Monday, March 16, 2015

Ternyata Sulit Cari Pengemis di Iran


140113_kairan1.jpg?w=460

Teheran - Sepanjang kunjungan ke Iran beberapa hari lalu, rombongan kami sulit menemukan pengemis di negeri itu. Bahkan di lokasi yang biasanya banyak peminta-minta -- seperti di sekitar masjid, stasiun kereta api, terminal bus, pasar tradisional (Bazaar) atau pun taman-taman kota yang berserakan di Teheran -- tidak satu pun pengemis yang tampak.

Di negeri yang mengalami boikot oleh AS dan negara-negara Eropa Barat, tentu itu menarik. Iran yang dikucilkan Barat itu rupanya berhasil survive. Barangkali mengemis bukan budaya di Iran, atau rakyat di negeri Mullah itu memang lebih makmur. (Baca: 'Embargo Justru Jadikan Iran Mandiri').


Kata seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Iran, siswa yang belajar di Sekolah Negeri di Iran gratis hingga tingkat SMU; demikian pula mahasiswa yang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri . "Mereka hanya bayar bila belajar di sekolah atau universitas swasta," kata mahasiswa tadi.

Dia sendiri, bersama ribuan mahasiswa asing yang belajar agama di 'hauzah' (semacam pesantren) seperti di Qum dan Masyhad mendapatkan beasiswa. Berapa besar? "Tergantung levelnya. Yah, cukuplah untuk hidup kami di sini," tambah sang mahasiswa asal Sulawesi itu lagi.

Sesekali kami memang pernah didekati anak kecil meminta sedekah, tapi belakangan ketahuan bahwa mereka itu ternyata pengungsi Afghanistan. Garis wajah mereka mirip dengan orang Iran, dan mereka juga berbahasa Persia. Begitu pula kulit mereka.


"Saya dengar ada sekitar tiga juta pengungsi Afghanistan di Iran," kata mahasiswa tadi. Data Badan Penanganan Pengungsi PBB (UNHCR) tahun 2014 lalu menyebutkan, ada sekitar 950 ribu pengungsi Afghanistan yang resmi terdaftar di Iran. Tapi di luar itu, banyak pula 'pendatang haram' atau illegal migrants yang masuk Iran sejak puluhan tahun lalu.


Absennya pengemis itu adalah salah satu yang tidak berubah di Iran. Sedangkan perubahan yang terjadi, di antaranya, adalah kian pesatnya pembangunan infrastruktur, kemajuan dalam teknologi dan riset, perkembangan demokrasi di negeri itu, serta makin ramainya kehidupan dan penduduk di perkotaan.
Riuhnya kehidupan kota, khususnya Teheran, menjadikan lalu lintas kian padat, sejalan dengan banyaknya mobil dan pertambahan jumlah penduduk yang kini mencapai hampir 79 juta.

Mirip dengan Jakarta, lalu lintas di ibukota Iran berpenduduk sekitar sembilan juta jiwa ini sering macet. Juga amat riuh, dengan pengemudi yang boleh dibilang sering 'nekad'.


Tapi, berbeda dengan di Indonesia, tidak banyak sepeda motor di sini. Pemerintah telah menyediakan ribuan bus kota ala Trans-Jakarta, dan kereta api bawah tanah Metro, sehingga jutaan orang commuters dapat bergerak dengan mudah ke segala penjuru Teheran.


Tarif public transport itu pun sangat murah. Ongkos kereta model KRL sekali jalan adalah 4.000 Rial (sekitar Rp.1.500).Tapi Anda juga bisa membeli karcis yang berlaku selama tiga hari, dengan biaya lebih hemat.


Tarif bus juga amat terjangkau. Bila menggunakan kartu pintar SmartCard, maka ongkos naik bus sekali jalan adalah sekitar Rp.1.000 (2500 Rial Iran ), dan sekitar Rp.1.500 (3.500 Rial) bila tanpa SmartCard.


Sabtu (7 Maret) lalu,dua teman di antara rombongan kami kaget saat mereka naik bus, karena tidak ada kondektur atau pun kenek yang menagih ongkos sejak mereka naik.

Baru ketika turun mereka memasukkan ongkos bus itu ke dalam kotak yang disediakan di dekat pintu. "Itu jelas membutuhkan kejujuran penumpang, karena bisa saja mereka yang nakal tidak membayar seperak pun saat turun," kata salah seorang di antaranya. "Itu semacam 'revolusi mental' barangkali," ujar yang seorang lagi.

sumur  (news.detik.com)

Pengemisnya lagi taqiyah kali ya? mereka kan syiah 14.gif

Link: http://adf.ly/1ADrHC

Blog Archive