Sunday, April 5, 2015

Anak dan Mantu Hendropriyono di Ring 1 Jokowi. Termasuk calon Ketua BIN yad?


Di Balik Penunjukan Putra Hendropriyono Jadi Stafsus Menteri

Kamis, 02/04/2015 18:12 WIB


Diaz Hendropriyono

Jakarta, CNN Indonesia -- Diaz Hendropriyono, putra mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, ternyata tak hanya duduk sebagai Komisaris PT Telkomsel. Dia juga menjadi Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno. Diaz menjabat Stafsus Bidang Intelijen, posisi yang cukup penting dan strategis.

Dalam perbincangannya dengan CNN Indonesia, Rabu (1/4), Diaz mengatakan jabatan Stafsus Intelijen Menkopolhukam tersebut ditawarkan langsung Menteri Tedjo kepada dia. Namun, ujarnya, dia tak pernah minta posisi apapun kepada sang menteri.

Jabatan Stafsus itu sesungguhnya telah diemban Diaz sebelum dia ditunjuk menjadi Komisaris PT Telkomsel. "Saat itu saya hanya ditawari untuk membantu (Menteri Tedjo), dan kebetulan saya sedang pengangguran karena tugas di Rumah Transisi sudah selesai," kata dia.

Diaz memang salah satu tim sukses Jokowi di Rumah Transisi. Ia juga pendiri Kawan Jokowi –organisasi nonparpol yang bekerjasama dengan berbagai kelompok relawan pendukung Jokowi dalam kampanye Pemilu Presiden 2014.

Meski demikian, Diaz menolak disebut orang Jokowi karena dia merasa lebih dekat dengan kader NasDem ketimbang PDIP selama masa kampanye. "Waktu di Rumah Transisi, teman saya lebih banyak di NasDem daripada PDIP. Sebelum Pak Tedjo jadi menteri, saya pun sudah sering tukar pikiran dengan beliau, bicara soal bangsa. Setelah beliau dipilih jadi menteri, kami ketemu lagi dan menawari (posisi stafsus)," ujar Diaz.

Ia tak menampik banyak orang-orang di Rumah Transisi atau relawan Jokowi lain yang saat ini mendapat posisi penting di pemerintahan. Itu pula yang membuat Jokowi disebut membawa dan mengumpulkan orang-orangnya di lingkaran pemerintahan. 'Orang-orang' Jokowi itu tak hanya mendapat kursi menteri atau staf presiden, tapi juga jabatan strategis di BUMN–seperti Diaz.

Menurut Diaz, pemilihan orang-orang yang terlibat di Rumah Transisi di pemerintahan merupakan hal alamiah. Pasalnya, selama empat bulan mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Dari situlah lahir kepercayaan antara Jokowi dengan orang-orang di Rumah Transisi.

"Empat bulan bersama, banyak interaksi, hubungan jadi dekat. Itu natural," ujar Diaz.

Namun, kata Diaz, pemilihan orang-orang Rumah Transisi untuk menempati posisi strategis di pemerintahan bisa menjadi kesalahan apabila mereka dipilih hanya berdasarkan kedekatan tanpa memiliki kompetensi di bidang yang akan ditangani.

"Selama ini, yang dipilih menjadi staf khusus saya kira orang-orang yang baik," kata dia.

Sebagai Staf Khusus Menkopolhukam, Diaz tercatat pernah duduk sebagai anggota Dewan Analis Strategis Bidang Ekonomi BIN periode April-Desember 2012, dan anggota Dewan Analis Strategis Bidang Luar Negeri BIN sejak Januari 2013 hingga sekarang.
http://www.cnnindonesia.com/politik/...afsus-menteri/

Diaz Hendropriyono: Saya Mewarisi Semua Musuh dan Teman Ayah
Kamis, 02/04/2015 18:40 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi anak ketiga dari tokoh intelijen nasional Abdullah Makhmud Hendropriyono, diakui Diaz Hendropriyono tak membuat dia selalu aman. Keamanan fisik bukan hal besar yang ia khawatirkan. Namun, aman dari ejekan alias sasaran 'bully' di media sosial menjadi hal yang tidak bisa ia hindari.

Tak hanya penilaian tentang sosok sang ayah sebagai intelijen yang dilekatkan oleh banyak orang kepada Diaz, tapi juga kisah pelanggaran hukum yang diduga dilakukan ayahnya, mau tak mau turut mengikuti nama Diaz.

Begitu pun ketika awal tahun ini Diaz resmi duduk di kursi Komisaris PT Telkomsel, nama sang ayah sempat disebut-sebut punya pengaruh atas keberadaan Diaz di level atas manajemen perusahaan itu.

