Friday, April 10, 2015

(berita 86)Gencar Razia, Tentara dan Polisi Ramai-ramai Buru SIM


SURYA.co.id | SURABAYA - Operasi Simpatik Semeru 2015 yang digelar selama tiga pekan ini tidak hanya menyasar pengendara umum. Pengendara dari unsur TNI, Polri, dan profesi lain ikut menjadi sasaran. Pemohon SIM dari unsur TNI/Polri pun melonjak selama sepekan ini.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya, AKBP Made Agus Prasetya mengakui ada lonjakan pemohon SIM dari TNI maupun Polri selama sepekan pelaksaan Operasi Simpatik. Sebagaian anggota TNI/Polri yang mengajukan permohonan SIM ada yang datang secara perorangan. Tapi ada pula yang datang bersama-sama alias rombongan.

Menurutnya, sepekan sebelum pelaksanaan Operasi Simpatik, TNI/Polri dan PNS yang mengajukan permohonan sebanyak 165 orang. Jumlah pemohon berubah menjadi 203 orang pada pekan pertama pelaksanaan Operasi Simpatik.

"Mungkin mereka juga keder melihat Operasi Simpatik ini," kata Made Agus sambil tertawa.

Operasi Simpatik yang hanya dilaksanakan oleh Satlantas. Satlantas selalu menggandeng Provost dan Polisi Militer (PM). Provost untuk menindak polisi yang melanggar, sedangkan PM untuk menindak pelanggar dari TNI.

Sampai saat ini tim gabungan belum menemukan pelanggaran dari TNI maupun Polri. Polrestabes Surabaya juga menggelar operasi internal. Operasi ini hanya dikhususkan bagi polisi atau PNS di lingkungan kepolisian.

Mantan Kasatlantas Polres Jember ini mengakui Satlantas juga terlibat dalam operasi internal. Tapi pihaknya tidak berwenang menindak polisi yang melanggar. Menurutnya, seluruh pelanggaran langsung diserahkan ke Provost. Begitu pula sanksinya, Provost yang paling memahami.

"Kendaraan dinas atau kendaraan pribadi milik anggota, tetap ditangani Provost karena itu bagian dari disiplin," tambahnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasubag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Widjanarko menyatakan operasi internal menemukan tujuh pelanggar. Dari tujuh pelanggar ini, hanya lima pelanggaran yang terkait kendaraan. Dua pelanggaran lain terkait atribut dinas.

Pria yang akrab disapa Pak Wi menyebutkan lima pelanggaran tersebut meliputi kendaraan yang tidak membawa dokumen, dan pemasangan nopol tidak sesuai aturan. Menurutnya, beragam alasan polisi yang tidak membawa dokumen. Ada polisi yang beralasan dokumennya ketinggalan di rumah. Ada pula yang beralasan dokumennya tertukar dengan dokumen kendaraan lain.

"Mereka sudah menunjukan dokumen kendaraannya. Kalau nopol, harus diganti dengan nopol alsinya. Tapi mereka tetap kena sanksi internal," kata Pak Wi.

http://surabaya.tribunnews.com/2015/04/09/gencar-razia-tentara-dan-polisi-ramai-ramai-buru-sim

makin banyak yang bikin SIM, setoran makin lancar

Link: http://adf.ly/1EFCsA

Blog Archive