Saturday, April 4, 2015

Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma


Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma
Apr 04, 2015 Admin Agama, Berita 0

Suharjo (hijau), sedang menyampaikan data dan perkembangan penghayat Sapta Darma di Brebes. [Foto: Salam]
Suharjo (hijau), sedang menyampaikan data dan perkembangan penghayat Sapta Darma di Brebes. [Foto: Salam]

[Brebes –elsaonline.com] Jumlah pemeluk Kerohanian Sapta Darma, berdasarkan data yang dikumpulkan Persada hingga tahun 2011 tercatat ada 190 orang. Data tersebut merupakan warga yang masih aktif sujudan dan masih banyak yang belum terdata.
Suharjo, Pelaksana tugas Ketua Perhimpunan Warga Sapta Darma (Persada) Brebes mengatakan hal tersebut dalam diskusi program pemberdayaan ekonomi dan inklusi sosial bagi penghayat kepercayaan di Jawa Tengah, di Hotel Anggraeni, Brebes, Jumat (3/4) kemarin. "Pendataan ini sangat penting untuk memastikan bahwa warga Sapta Darma terlayani haknya tanpa mendapatkan diskriminasi terutama dari pejabat pemerintahan," lanjut Suharjo.

Untuk tempat sujudan atau biasa disebut Sanggar, di Kabupaten Brebes saat ini setidaknya ada 5 sanggar yang biasa digunakan untuk sujudan. Kelimanya adalah Sanggar Candi Busono Sigentong, Sengon, Losari, Sitanggal dan Kaliwlingi. Selain Sanggar Sitanggal, empat sanggar lainnya sudah permanen.

Peneliti dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Khoirul Anwar mengatakan bahwa kasus penolakan almarhumah Ibu Jaodah, salah satu warga Sapta Darma akhir tahun 2014 lalu cukup memberikan dampak luas. "Pemerintah mulai berubah dalam pelayanan terhadap warga penghayat. Dulu, mereka sangat dibatasi aksesnya. Tetapi advokasi terhadap kasus Ibu Jaodah, membuat agak sedikit perubahan," terang Awang, sapaan akrabnya

Meski begitu, ada juga imbas sosial dari kasus tersebut. Masyarakat mulai mengenali warga Sapta Darma. Bagi mereka yang kurang peka terhadap keragaman, maka stigma dan diskriminasi akan dengan mudah dialamatkan kepada mereka. "Namun, bagi masyarakat yang sensitif terhadap perbedaan, keragaman identitas keyakinan itu pasti akan dianggap sebagai kewajaran belaka. Disinilah tuntutan untuk menenggang perbedaan itu semakin diperlukan," ujar pria kelahiran Brebes itu menegaskan. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4206

Harusnya agama lokal itu dilestarikan, bukan dihancurkan

Link:

Blog Archive