Thursday, April 9, 2015

Berkat Jangkrik, Lulusan ITB Ini Raup Omzet hingga Rp 500 Juta Per Bulan


Berkat Jangkrik, Lulusan ITB Ini Raup Omzet hingga Rp 500 Juta Per Bulan

KOMPAS.com - Meski tidak memiliki pengalaman dan minim pengetahuan soal budidaya jangkrik, tidak menyurutkan keinginan Bambang Setiawan untuk merambah usaha ini. Terbukti, dengan bekal keyakinan dan tekad yang kuat, kini ia sukses menjadi pengusaha jangkrik beromzet ratusan juta per bulan.

Bambang, sapaan akrabnya merintis usaha budidaya jangkrik tahun 2010 dengan mengusung bendera usaha Trust Jaya Jangkrik di bawah naungan CV Jaya Tani di Cirebon, Jawa Barat.

Saat itu, ia baru saja lulus dari fakultas teknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kendati bergelar sarjana teknik, tidak membuatnya malu ketika memutuskan menjadi peternak jangkrik. "Begitu lulus, saya langsung pulang kampung ke Cirebon dan buat usaha setelah beberapa bulan," kata Bambang kepada Kontan.

Saat ini, Bambang memiliki lebih dari 65 orang karyawan. Kini, ia tercatat sebagai pembudidaya jangkrik terbesar se-Cirebon. Ada pun kapasitas produksinya 200 kilogram (kg) jangkrik dan 8 kg telur jangkrik yang siap dibudidayakan.

Dari usahanya ini, ia pun diganjar sejumlah penghargaan. Tahun lalu, Bambang dinobatkan menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2014 perwakilan Jawa Barat kategori bidang usaha industri, perdagangan, dan jasa.

Penghargaan ini didapat Bambang karena dinilai berhasil membuka industri peternakan jangkrik yang sebelumnya tidak pernah ada di Cirebon. Sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga di Desa Bakungkidul, Kecamatan Jamblang, Cirebon.

Jangkrik hasil tangkarannya dipasarkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jabodetabek. Pengiriman terbesar ke Bandung sebanyak 100 kg per hari.

Kebanyakan jangkrik itu digunakan untuk pakan burung, pakan ikan hias, umpan memancing, dan ada juga yang pesan untuk dijual lagi.

Ia membanderol harga 1 kg jangkrik sebesar Rp 45.000-Rp 50.000. Sedangkan telur jangkrik dihargai lebih mahal lagi. Untuk varietas jangkrik alam, harganya Rp 350.000-Rp 400.000 per kg. Sedangkan harga varietas telur jangkrik kalung sebesar Rp 325.000 per kg.

Dari usaha ini, ia bisa mendapat omzet Rp 15 juta per hari. Itu belum termasuk dari penjualan telur jangkrik untuk pembibitan. Jika ditotal, Bambang bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan.

Kendati sukses menangguk omzet besar, ia tidak lantas berpuas diri. Belakangan, ia justru ekspansi produk dengan membuat makanan olahan jangkrik.

Di antaranya kerupuk jangkrik dengan merek Cricket Chips. "Baru awal Maret ini dibuat," katanya.

Kerupuk jangkrik ini dibuat dalam tiga pilihan rasa, yakni original, keju, dan pedas dengan kemasan 175 gram. Harga per bungkus Rp 25.000.

Lantaran baru, skala produksinya belum terlalu besar dan pemasarannya baru terbatas di wilayah Cirebon. Dalam waktu dekat, ia juga ingin meluaskan jangkauan pasarnya ke Sumatra dan wilayah lain di luar Jawa.

Geluti bisnis sejak mahasiswa

Sukses Bambang tidak datang begitu saja. Tempaan pengalaman panjang di dunia bisnis. pria ini sudah berkenalan dengan dunia bisnis sejak kuliah di ITB.

Saat masih mahasiswa, ia menekuni usaha sebagai penyuplai katering untuk acara seminar dan workshop di kampus. Kebetulan, Bambang memang aktif di berbagai kegiatan kampus dan sering menjadi panitia yang mengurus masalah konsumsi.

Dari situ, ia terinsipirasi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi untuk semua acara di kampus. "Di ITB itu setiap minggunya pasti ada saja seminar, pelatihan, dan saya lihat itu sebagai peluang," katanya.

Ia lalu mengajak pengusaha katering setempat untuk kerja sama memasok kebutuhan acara-acara kampus. Bukan hanya seminar dan workshop, konsumsi untuk acara lain, seperti buka puasa bersama, pameran, atau kuliah umum juga ditanganinya.

Profesi ini ditekuninya sejak pertama kuliah hingga lulus. "Saya membiayai kuliah dari hasil menyuplai konsumen," katanya.

Dari pengalaman menjadi agen pengusaha katering ini, minatnya terhadap dunia bisnis makin kuat. Seiring itu, cita-citanya menjadi seorang insinyur sipil yang menangani berbagai proyek konstruksi pun mulai luntur.

Baginya, menjadi seorang pengusaha lebih menarik ketimbang seorang insinyur. Makanya, begitu lulus, Bambang sudah mantap menjadi pengusaha.