Meski menjabat kursi Komisaris Telkomsel, Diaz tak sia-sia punya latar belakang intelijen seperti ayahnya. Banyak yang belum tahu bahwa sejak November 2014, putra mantan Kepala Badan Intelijen Negara itu resmi menjabat sebagai Staf Khusus Bidang Intelijen Menteri Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno. (Baca: Di Balik Penunjukan Putra Hendropriyono Jadi Stafsus Menteri)

Dalam perbincangannya dengan CNN Indonesia, Rabu (1/4), pria kelahiran Jakarta, 25 September 1978 itu membeberkan soal kepercayaan yang diberikan oleh Menteri BUMN untuk berada di top-management perusahaan plat merah, menjadi 'pembisik' Menkopolhukam, hingga soal nama besar keluarganya.

Dipilih oleh Menteri BUMN Rini Soemarmo sebagai Komisaris Telkomsel, banyak yang menyebut posisi itu sebagai imbalan bagi Anda yang membantu Jokowi saat kampanye. Tanggapan Anda?
Enggak ada, benar-benar enggak ada agreement di awal (kampanye) yang menyatakan "Dukung lalu nanti dapat ini dan dapat itu." Saya rasa itu berkembang secara natural di sana, dan kebetulan ayah saya juga terlibat di Tim Sukses (Jokowi). Jadi, saya berinteraksi dengan Pak Jokowi dan akhirnya di situ kami saling mengenal. Berkembang secara natural saja, Ibu Rini tiba-tiba menawarkan ke saya bagaimana sekiranya jika membantu di BUMN, di Telkomsel.

(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) Tapi tidak dapat dipungkiri mengenai adanya kesan Anda dipilih karena Anda orang dekat Jokowi, kan?
Iya benar, kesan itu susah dihilangkan, tapi akan hilang dengan sendirinya jika memang orang yang dipilih mempunyai kapasitas dan kapabilitas. Apalagi nanti jika memang secara internal mengakui bahwa orang-orang yang dipilih itu mempunyai kontribusi yang besar kepada perusahaan. Jadi mau itu si A, si B dekat dengan si C, semua akan terbantahkan dengan waktu dan kinerja yang ada. Kita harus melihat dalam dua pandangan yang seimbang.

Kalau tentang relawan atau orang-orang di Tim Transisi yang juga dipilih menempati posisi strategis saat ini, apakah prosesnya sama dengan Anda?
Saya enggak tahu. Saya enggak tahu masing-masing relawan bagaimana. Jadi memang pas selesai kampanye, dipilih tim relawan yang mempunyai kapabilitas, mana-mana saja orangnya. Saya pun enggak tahu siapa yang menyeleksi itu.

Apa Anda sebelumnya punya latar belakang di industri telekomunikasi?
Saya sedekat-dekatnya dengan telekomunikasi itu di BIN. Saat saya pulang dari Amerika, saya diminta jadi analis BIN, sebagai Anggota Dewan Analis Strategis. Di sana jabatan saya nonstruktural.

Tentang Staf Khusus Menkopolhukam, bagaimana awal ceritanya?
Saya diminta jadi staf ahli bidang intelijen itu setelah kampanye di bulan November. Saat itu yang meminta Pak Tedjo. Sebelumnya saya memang dekat dengan kader Nasdem lain. Saya juga sering bertukar pikiran dengan Pak Tedjo.

Apa tugas Anda di sana?
Saya kebetulan dari dulu tugasnya sama saja. Menganalisa isu-isu strategis, memberikan saran seperti supporting staff. Waktu di BIN unit saya itu bisa dibilang unit think tank. Jadi Badan Analis Strategis itu nonstruktural yang dibentuk langsung di bawah Kepala BIN. Kurang lebih tugas saya di Menkopolhukam juga seperti itu.

(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) Mendapat posisi di Bidang Intelijen, Anda mau-tak mau diidentikan oleh masyarakat dengan cerita positif sekaligus negatif ayah Anda. Menurut Anda?
Saya mewarisi dari ayah saya semua teman dan semua musuhnya. Jadi termasuk 'musuh-musuh dari Talangsari', diwariskan kemarahannya kepada saya. Dari sosial media, dari manapun. Setiap muncul nama saya di media, wah ini anaknya si ini nih, si tukang jegal, pembunuh, jadi bahan bully-an.

