Monday, March 16, 2015

[Wawancara] Jusuf Kalla : Pak Jokowi Lebih Leha-leha dari pada SBY


Wawancara Wapres Jusuf Kalla 2

Jusuf Kalla : Pak Jokowi Lebih Leha-leha dari pada  SBY

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ( JK) sudah hampir lima bulan mendampingi Presiden RI Joko Widodo ( Jokowi) memimpin negeri ini. JK, demikian dia disapa, sebenarnya sudah dua kali menjabat sebagai wakil presiden. Sebelum mendampingi Jokowi, dia pernah mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004.

Bagaimana perasaannya setelah dua kali menjadi wakil presiden, apakah ada perbedaan antara menjadi pendampingnya SBY dan Jokowi? Ternyata bagi JK sama saja. "Namanya wapres, kan membantu presiden, sama saja," katanya kepadamerdeka.com.

Namun demikian, dia menegaskan, ada perbedaan gaya kepemimpinan di antara keduanya. Tapi meskipun berbeda gaya, tapi inti dari keduanya sama-sama ingin memajukan negeri ini.

Selain bicara soal pengalamannya mendampingi Jokowi dan SBY, JK juga bicara tentang kondisi politik tanah air, termasuk hubungan antara KMP dan KIH yang selama sekarang mulai mencair. Mantan ketua umum Partai Golkar itu juga bicara soal hubungannya dengan mantan seteru di pilpres lalu; Prabowo, Hatta, serta pimpinan-pimpinan partai oposisi seperti Aburizal Bakrie danZulkifli Hasan.

Berikut ini petikan wawancara Sri Wiyanti, Anwar Khumaini, Wenslaus Manggut dan Arie Basuki dari merdeka.com dengan Wapres Jusuf Kalla di kantor wapres, Senin (09/03):

Apa perbedaan yang anda rasakan saat mendampingi Presiden SBY dan Presiden Jokowi?


Namanya wapres, kan membantu presiden, sama saja.

Lebih santai atau rileks mana?


Saya tidak pernah stres atau apa. Kalau bicara rileks pasti Pak Jokowi lebih rileks.

Rileks dalam hal apa?

Serius tentu, saya kira style-nya saja. Intinya kan dua-duanya punya cara masing-masing, intinya untuk memajukan negeri

Tips menjaga kesehatan di tengah kesibukan?


Jaga kesehatan itu tidak dengan cara instan. Menjaga kesehatan itu butuh puluhan tahun untuk konsisten. Konsisten secara fisik, exercise, olah raga, lari, jalan, konsisten saja, yang biasa tiap hari, lari, jalan, main golf, exercise, begitu saja, tidak berat-berat cuma konsisten saja.

Berarti tinggal melanjutkan kebiasaan lama?

Kan memang begitu. Itu sudah kebutuhan

Ada pantangan makanan tertentu?


Tidak ada

Kan makanan asal Makassar banyak kolesterolnya?

Tidak, justru Makassar tidak ada kolestorol saja. Ikan, protein.

Kan ada Konro juga?


Konro kita makan kalau kita di Makassar, di Jakarta tidak

Soal politik ini pak, sekarang konstelasi politik berubah-ubah. Dukungan terhadap pemerintahan dan oposisi juga mulai berubah?


Kita ini bersyukur bahwa politik kita termasuk paling stabil di Asia, artinya setelah pemilu ya selesai, kita bicara lima tahun ke depan. Beda dengan Thailand, Malaysia, berseteru terus dan banyak negara yang lain, Filipina, termasuk Amerika. Kita setelah pemilu dua tiga bulan selesai, antara blok KMP dan KIH tidak ada lagi masalah.

Sebenarnya pertanyaan paling penting adalah kenapa cuma tiga bulan ramai-ramai, padahal KMP kan pasca-pilpres lalu garang?


Itu hebatnya Indonesia, kita sadari bahwa perlu disadari ini kepentingan bersama. Dan bagi saya, yang kedua ada background masing-masing, orang bertindak sesuai latar belakang masing-masing. Jokowi, saya, backgroundnya apa, pengusaha kan. Ical, Prabowo, Hatta, semua kan sama. Kalau pengusaha tidak mau konflik, tidak oposisi tapi bicara ke depan bagaimana, jalan supaya bisnis jalan.

Jadi, waktu APBN, sederhana saja, kalau APBN tidak disetujui APBN ini, kan kontraktor gak bisa jalan. Sebagian besar kontraktor orang Golkar, bagaimana nanti kalau dimosi sama anggota, hehehe. Oh iya iya, beres-beres, ya sudah setuju APBN.

Komunikasi dengan pemimpin partai-partai koalisi, ketemu langsung apa teleponan?

Ketemu, kadang telepon. Bahas hal sepele juga, ketemu PAN, Zulkifli, Prabowo, PDIP, bicara dengan Surya Paloh, hal yang sama. Pokoknya kalau terus begini kalau kita masih begini kapan majunya bangsa ini. Dengan dasar itu sudah, politik itu alat untuk kemajuan, bukan sebaliknya.

Tapi luar biasa sekali, dulu sehari setelah dilantik jadi wapres, langsung didatangi Prabowo di kantor wapres?


Itulah suatu sisi yang baik, bahwa selesai persaingan sudah kita kembali bersatu untuk kemajuan bangsa. Engga ada pikiran lain lagi.

Ini buat background saja, antara Ical dan Prabowo apakah ada deal bisnis?

Engga ada, artinya bisnis jalan masing-masing. Kalau ada masalah mari saling membantu, kalau ada yang bisa dibantu sesuai aturan, kan bisnis jalan, ada pajak jalan. Jadi tidak mencampuradukkan politik dengan bisnis

Berapa lama sih 'napas' pengusaha bisa kuat untuk oposisi?


Pengusaha tidak berpikir oposisi, tidak butuh oposisi. Pengusaha butuh relasi yang baik, butuh keadaan yang aman.

Sepertinya malah susah menghadapi kawan daripada lawan?


Saya katakan, ini tidak lebih tiga bulan ini nih, selesai.

Tapi di akar rumput kenapa masih banyak pendukung yang saling gontok-gontokan?

Ah engga lah, di mana?

Di media sosial masih ramai?


Itu karena memang isu-isu saja, di mana-mana terjadi, mungkin kalau malam-malam, bikin isu-isu saja.

Jadi benar lebih mudah hadapi lawan daripada kawan?


Pasti engga, tapi begini, kalau ada masalah yang krusial yang pertama harus kita pahami, adalah yang memberi pengertian itu lawan, kalau kawan mudah mengerti kan. Bersamaan aja. Kan kawan disampaikan saja. Contohnya, sebelum harga naik, saya teleponin semua, Surya Paloh, SBY saya teleponin, Ical, PKB, PKS, PAN saya teleponin. Besoknya, oke-oke, aman-aman saja.

Dengan Pak Hatta pernah ketemu?

Hatta belum, dia pernah pukul saya dari belakang

Masak engga pernah ketemu lagi?

Pernah ketemu di pesta, tidak dalam satu pertemuan khusus.

Tapi masih saling bertegur sapa?

Pati, sudah kenal lama dan saya lupakan yang sebelumnya.

Sama SBY juga masih sering ketemu?

Ketemu, sering, pernah ke sini juga,

Bahas apa saja dengan Pak SBY?

Biasa lah.

Waktu Pak SBY jadi presiden periode kedua bapak sering diundang?

Iya, saya biasa diskusi.

Ngobrol lama dengan Pak SBY?

Biasa lah.



Link: http://adf.ly/1ADkjT

Blog Archive