Thursday, April 23, 2015

Ahok : Sistem Lelang Jabatan ala Jokowi Hanya Menyebabkan Keributan !


Salah satu terobosan di bidang birokrasi yang dilakukan Joko Widodo saat menjadi gubernur DKI adalah menggelar lelang jabatan untuk berbagai posisi, termasuk lurah, camat hingga kepala sekolah. Sayangnya, kebijakan itu tidak akan dilanjutkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Padahal, ketika Jokowi memilih menggunakan sistem seleksi terbuka atau lelang jabatan, dia menginginkan tak ada lagi birokrat yang mengharapkan jabatan hanya karena bermodalkan unsur kedekatan.

"Dengan sistem seleksi terbuka tak ada lagi pengangkatan berdasarkan suka-suka gubernurnya, atau suka-suka Kepala BKD-nya. Yang diangkat pun kalau tidak saudara, ya tetangganya. Kalau dengan sistem ini, hanya orang-orang terbaik yang lulus," kata Jokowi saat pengarahan kepada Kepala SMA, Kepala SMK, dan Kepala Puskesmas yang telah lulus lelang jabatan, di Balaikota Jakarta, Rabu (19/3/2014) silam.

Jokowi berharap, para Kepala Sekolah dan Kepala Puskesmas yang telah terpilih dapat meningkatkan mutu pelayanan di bidang Pendidikan dan Kesehatan kepada warga ibu kota. Ia pun membandingkannya dengan para Lurah dan Camat yang juga dipilih melalui lelang jabatan.

"Kita harapkan nantinya para Kepala sekolah dan Kepala puskesmas bisa membangun sebuah tradisi baru. Pengalaman dari seleksi Lurah dan camat, kita bisa mendapatkan orang-orang yang baik. Walaupun ada enam orang yang kemudian bermasalah," ujarnya.

Jauh sebelum itu, saat menggelar lelang jabatan lurah dan camat, Jokowi mengatakan, sistem ini sengaja digulirkan dengan tujuan untuk mendapatkan pejabat yang berkompeten secara manajerial, menguasai masalah dan lapangan, serta memiliki semangat melayani rakyat.

Namun, di mata Ahok, sistem lelang hanya menyebabkan keributan...

Namun, di mata Ahok, sistem lelang hanya menyebabkan keributan, baik untuk calon pengganti dan yang digantikan. Ahok akan menggunakan sistem stok untuk mengisi jabatan di Pemprov DKI. Ahok mengatakan akan menyeleksi para pejabat dengan kompetensi tertentu. Hasilnya akan ada daftar nama-nama siapa-siapa yang memiliki kompetensi itu.


Daftar ini akan digunakan jika ada pejabat DKI Jakarta tidak mampu melanjutkan kerja atau mereka tak mampu sesuai dengan keinginan pimpinannya, maka, Ahok akan mengambil nama pengganti dari daftar sesuai dengan kompetensi tertentu tersebut.

"Jadi pengertiannya itu, kalau mau ganti eselon I dan eselon II, orangnya yang sudah eselon I atau eselon II nggak perlu tes, langsung. Kami juga nggak mau ganti eselon II untuk SKPD A, saya nggak mau lagi umumkan siapa mau rebut posisi A," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/4).

"Nanti distok. Begitu mau penggantian yang layak langsung diambil dan dipasang. Kalau sama-sama eselon II nggak perlu tes. Kami akan stafkan saja kalau nggak beres," tutup Ahok.


Ahok mengaku, perombakan besar-besar terhadap pejabat eselon II hingga IV pada awal tahun 2015 ada yang tidak sesuai target. Ada sejumlah pejabat yang memiliki kinerja baik meski tetap saja ada beberapa yang belum sesuai dengan kriteria yang dia inginkan.

"Dibanding dulu lebih baik, tapi ada beberapa, saya enggak puas. Ada SKPD, dia lakukan kalau dia disuruh. Ada kecenderungan dia ngulur waktu," ungkapnya.

Ahok menduga, pejabat yang tidak bekerja dengan baik karena merasa dirugikan pada posisinya. Karena sebelumnya, mereka bisa mendapatkan keuntungan hingga miliaran rupiah, dan kini hanya mendapatkan puluhan juta.

"Ini saya pikir, apa karena dia tinggal setahun atau dua tahun pensiun atau sakit hati. Saya kasih gaji Anda Rp 80 juta, setahun cuma berapa ratus juta. Kalau kamu korupsi langsung disetor Rp 1,5 miliar atau Rp 3 miliar. Ya kamu mana mau kerja baik-baik," cetus Ahok.

Ahok merencanakan melakukan perombakan kembali setelah permasalahan APBD DKI Jakarta 2015 selesai. Sehingga dia bisa mengganti orang-orang generasi lama dengan yang lebih muda.

"Kami mau perombakan begitu APBD masuk. Nunggu APBD, kalau saya potong yang ribut sama saya banyak. Harus satu-satu saya selesaikan. Nanti kami ganti yang muda-muda yang mau kembangkan Jakarta," tutupnya.



news  


salah satu kebijakan jokowi yang digembar-gemborkan saat kampanye pilpres, ternyata nasibnya langsung dilepeh begitu ahok naik tahta

Link: http://adf.ly/1FgJzd

Blog Archive