Saturday, April 18, 2015

Alamak…! Pangdam I/BB Tarik Kerah Baju Warga


Alamak…! Pangdam I/BB Tarik Kerah Baju Warga
Anggota Komisi A DPRD Sumut: Perbuatan Itu Tidak Tepat

adminmetro 18 April 2015

Kapendam: Warga Melawan Pangdam

Alamak…! Pangdam I/BB Tarik Kerah Baju Warga
Detik-detik saat Pangdam I/BB menarik kerah warga pendemo asal Desa Ramunia

Unjuk rasa warga Desa Perkebunan Ramunia, Pantai Labu, Deliserdang di depan Gedung DPRD Sumut, tiba-tiba mencekam. Pasalnya Pangdam I/BB Mayjen TNI Eddy Rahmayadi, berang dan bereaksi keras di hadapan massa, Gubernur serta sejumlah pejabat penting.
Informasi dihimpun, reaksi keras Pangdam I/BB itu muncul saat melakukan kunjungan bersama Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Gatot Pujo Nugroho di tenda tempat warga menggelar aksi menginap di depan Gedung DPRD Sumut, Jumat (17/4) pagi.

Kehadiran Pangdam I/BB sempat menarik kerah baju dua warga dan memukul lengan kiri seseorang. "Main-main sama saya!" katanya yang membuat Gatot Pujo Nugroho hanya terpelongo melihat aksi itu.

Di hadapan warga, Pangdam I/BB menyatakan warga Desa Ramunia harus menghentikan aksi unjuk rasa yang mengklaim kepemilikan tanah di desa tersebut.

Mantan Dan Linud 100 itu menyatakan, TNI tidak pernah mengambil tanah masyarakat. "Bila bapak-bapak semua bisa menunjukkan dokumen tentang tanah di Desa Ramunia, hari ini juga tanah diberikan kepada warga," katanya.
Pangdam I/BB Mayjen TNI Edy Rahmayadidua didampingi Gubernur Gatot Pujo Nugroho memarahi warga yang mengungsi akibat terusir dari kampung mereka gara-gara bersengketa dengan Puskopad. (int)
Pangdam I/BB Mayjen TNI Edy Rahmayadidua didampingi Gubernur Gatot Pujo Nugroho memarahi warga yang mengungsi akibat terusir dari kampung mereka gara-gara bersengketa dengan Puskopad. (int)

Setelah ada reaksi keras dari Pangdam I/BB, Sat Pol PP dari Pemko Medan dan Pemprovsu langsung menertibkan tenda tempat warga Desa Ramunia yang tadinya membuat aksi menginap sejak tiga pecan terakhir ini.
Open Manurung, warga yang bajunya ditarik oleh Pangdam I/BB menyampaikan, selain kerah bajunya ditarik, ada juga nenek-nenek dibentak oleh jenderal TNI itu. "Kami langsung diam karena tidak berani," katanya usai adanya penggusuran.

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan mengaku menyaksikan langsung peristiwa tersebut. "Saya memilih diam karena apa yang dilakukan Pangdam I/BB bukan jalur dialog. Saya beranggapan apa yang dilakukan Pangdam I/BB kurang tepat," ujarnya.

Politisi PDI-P itu menyatakan, persoalan tanah di Desa Perkebunan Ramunia ini sebenarnya bukan konflik antara warga dengan TNI, melainkan warga dengan Pusat Koperasi Kartika (Puskopkar) DAM I/BB. "Persoalan ini bukan dengan Kodam, tapi dengan koperasinya," ucapnya.

Dia menyebutkan, DPRD Sumut khususnya Komisi A sudah pernah mempertemukan antara warga dengan pengurus Puskopkar DAM I/BB. Dalam pertemuan itu, Puskopkar DAM I/BB menunjukkan alas hak berupa Hak Guna Usaha (HGU), di sisi lain warga juga menunjukkan surat kepala desa menerangkan bahwa lahan tersebut adalah milik negara yang tidak dikelola. Bahkan sudah ada warga yang punya KTP di alamat tepatnya di lahan sekitar 700 hektar.

Dalam kesempatan yang sama, Sutrisno menyatakan, Komnas HAM melalui surat No. 0.822/K/PMT/II/2015 tertanggal 13 Februari 2015 menerangkan, pada poin IV bahwa objek atas tanah berdasarkan HGU Puskopkar DAM I/BB pada tahun 1993 tidak sesuai.

Objek atas tanah yang diklaim ada di Desa Ramunia I, bukan di Desa Perkebunan Ramunia tempat warga menggarap lahan saat ini."Artinya kan ini ada permasalahan warga yang perlu ditindaklanjuti. Harusnya Pemkab Deli Serdang dan Pemprov Sumut yang menyelesaikannya. Tetapi karena pemerintah lepas tangan, maka warga menginap di DPRD Sumut," sebutnya.

Terpisah, Kapendam I/BB Kolonel Enoh Solehudin ketika dikonfirmasi mengatakan, kemarahan Pangdam I/BB dipicu lantaran warga Desa Ramunia telah berhari-hari melakukan aksi demo, hingga mengganggu ketertiban umum dan melawan Pangdam I/BB.

"Memang itu tadi karena warga Desa Ramunia yang udah terlalu lama di situ berdemo, mengganggu ketertiban umum. Ketika Pangdam I/BB memberikan pengarahan dan masukan, warga melawan dengan cara mengangkat tangan ke atas, namun ketika Pangdam I/BB menyuruh warga untuk menurunkan tangannya, tak dihiraukan sehingga memicu amarah Pangdam I/BB," pungkas Enoh.(tim)

http://www.posmetro-medan.com/alamak...ah-baju-warga/


sepertinya satu dekade terakhir ini pemerintahan SUMUT dan Medan udah autopilot

Link: http://adf.ly/1FF09T

Blog Archive