Thursday, March 19, 2015

Ngomong Sedikit, Wanita Ini Bikin Rupiah dan Mata Uang Dunia Menguat


http://finance.detik.com/read/2015/0...990101mainnews

Jakarta -The Federal Reserve/The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS), telah menyelesaikan pertemuan bulanannya. Memang belum ada petunjuk yang jelas, soal kenaikan suku bunga, tetapi pelaku pasar menerka The Fed belum menempuh kebijakan tersebut dalam waktu dekat.

Berikut adalah pernyataan Yellen seperti dikutip dari CNN, Kamis (19/3/2015):

"Kami memastikan target suku bunga 0,25%. Hanya karena kami menghapus kata sabar dalam pernyataan, bukan berarti kami tidak sabar. Kami menilai kondisi ekonomi belum pasti akan membaik saat pertemuan April mendatang. Kenaikan suku bunga bisa terjadi di pertemuan-pertemuan selanjutnya, tergantung situasi ekonomi.

Kami menegaskan, pertemuan kali ini jangan diartikan bahwa kami mengindikasikan sudah menentukan waktu untuk menaikkan suku bunga. Kami juga menegaskan, kenaikan suku bunga belum tentu akan dilakukan Juni, meski kami juga belum bisa bilang tidak."

Pelaku pasar pun langsung merespons pernyataan ini. Bursa saham dan mata uang negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) bergerak menguat, karena diperkirakan kenaikan suku bunga di AS belum akan terjadi dalam waktu dekat. Rupiah pun menguat, di mana saat ini dolar sudah meninggalkan level Rp 13.000.

Dollar Index (perbandingan dolar AS dengan sejumlah mata uang utama dunia) juga turun. Saat ini, Dollar Indeks berada di posisi 98,005. Sebelumnya, Dollar Index sempat menyentuh level 100.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun bergerak di 'jalur hijau' dengan penguatan 31,64 poin (0,58%) menjadi 5.444,79. Hal serupa juga terjadi di bursa saham Asia seperti:

Hang Seng naik 322,38 poin (1,34%) di posisi 24.442,46.
KOSPI menguat 9,37 poin (0,46%) menjadi 2.037,82.
Straits Times naik 12,79 poin (0,38%) ke posisi 3.374,54.
Shanghai Composite Index menguat 13,09% (0,37%) menjadi 3.590,39.

"The Fed dan pelaku pasar sudah berjalan di jalur yang sama soal kenaikan suku bunga. Mereka ingin kebijakannya tidak hanya mendukung ekonomi AS, tetapi seluruh dunia," tutur David O'Malley, CEO Penn Mutual Asset Management.
(hds/dnl)


Jadi bukan karena kebijakan kodok ya?

Sayang sekali bnyk yg gagal crot

Link: http://adf.ly/1ATjcQ

Blog Archive