Namun, ia tidak meneruskan bisnis katering lagi. Melainkan pindah haluan dengan menekuni usaha budidaya jangkrik.

Ide bisnisnya ini didapat setelah ia melihat minimnya pasokan jangkrik di Cirebon, daerah asalnya. Setiap pulang kampung saat libur kuliah, ia kerap mendengar keluhan para pedagang dan peternak burung tentang minimnya pasokan jangkrik untuk pakan burung mereka. "Saat itu, populasi jangkrik di Cirebon terus menurun," katanya.

Dari situ, naluri bisnisnya terus muncul. Ia melihat itu sebagai peluang bisnis baru. Makanya, setelah resmi memegang gelar Sarjana Teknik dari ITB, ia bertekad untuk menekuni usaha ini.

Modal jual motor

Bambang lalu menjual motor satu-satunya untuk modal usahanya. Setelah ditambah dengan uang tabungannya, terkumpullah uang sebesar Rp 7 juta.

Tanpa menghiraukan ijazah teknik sipilnya, Bambang pun langsung memulai usaha ini. Ia langsung membeli kandang dan bibit jangkrik. "Ijazah saya saja belum dilegalisir, kalau teman-teman begitu diwisuda, sibuk interview kerja," katanya.

Bambang mengaku, ada beberapa perusahaan ternama yang menawarkan kerja kepadanya. "Tapi saya menolak, " katanya.

Sikap Bambang ini sempat membuat orang tuanya kecewa. Namun, tekadnya untuk menerjuni dunia bisnis sudah kuat. Kekecewaan orang sekitarnya justru semakin memacu dan mendorongnya untuk sukses di dunia usaha.

Dengan modal dari hasil penjualan sepeda motor dan merogoh tabungan, Bambang membeli kandang, bibit jangkrik varietas jangkrik alam dan jangkrik seliring. Karena di Cirebon tidak ada yang peternakan dan pembudidayaan jangkrik, maka Bambang cari bibit unggul dari luar Cirebon.

Bambang bercerita, di Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang yang menjadi tempat tinggalnya dulu merupakan sentra industri rotan. Namun sejak tahun 2008 industri rotan di wilayah tersebut mati, sehingga banyak perajin rotan menganggur.

Sehingga, ketika dia membuka usaha Trust Jaya di bawah bendera CV Jaya Tani yang bergerak di bidang budidaya jangkrik di tahun 2010, itu menjadi peluang pekerjaan bagi orang-orang di desanya. Sebab, Bambang mempekerjakan perajin rotan yang menganggur untuk membantunya, meski pada saat itu baru bisa merekrut beberapa orang.

Selama setahun Bambang mengaku masih belum bisa menikmati keuntungan dari penjualan jangkrik. Sebab, dia masih harus memutar uang yang didapat untuk dijadikan modal agar usahanya terus berjalan dan berkembang. Tidak jarang ia juga mengalami kerugian karena banyak telur dan jangkrik yang mati dan akhirnya tidak bisa dikirim.

Masa hidup jangkrik cukup singkat, dari telur hingga mati hanya dua bulan. Sehingga ketika panen, jangkrik harus segera dikirim ke pelanggan. Jika tidak, jangkrik akan mati. Oleh sebab itu, jika belum ada pemasok, mau tidak mau Bambang harus menelan kerugian, tidak jarang dia sampai harus merugi hingga belasan juta rupiah.

Namun, konsistensinya selama lebih dari setahun akhirnya membuahkan hasil. Lambat laun pemesan yang datang makin banyak. Salah satu cara yang dia tempuh dengan membuat situs pemasaran jangkrikindonesia.com. Hingga kini Trust Jaya Jangkrik berkembang menjadi kawasan budidaya jangkrik terbesar di Cirebon dengan luas 1 hektar.

Hasil jangkrik budidayanya banyak didistribusikan ke toko-toko burung dan para pehobi burung kicauan. Sedangkan telur jangkrik dipasarkan hampir ke setiap wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua. Fokus utama Bambang adalah melakukan pengembangbiakan jangkrik dan memastikan kualitas dan telurnya selalu terjaga baik.

Di samping itu, dia juga membuka pelatihan bagi pembudidaya pemula untuk belajar membudidayakan jangkrik. Meski Bambang tidak memiliki latar belakang ilmu pertanian, namun selama empat tahun terjun di dunia ini membuat Bambang sudah paham betul bagaimana menghasilkan jangkrik kualitas prima.

Kapasitas produksinya saat ini sebanyak 200 kg jangkrik per hari dan 8 kg telur jangkrik per hari. Bagi Bambang, angka itu dirasa masih harus ditingkatkan dan dia harus terus meluaskan pasarnya hingga ke seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, dia terus mendorong warga Cirebon untuk bergabung bersamanya menyuplai jangkrik untuk menambah produksi. (Rani Nossar)

Sumur  (bisniskeuangan.kompas.com)


keren ya.. gara2 jangkrik...

Link: http://adf.ly/1E86Mm

Blog Archive