisi karena hanya hebat dalam pidato-pidatoan," ungkap mantan Kepala Bulog itu.

Mestinya lanjut dia, dalam waktu tiga bulan terakhir masa jabatannya, banyak yang bisa dilakukan SBY untuk perbaikan bangsa ini. "Tapi itu tidak dilakukannya," pungkas Rizal Ramli.(fas/jpnn)
http://www.jpnn.com/read/2014/08/22/...han-2,5-Tahun-

-------------------------

Kalo Jokowi hanya berkuasa setengah main, maka setengah main berikutnya akan digantikan JK?




Link: http://adf.ly/1AFCw0

Blog Archive