Monday, March 23, 2015

PPP DAN GOLKAR SUDAH PECAH BELAH ,DEMOKRAT SELANJUTNYA


Merdeka.com - Jagat politik Tanah Air dalam satu tahun belakangan diramaikan dengan perpecahan di internal partai politik. Adalah Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) yang terlebih dahulu mengalami konflik di internal hingga berujung perpecahan.

Konflik di internal partai berlambang Kabah ini sudah terjadi sejak sebelum pelaksanaan Pilpres 2014. Perbedaan dukungan pasangan capres menjadi ujung pangkal penyebabnya. Kubu Suryadharma Ali mendukung pasangan Prabowo-Hatta, sementara kubu Romahurmuziy lebih condong ke Jokowi- JK.

Meski Pilpres telah selesai digelar dengan kemenangan Jokowi- JK, dua kubu dalam PPP tetap berseteru. Ujungnya, masing-masing kubu menggelar muktamar pemilihan ketua umum masing-masing.

Kubu Romahurmuziy menggelar muktamar di Surabaya. Dalam muktamar itu Romahurmuziy terpilih menjadi ketua umum. Sementara kubu Suryadharma Ali menggelar muktamar di Jakarta. Mantan Menpera Djan Faridz terpilih menjadi ketua umum dalam muktamar Jakarta.

Hingga hari ini, kisruh kedua kubu masih berlangsung dan belum mencapai islah. Apalagi, PTUN mengabulkan gugatan Suryadharma Ali soal pengesahan kepengurusan PPP kubu Romahurmuziy oleh Menkum HAM Yasonna Laoly.

Selain PPP, konflik internal juga dialami Partai Golkar. Pasca pilpres, kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan kubu Agung Laksono berseteru soal waktu pelaksanaan musyawarah nasional (Munas). Kubu Ical ngotot mempercepat pelaksanaan Munas. Sementara, kubu Agung Laksono menghendaki Munas dilaksanakan sesuai keputusan Munas Riau 2009 lalu yakni dilaksanakan pada 2015.

Kubu Ical lantas menggelar Munas pada Desember 2014 di Bali. Dalam Munas itu Ical kembali terpilih menjadi ketua umum. Tak mau kalah, kubu Agung Laksono langsung tancap gas menggelar Munas tandingan. Jeda waktu Munas yang digelar di Ancol, Jakarta itu, dengan Munas Bali hanya beberapa pekan saja.







Merdeka.com - Di Munas Ancol, Agung Laksono terpilih menjadi ketua umum. Tak berbeda dengan PPP, Golkar pun terbelah dua. Kedua kubu lantas saling adu kuat ke pengadilan. Namun, pengadilan memutus mengembalikan keputusan pengurus Golkar yang sah ke Mahkamah Partai.

Namun, putusan sidang Mahkamah Partai multi tafsir. Sebagian pihak menilai Mahkamah Partai memenangkan kubu Agung Laksono. Sementara kubu Ical menilai Mahkamah Partai tak memenangkan salah satu kubu dan mengembalikan kepada putusan pengadilan.

Menkum HAM Yasonna Laoly pun bersikap dengan mengakui Golkar di bawah kepemimpinan Agung Laksono. Hal itu lantas menuai protes dari kubu Ical. Menkum HAM dinilai telah mengintervensi internal Golkar. Padahal, menurut kubu Ical, Mahkamah Partai tak memutus siapa pengurus yang sah. Namun, Menkum HAM mengaku memiliki alasan membuat keputusan tersebut. Salah satunya adalah keputusan Mahkamah Partai yang dinilainya telah memutus Golkar di bawah kepemimpinan Agung Laksono sah.

Perseteruan antara dua kubu di partai beringin pun terus berlanjut. Konflik yang terjadi di internal PPP dan Golkar pun membuat elite di Partai Demokrat khawatir.

Apalagi partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini bakal menggelar kongres pemilihan ketua umum pada pertengahan bulan Mei 2015. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hermanto mengaku pihaknya telah mewaspadai oknum-oknum yang ingin memecah belah Demokrat.

Pasalnya, tak menutup kemungkinan Demokrat bisa diintervensi oleh pemerintah agar terpecah belah seperti Golkar dan PPP.

"Kita yakini banyak orang tahu dari Demokrat seluruh pemegang hak suara masih inginkan Pak SBY jadi ketum. Anggota Demokrat juga masih menghormati Pak SBY," ujarnya.

"Kewaspadaan harus ada terhadap intervensi luar Demokrat, kecurigaan apapun harus kita perhatikan," imbuhnya.




 



Jangan sampe terjadi deh mudah2an Sir SBY bisa menangkalnya

Link: http://adf.ly/1BJkFX

Blog Archive