Lantas apa tanggapan Anda kepada mereka yang mem-bully Anda karena cerita ayah Anda?
Ya, kalau dipikir-pikir memangnya saya ngelakuin apa sih? Tapi enggak apa-apa karena saya jadi punya teman banyak
http://www.cnnindonesia.com/nasional...an-teman-ayah/


Menantu Hendropriyono Resmi Jabat Komandan Paspampres
Rabu, 22 Oktober 2014 | 09:11 WIB


Mayjen TNI Doni Monardo menyerahkan Pataka Paspampres 'Setia Waspada' kepada Inspektur Upacara, Jenderal TNI Moeldoko, Rabu (22/10/2014). Penyerahan lambang kesatuan itu sekaligus menjadi tanda serah terima jabatan Doni kepada Mayjen TNI Andika Perkasa. Andika resmi menjabat sebagai Danpaspampres yang baru.


JAKARTA, KOMPAS.com - Mayjen TNI Andika Perkasa resmi menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) setelah dilantik oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Markas Komando Paspampres, Jakarta, Rabu (22/10/2014). Andika menggantikan Mayjen TNI Doni Monardo.

Pengangkatan Andika sebagai Danpaspanpres ini merupakan permintaan dari Presiden Joko Widodo. Prosesi serah terima jabatan diawali dengan penyerahan lambang kesatuan (Pataka) Paspampres 'Setya Waspada' dari Doni kepada Moeldoko yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Kemudian, Pataka tersebut diserahkan kembali kepada Andika selaku Danpaspampres baru.

Di sela-sela penyerahan itu, juga disematkan tanda jabatan Danpaspampres oleh Moeldoko kepada Andika. Setelah itu, dilanjutkan pembacaan surat keputusan Panglima TNI perihal pengangkatan Andika sebagai Danpaspampres.

Surat keputusan nomor KEP/760/X/2014 itu dikeluarkan pada 14 Oktober 2014. Andika Perkasa adalah lulusan Akmil 1987. Lulus dari Akmil, ia lebih banyak ditugaskan di jajaran Kopassus. Dia juga pernah bertugas di Kodiklat TNI AD dan Sekretaris Pribadi Kasum TNI.

Lulusan Universitas Harvard itu pernah bertugas sebagai Komandan Rindam Jaya hingga Danrem 023/Kawal Samudera, Sibolga, Sumatera Utara. Karier Andika melejit hingga akhirnya menjadi Kadispen TNI AD.
http://nasional.kompas.com/read/2014...an.Paspampres.

Hendropriyono berupaya "setir" Jokowi untuk menentukan jabatan Kapolri, Ketua BIN, dan bahkan kemungkinan panglima TNI yad?
Quote: Jokowi Bakal Pilih Kepala BIN "Titipan" Hendropriyono
Rabu, 5 November 2014 - 06:27 wib


Jokowi

DEPOK - Tiga intel kawakan, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, As'ad Said Ali, dan Jenderal (Purn) Fachrul Razi, dijagokan sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Lantas siapa yang bakal dipilih Jokowi?

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Ikhsan Darmawan, mengaku sulit menilai kelayakan ketiganya. Baik mantan Wakil Menteri Pertahanan, bekas Wakil Kepala BIN, maupun mantan Wakil Panglima TNI ini sama-sama belum dapat dikategorikan sebagai kandidat ideal untuk mengepalai lembaga spionasi negara itu.

"Mengapa tiga orang itu yang dipilih?" kata Ikhsan mempertanyakan. "Jokowi pasti berhadapan dengan kelompok lain, meski calon ini punya masalah di masa lalu," jelasnya kepada Okezone, Selasa malam (04/11/2014).

Dia pun menguraikan satu persatu tokoh yang santer diberitakan bakal menjabat sebagai Kepala BIN ini. Untuk Letjen Sjafrie Sjamsoeddin, Ikhsan menilai yang bersangkutan memiliki catatan buruk terkait kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara As'ad Said Ali diduga memiliki kedekatan dengan Hendropriyono, yang menjabat sebagai Kepala BIN pada saat aktivis HAM Munir wafat. "Kan ada kaitannya, semestinya wakil pasti tahu, tetapi kan intel harus jaga rahasia," paparnya.

Karenanya, menurut Ikhsan, Jenderal Fachrul Razi lah yang paling sedikit resistensinya dari masyarakat. Namun, Ikhsan memprediksi, Jokowi akan memilih Sjafrie Sjamsoeddin atau As'ad Said Ali. Sjafrie dipilih dengan pertimbangan politik sedangkan As'ad Said Ali karena dia Wakil Ketua PBNU.

"Kalau memilih kedua nama itu pengaruhnya lebih besar, Jokowi akan lebih punya power dan lebih ditakuti oleh KMP. Memang kalau As'ad Said Ali peluangnya lebih besar," paparnya.

