Tuesday, March 24, 2015

Mesin Pencetak Mata Uang Rupiah Rusak


Mesin Pencetak Mata Uang Rupiah Rusak
Selasa, 24 Maret 2015, 11:30 WIB

Mesin Pencetak Mata Uang Rupiah Rusak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- DPR RI mengungkap soal salah satu penyebab kelangkaan Rupiah di Indonesia. Anggota fraksi Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengatakan, merosotnya nilai tukar mata uang nasional belakangan lantaran ketidakmampuan percetakan uang negara memenuhi permintaan Bank Indonesia (BI) soal kebutuhan uang.

Diungkapkan Sufmi ketakmampuan percetakan uang negara itu, diduga lantaran mesin pencetak Rupiah mengalami kerusakan. Kata dia, silinder utama mesin pencetakan uang milik percetakan negara mengalami retak, sehingga tak maksimal melakukan pencetakan.

"Ini saya ungkapkan agar bisa ditindak lanjuti lintas komisi," kata dia, saat menyampaikan pendapat dalam sidang paripurna ke-22 anggota DPR RI, Selasa (24/3)

Dikatakan olehnya rusaknya mesin pencetak Rupiah itu berpotensi menjadi bencana nasional sebab mempengaruhi kebutuhan masyarakat atas mata uang.

Dikatakan olehnya, keretakan sebagian mesin pencetak Rupiah, sudah pernah dibahas pada masa sidang anggota dewan ke II, waktu lalu. Persisnya di Komisi VI. Namun, sampai hari ini, belum ada jalan keluar atas kerusakan mesin cetak kepunyaan pemerintah itu.

Sebab, diungkapkan politikus di Komisi III itu, ada semacam pengkondisian agar kerusakan tersebut tak diketahui publik. Hal tersebut misalnya tampak dari pemecatan yang dilakukan sepihak oleh menejemen percetakan terhadap sejumlah karyawan yang membocorkan keretakan sebagian mesin pencetak uang itu.


Karen itu, Sufmi pun meminta agar Komisi IX yang menangani soal serikat pekerja dan buruh mempertanyakan kebijakan PHK para pekerja tersebut. Pun, diungkapkan dia, rusaknya mesin tersebut juga akan menjadi bahasan di Komisi III. Sebab kata dia, kerusakan tersebut sudah dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak dua kali.

"Kami berharap, pimpinan DPR agar memperhatikan masalah ini. Juga di Komisi VI, IX, di Komisi III, juga di Komisi I," ujar dia.

Dia menambahkan, keterlibatan Komisi I, dibutuhkan karena percetakan uang negara di bawah kordinasi Badan Intelijen Negara (BIN).

http://nasional.republika.co.id/beri...#comments-list


Minggu, 14 Maret 2010 - 11:39 wib
Mari Jalan-Jalan ke Percetakan Uang

Uang, semakin tinggi angkanya, semakin tinggi pula hasrat kita untuk memilikinya. Mungkin itulah yang terlintas di pikiran hampir setiap orang tentang uang. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda hasrat untuk mengetahui bagaimana uang itu diproduksi?

Untuk lebih jelasnya, okezone akan mengajak Anda menelusuri percetakan uang di Perum Percetakan Uang RI (Peruri), Karawang, Jawa Barat.

Beberapa waktu lalu okezone memiliki kesempatan berkunjung langsung meninjau percetakan uang kertas Peruri. Ternyata tidak sembarang orang bisa masuk ke kawasan percetakan uang tersebut. Harus benar-benar orang yang terdaftar sudah membuat janji atau khusus undangan Peruri yang bisa memasuki kawasan ini.

Lapisan pengamanan yang ketat akan Anda hadapi sejak melangkahkan kaki di sini. Itu pun baru memasuki arena gerbang utama Peruri. Jangan bayangkan saat memasuki gedung produksi percetakan uangnya, banyak persyaratannya!

Kali pertama yang Anda harus lakukan bila ingin memasuki areal proses produksi percetakan uang ini, Anda harus meninggalkan segala bentuk teknologi digital yang Anda bawa antara lain telepon genggam (handphone) dan alat perekam gambar seperti kamera digital. Tidak hanya itu, uang dan dompet pun harus diamankan terlebih dahulu. Tapi jangan khawatir, barang-barang yang Anda tinggalkan tersebut akan disimpan di loker yang sudah disediakan di depan pintu masuk dan kunci loker Anda yang bawa.

Setelah itu, barulah Anda boleh memasuki pintu putar gedung. Usai melewati pintu putar, Anda akan langsung menjumpai sejumlah etalase yang dipajang di dalamnya sejumlah produk pabrikan Peruri. Mulai dari uang kertas dan uang logam yang telah diproduksi Peruri dari awal hingga terbaru, kertas berharga nonuang seperti perangko, pita cukai, passport, sertifikat tanah, ijazah, materai, serta dipajang juga maket arsitektur denah kawasan Peruri.

