Saturday, March 21, 2015

Pelayanan Dokter di Indonesia Lebih Buruk Dibandingkan di Malaysia


TRIBUNNEWS.CO M, JAKARTA- Meninggalnya dua pasien karena tertukar obat saat dioperasi di RS SiloamKarawaci, Tangerang, menyisakan sejumlah permasalahan dalam dunia kedokteran rumah sakit di Indonesia.

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani, mengatakan dokter di Indonesia memiliki jam praktik yang sangat banyak di berbagai rumah sakit sehingga menyebabkan pelayanan kepada pasien tidak maksimal.

Menurut Irma, pelayanan dokter di Indonesia berbeda jauh dibandingkan pelayanan dokter di Malaysia.

Di Malaysia, kata Suryani yang pernah berobat di sana, dokter melakukan pekerjaan mulai dari menimbang pasien, memeriksa suhu, menyuntik dan segala macamnya. Di Indonesia, lanjut dia, itu dilakukan oleh para perawat atau suster.

"Kalau kita kebanyakan kan biasanya dokter datang lihat-lihat, pencet-pencet kemudian diserahkan kepada perawat untuk dilakukan tindakan medisnya. Ini yang jadi masalah di kita. Dokter itu jangan terlaku banyak pelayanan di rumah sakit mana praktik sana praktik sini sehingga datang cuman pencet sana sini kemudian pergi," ujar Irma di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (21/32015).

Untuk itu, Irma menyarankan agar pasien harus pintar dan berani ketika berhadapan dengan rumah sakit dimana dokternya berperilaku seperti ini.

Irma menyarankan agar pasien menuntut agar dilayani dokter karena pasien datang berobat tidak datang cuma-cuma alias gratis.

"Pelayanannya nggak maksimal. Ini mental dokter-dokter kita. Jadi saya ingin katakan dokter harus bijak dan pasien harus pintar. Pasien bilang 'saya bayar datang ker umah sakit. Dokternya mana?' Dokter juga harus bijak dia dibayar untuk melayani pasien-pasiennya," ujar Irma.

Sebelumnya, dua pasien di RS SiloamKarawaci Tangerang meninggal dunia setelah diberi obat anestesi buvanest spinal yang isinya tertukar dengan asam traneksamat atau golongan antifibrinolitik yang bekerja mengurangi pendarahan. Dokter 
Sorotan terhadap dunia kedokteran Indonesia slalu menarik u/ dibicarakan. Paling tidak, ada 2 masalah yg slalu diperbincangkan.
Pertama, dugaan malpraktik dokter.
Kedua, Indikasi main mata antara dokter dan perusahaan farmasi, yg disinyalir menyebabkan tingginya harga obat.
Sebenarnya ada ancaman lain yg mmpengaruhi etika pelayanan, yakni mahalnya biaya pendidikan Kedokteran kita.
Perbincangan tentang dugaan malpraktik dokter cukup kompleks u/ dijabarkan. Perspektif kedokteran dan masyarakat umum (layman) selalu menimbulkan debat yg tidak berkesudahan. Apalagi kemudian dlm kasus tertentu "numpang hidup" pihak ketiga oknum profesi lain yg memanas-manasi melalui berbagai media massa, satu kasus yg blum tentu malpraktik kedokteran.


Link: http://adf.ly/1AtJCg

Blog Archive