Friday, March 13, 2015

Masyarakat Jangan Panik Terhadap Melemahnya Nilai Tukar Rupiah


Dalam seminggu terakhir ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendah setelah krisis ekonomi dunia di tahun 2008. Minggu lalu saja rupiah pernah menyentuh level psikologis Rp 13 ribu per dolar AS, namun dalam penutupan perdagangan rupiah kembali pada kisaran dibawah Rp 13 ribu per dolar AS. Pekan ini rupiah tak mau beranjak dari posisi di atas Rp. 13 Ribu.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rrate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs referensi rupiah berada di level 13.059 per dolar AS pada selasa (10/3). Angka itu melemah 12 poin dibandingkan Senin (9/3) yang berada di level 13.047 per dolar AS.

Secara umum ada tiga dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bila dilihat dari sisi ekonomi. Pertama, pelemahan rupiah menyebabkan meningkatnya biaya impor bahan baku. Kedua, tingkat suku bunga dan terdongkraknya inflasi karena meningkatnya harga-harga barang akibat biaya produksi yang juga meningkat.

Karena itulah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi lembaga jasa keuangan masih terjaga meski nilai tukar rupiah terdepresi di level 23 ribu per dolar AS. OJK juga memandang pelemahan nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi masih dalam tahap bisa ditoleransi. Namun, juga tidak memandang mudah persoalan ini.

Melihat kondisi ini, seberapa besar pun tekanan terhadap rupiah, kita dukung pemerintah khususnya otoritas moneter. Otoritas moneter harus berjibaku untuk menahan agar rupiah tidak terus terperosok. Dan khususnya pada masyarakat Indonesia agar tidak panik dalam melihat keadaan rupiah yang melemah. Pemerintah Indonesia beserta jajaranya pasti sudah dengan cepat dan tanggap mencari solusi dan cara yang efektif dan efisien dalam menguatkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Opini dan gabungan dari koran republika


Link: http://adf.ly/1A68HI

Blog Archive