Usai puas menikmati pajangan-pajangan di sejumlah etalase tersebut, lalu Anda bisa beranjak ke lantai dua. Bisa menaiki tangga maupun lift. Di lantai dua inilah Anda bisa melihat secara langsung bagaimana uang diproduksi, mulai dari tahapan awal hingga akhir produksi.

Berikut tahapan proses percetakan uang kertas:

1.Proses Plat Cetak Intaglio/Galvano (Engraving Process)
Ini merupakan tahap awal dari proses percetakan uang kertas. Butuh waktu tiga hingga lima bulan untuk membuat plat cetak uang tersebut.

2.Proses Roll Sablon Intaglio (Inking Schablon Process)

Setelah membuat plat cetak, lalu beranjak ke proses pemberian tinta roll/ mesin penggulung atau alat pemutar untuk mencetak uang.

3.Proses Cetak Uang Kertas Tahap Cetak Rata (Offset Process)

Setelah plat dan roll pencetak uang sudah siap, maka kini dimulailah tahap pencetakan uang ke kertas. Satu kertas lembar besar tersebut memuat 45 – 50 bilyet (lembar) uang. Untuk lembaran uang Rp1.000, Rp2.000, dan Rp5.000 memuat 50 bilyet per kertas. Sedangkan untuk lembaran uang Rp10.000 hingga Rp100.000 memuat 45 bilyet per kertas. Ini merupakan tahap di mana pemberian warna dasar uang.

4.Proses Cetak Uang Kertas Tahap Cetak Dalam (Intaglio Process)

Setelah kertas diberi warna dasar, kemudian dilanjutkan dengan pencetakan kertas di lembar bagian dalam atau di lembar sebaliknya. Namun sebelum mencetak bagian dalam, kertas yang telah diberi warna dasar terlebih dahulu dikeringkan selama satu hari.

5.Proses Pemeriksaan Lembar Besar (Inspection Process)

Setelah dua bagian kertas telah dicetak, lalu dilakukanlah pemeriksaan uang. Pemeriksaan ini dilakukan secara manual oleh karyawan guna melihat apakah ada kerusakan dalam proses produksi. Bila diketahui ada yang rusak atau cacat, maka pada lembaran yang rusak itu akan ditandai dengan coretan.

6.Proses Cetak Nomor (Numbering Process)

Usai diperiksa secara manual, maka dilanjutkan dengan pemberian nomor uang. Nomor uang ini disesuaikan dengan pesanan Bank Indonesia (BI). Terdapat tiga mesin putar pencetak nomor yang telah diisi dengan plat nomor masing-masing uang.

Setelah pencetakan nomor, maka uang kertas tersebut harus diperiksa kembali guna mengecek kebenaran dan keabsahan nomor uang tersebut.

7.Proses Penyelesaian (Cutpack Process)

Ini merupakan tahapan akhir dari segala proses pencetakan uang kertas. Proses ini terbagi dua yaitu proses penyelesaian secara mekanis dan manual. Secara mekanis, kertas lembar besar tersebut kini dipotong menggunakan mesin pemotong kertas. Secara manual, lembaran uang diperiksa kembali langsung oleh sejumlah pekerja yang didominasi perempuan. Pada tahap akhir ini pulalah lembaran-lembaran uang yang rusak atau cacat dilubangi untuk kemudian dihancurkan.

Demikianlah tahapan proses pencetakan uang, ternyata tidak semudah yang kita bayangkan selama ini bukan?

Perlu diketahui, bahan uang kertas asli dari Bank Indonesia (BI) yang beredar di pasaran selama ini terbuat dari bahan katun, sehingga tidak mudah luntur, kusam, dan robek. Jadi jangan tertipu dengan uang palsu yang tentunya proses pembuatannya lebih cepat, namun uang hasil cetakannya pun akan lebih cepat kusam, luntur, dan rusak.

Untuk pesanan domestik, Peruri hanya melakukan proses produksi, sedangkan bahan diperoleh dari BI. Sementara untuk pemesanan luar negeri, seperti pemesanan uang Nepal, Somalia, dan Mauritius, Peruri sendirilah yang menyiapkan segala sesuatunya, termasuk bahan kertas.

Jadi, mulai sekarang hargailah berapa sen pun uang yang Anda punya.

http://economy.okezone.com/read/2010...ercetakan-uang


kasihan jokowi , gegara mesin cetak uang rusak , dollar makin berani gebukin rupiah sampai sehancur hancurnya

yang komen harap dihapus lagi komennya setelah 1 jam , mengingat persoalan ini masih jadi rahasia negara

Link: http://adf.ly/1BTEUz

Blog Archive