Friday, April 17, 2015

[Anti Prostitusi] Ini Cara Ahok-Djarot Cegah Kos-kosan Jadi Sarang Kupu-kupu Malam


Jakarta - Fenomena rumah kos nan mewah di Jakarta yang berubah fungsi menjadi tempat 'praktik' pekerja seks komersil (PSK) menjajakan jasanya menjadi sorotan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Mereka punya cara mencegahnya.

Terkuaknya praktik PSK di kamar kos mencuat sejak terungkapnya pembunuhan Deudeuh Alfisahrin 'Tataa Chubby' (26) di Boarding House 15 C, Tebet, Jakarta Timur. Deudeuh dihabisi oleh M Prio Santoso alias Rio (24) yang sakit hati gara-gara diejek bau badan saat berhubungan intim di kamar kos yang rata-rata bertarif Rp 2 juta. Usut punya usut, ternyata kawasan itu memang marak dengna kos-kosan mesum.

Menanggapi hal itu, Ahok dan Djarot bertekad mencegah kos-kosan menjadi tempat prostitusi. Ahok meminta ketua RT hingga camat turun tangan menertibkan. Ia juga tidak segan-segan mencopot jajarannya jika terbukti tidak menegakkan aturan. Ahok juga mengajak warga untuk melakukan pengawasan dan melaporkan apabila mencium sesuatu yang mencurigakan.

Senada dengan Ahok, Wagub Djarot menyarankan agar kontrol sosial warga di lingkungannya yang mulai longgar ini ditingkatkan lagi.

Berikut 3 aksi Ahok dan Djarot:



1. Gandeng RT hingga Camat

Seorang wanita ditemukan tewas tanpa busana di dalam sebuah kamar indekos di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Perempuan itu dibunuh oleh seorang pria yang disebut sebagai pelanggannya.

Perempuan bernama Deudeuh Alfisahrin itu diduga sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) yang membuka 'praktik' di kamar kosnya.
Ahok mengatakan, untuk mencegah itu, memang harus dilakukan pengawasan ketat. Selain warga sendiri, peran perangkat kerja daerah seperti RT, RW, lurah dan camat sangat diperlukan.

"Itu urusan polisi (soal pembunuhan). Tapi kita juga bisa tindak sebenarnya. Itu kuncinya ada di lurah dan camat. Kan kuncinya juga di RT, RW. Kalau RT dan RW-nya nggak benar, ya kita copot, sudah ada pergubnya," kata Ahok di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/4/2015).


2. Ajak Warga Awasi dan Lapor

Selain itu, Ahok juga meminta peran serta warga untuk melakukan pengawasan. Jika dirasa mencurigakan, segera lapor.

"Makanya, warga harus lapor. Kelihatan dong, kan kos-kosan wanita. Waktu saya kuliah dulu kan tidak boleh terima cowok. Tapi susah juga kalau terima siang, kan nggak kelihatan juga. Sudahlah, hal seperti itu suruh saja RT, RT, kelurahan lapor. Kan ada sanksi pidana. Asusila ini kan urusan polisi," jelas Ahok di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/4/2015).

Meski demikian, Ahok mengakui sulit untuk melakukan pengawasan tersebut. Karena prostitusi lebih bersifat privasi dan bisa dilakukan di tempat selain indekos.


3. Bangkitkan Kepedulian Sosial

Selain Ahok, Wagub Djarot bertekad mengurangi prostitusi yang kini semakin marak di Jakarta. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan Ketua RT, RW dan kelurahan setempat.

"Aturan dulu tuh baik, (tamu) 1 x 24 jam harus lapor, sekarang sudah mulai dilanggar. Jadi artinya apa, kontrol sosial, itu semakin longgar. Kita perlu ingetin lagi," kata mantan Walikota Blitar ini.

Menurut Djarot, kepedulian sosial sangat penting untuk mencegah tindakan-tindakan negatif di lingkungan masyarakat. Tidak hanya prostitusi, namun penyebaran teroris juga dapat dihambat dengan tingginya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.



cekidooooot   (news.detik.com)



ayo gan bantu pemerintah berantas prostitusi dan human trafficking untuk seks






Link: http://adf.ly/1F8U1g

Blog Archive