"Bisa juga (titipan) Hendropriyono, karena kalau Hendropriyono kan enggak mungkin jabat karena sudah tua dan pasti menjadi sasaran tembak publik duluan nanti," paparnya.
http://news.okezone.com/read/2014/11...-hendropriyono


Minta Lantik BG, Hendropriyono Temui Jokowi
Selasa, 3 Februari 2015

FASTNEWS, Jakarta (3/2) – Mantan Tim Sukses Jokowi AM Hendropriyono datang ke Istana Kepresidenan Selasa (3/2) pagi. Hendro tiba di istana sekitar pukul 10.30 WIB. Hendro mengaku dipanggil Presiden Joko Widodo "Iya (dipanggil presiden)," kata Hendropriyono sambil berjalan cepat menuju pintu masuk Kompleks Istana Kepresidenan.

He‎ndropriyono terus berjalan masuk ke dalam. Saat ditanya apakah diskusi dengan Jokowi terkait Komjen Budi Gunawan, Hendro tidak menjawab secara tegas. "Nanti saja yah," jawabnya sambil berlalu.

Ini adalah kedatangan Hendropriyono yang terlihat publik setelah kasus Budi Gunawan mencuat. Termasuk setelah konflik KPK vs Polri yang semakin memanas. Hendropriyono sendiri masih terus mendorong agar Jokowi segera melantik Budi Gunawan. Lantas apakah kedatangannya ini untuk mengatakan hal yang sama atau akan mendapatkan tugas dan posisi dari Jokowi?. Maklum Hendro adalah salah satu tim sukses Jokowi-JK yang belum mendapatkan posisi

Bekas Kepala Badan Intelijen Negara ini awal Januari lalu sempat mendatangi Istana. Hendro sempat disebut-sebut akan diberikan posisi sebagai Dewan Pertimbangan Presiden. Namun hingga saat ini Hendro belum juga mendapatkan posisi apapun. Saat itu Hendro sempat mengatakan akan membantu Presiden meski tidak harus berada di dalam lingkup Istana. "Tugas itu apa selalu di dalam. Kan, tugas itu bisa di luar Istana," kata Hendro setelah menemui Jokowi di Istana Merdeka, Senin, 5 Januari 2015.
http://fastnewsindonesia.com/article...o-temui-jokowi


Penilaian Jenderal Moeldoko pada Hendropriyono:
Panglima TNI: Belum Ada Master Intelijen Seperti Hendropriyono
17 Nov 2014 at 11:15 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengungkap, di era reformasi persoalan intelijen menjadi kacau balau. Bahkan ada upaya untuk mengecilkan peran dan fungsi intelijen.

"Hampir sebagian kita tahu (intelijen kacau balau), hampir sebagian pejabat tahu, hampir sebagian masyarakat tahu dan merasakan, tetapi sebagian besar itu juga tak berbuat apa-apa dan hanya menikmati kondisi ini," kata Moeldoko saat menjadi Inspektur Upacara Pembukaan Sekolah Manajemen dan Analis Intelijen di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (17/11/2014).

"Bisanya hanya komentar, mengeluh dan menyalahkan orang lain. Tapi tak ada upaya yang serius untuk menangani itu," ujar dia.

Kondisi itu, lanjut Panglima TNI, sudah berlangsung lama, sehingga persoalan intelijen menjadi lemah dan tak berdaya. Untuk mengembalikan Indonesia yang memiliki intelijen yang kuat bukan persoalan yang mudah, namun membutuhkan waktu relatif lama.

"Dulu kita punya tokoh dan master intelijen yang hebat dan diakui oleh dunia, seperti Benny Moerdani dan Hendropriyono. Namun ke arah sini belum ada lagi master intelijen Indonesia," tutur Panglima TNI.

Moeldoko pun menyatakan keinginannya memperkuat Badan Intelijen Strategis (Bais) dan jajaran intelijen TNI.
http://news.liputan6.com/read/213498...-hendropriyono


-------------------------------

Salah satu tujuan Reformasi 1998 dulu adalah menumbangkan budaya KKN yang merusak negara ini selama 32 tahun pemerintahan ORBA. Kini rezim Jokowi hendak mengulanginya kembali? Terserahlah!

Tapi bisik-bisik di sekitar Istana bisa berkata lain, bahwa naiknya Luhut Panjaitan sebagai 'the real president" mendampingi Jokowi, sebenanya untuk mengerem manuver Hendropriyono yang terlalu 'kenceng' mau mengatur negara ini dibawah pengaruhnya.

Apa begitu? Yang jelas, Hendropriyono yang disebut Jenderal Moeldoko sebagai Master Intelejen itu, pasti bisa diimbangi oleh Luhut yang juga dikenal sebagai jenderal cerdas dan bahkan lebih pintar daripada Prabowo sekalipun. Nah looo, diatas langit, pasti ada langit lagi, bukan?


Blog Archive