Thursday, April 30, 2015

Australia tak tarik Dubesnya ketika warganya DIGANTUNG mati di Singapura


Australia Tak Tarik Dubesnya
Ketika Warganya Digantung
Singapura

RABU, 29 APRIL 2015 | 09:19 WIB
Perdana Menteri Australia, Tony Abbott (kanan)
bersalaman dengan Presiden Joko Widodo saat
menghadiri prosesi upacara pemakaman
Mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, di
Singapura, 29 Maret 2015. (AP Photo)

TEMPO.CO , Jakarta - Perdana Menteri
Australia Tony Abbott pada Rabu, 29 April
2015 memutuskan untuk memanggil Paul
Grigson, Duta Besar Australia di Jakarta,
setelah dua warga Australia, yakni Myuran
Sukumaran dan Andrew Chan, menjalani
eksekusi hukuman mati di
Nusakambangan.
"Kami menghargai kedaulatan Indonesia,
tapi eksekusi mati ini bukan hal sederhana
yang bisa dilupakan begitu saja," kata
Abbot dalam konferensi pers di kantornya,
seperti yang dilansir Sydney Morning
Herald, Rabu, 29 April 2015.
Menurut Abbot, Duta Besar Australia
untuk Indonesia Paul Grigson akan
dipulangkan untuk berkonsultasi dengan
pemerintah Australia soal hubungan
bilateral kedua negara. Penarikan duta
besar ini juga dilakukan untuk menghargai
nyawa dua warga negara Australia yang
ditembak timah panas oleh jaksa eksekutor
di Nusa Kambangan. "Eksekusi mati itu
kejam, seharusnya itu tak perlu
dilakukan," kata dia.
Ini adalah kali pertama Australia
memanggil pulang duta besarnya di
sebuah negara terkait warganya yang
dieksekusi mati karena kasus narkotik.
Canberra tak pernah memilih opsi ini
meski warganya pernah dieksekusi mati
juga di Singapura tahun 2005 serta di
Malaysia pada 1986 dan 1993.
Tahun 2005, saat Nguyen Tuong Van, 25
tahun, ditangkap karena narkoba dan
kemudian menjalani eksekusi mati di
Singapura, Desember 2005, Australia tak
menarik duta besarnya meski sempat
tegang. Nguyen tertangkap di Bandara
Changi, Singapura, pada 2002 karena
membawa 392,2 gram heroin dari
Kamboja. Jumlah heroin Nguyen 26 kali
lebih banyak dibanding jumlah minimal
dalam undang-undang Singapura. Sesuai
undang-undang anti-narkoba Singapura,
siapa pun yang memiliki heroin minimal
15 gram diancam hukuman mati.
Pengadilan Singapura menjatuhkan
hukuman mati pada Nguyen pada 20
Maret 2004. Nguyen ajukan banding dan
kalah. Pengadilan Banding Singapura
memutus Nguyen pada 20 Oktober 2004
tetap menjalani eksekusi hukuman mati
dengan cara digantung pada 2 Desember
2005. Eksekusi Nguyen berlangsung diam-
diam dan saat itu sedang berlangsung KTT
APEC di Korea Selatan.
Sebelum eksekusi, John Howard, Perdana
Menteri Australia saat itu, mengajukan
permohonan terakhir untuk
menyelamatkan nyawa Nguyen. Howard
minta kepada Perdana Menteri Singapura
Lee Hsien Loong untuk menghentikan
eksekusi. Permohonan ditolak dan eksekusi
tetap dilakukan.
Howard mengatakan kecewa dengan
proses eksekusi karena Singapura tak
memberitahu kapan hari eksekusi Nguyen,
padahal keduanya sempat bertemu.
Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo
pun menyampaikan permintaan maaf
kepada Menteri Luar Negeri Australia
Alexander Downer. Namun setelah itu
hubungan membaik. Australia tak pernah
mengancam atau menarik dubesnya dari
Singapura.
Dalam jumpa pers pada Rabu, 29 April
2015 pagi, Abbot beralasan eksekusi mati
terhadap kedua warganya itu kejam dan
tak diperlukan. Ia menyebut saat ini
adalah masa-masa gelap hubungan
diplomatik antara Indonesia dan Australia.
"Saya ingin menekankan bahwa hubungan
Australia tercederai atas apa yang terjadi
dalam beberapa jam terakhir," kata Abbot.
Andrew Chan dan Myuran Sukumaran
masuk dalam gelombang kedua
pelaksanaan eksekusi mati dinihari tadi.
Selain dua anggota Bali Nine, ada enam
terpidana mati lainnya yang dieksekusi,
yakni Martin Anderson, Raheem Agbaje,
Rodrigo Gularte, Sylvester Obiekwe
Nwolise, Okwudili Oyatanze, dan warga
negara Indonesia Zainal Abidin. Jenazah
duo Bali Nine ini akan disemayamkan di
Kedutaan Besar Australia sebelum
dipulangkan ke negara asal mereka.

http://m.tempo.co/read/news/2015/04/29/120661917/australia-tak-tarik-dubesnya-ketika-warganya-digantung-singapura

.

Link: http://adf.ly/1G3wxG

Blog Archive