Saturday, April 11, 2015

Jokowi berusaha "menghindari" Megawati sampai Pindah ke Bogor, tapi Dibuntuti Terus!


BBC London:
Megawati tegaskan posisi PDIP atas Pemerintah Jokowi

9 April 2015

Pemilihan itu berlangsung beberapa saat setelah pidatonya yang tampak menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama dalam jalannya pemerintahan.

Sementara Presiden Jokowi, berbeda dengan saat Munas 2014, hanya hadir tanpa menyampaikan pidato.

Kongres PDIP yang akan berlangsung hingga 12 April itu diselenggarakan dengan asumsi sejak awal untuk mengukuhkan kepemimpinan Megawati Soekarnoputeri yang menjadi calon tunggal, kendati belakangan oleh beberapa kalangan dipandang mulai surut pamornya, terutama dengan naiknya popularitas Jokowi.

Dalam apa yang ia sebut sendiri 'pidato politik' saat membuka Kongres, Megawati bagai meneguhkan posisinya dan partainya terhadap pemerintah.

Pidato pembukaan Kongres oleh Megawati mengangkat hubungan antara partai dan pemerintahan Jokowi.
"Kesadaran awal ketika saya memberikan mandat kepada Bapak Jokowi, adalah komitmen ideologis yang berpangkal dari kepemimpinan Trisakti... Konsepsi Trisakti inilah yang menjadi kepentingan utama partai," Megawati mengawali paparannya tentang hubungan antara dia, partainya serta Jokowi dan pemerintahannya.

"Pekerjaan rumah yang lainnya adalah bagaimana mengatur mekanisme kerja antara pemerintah dan partai politik pengusungnya."

Presiden sebagai calon partai

Bu Mega tidak bisa berpikir hanya untuk dirinya dan partainya. Dia harus memikirkan negara ini, masyarakat Indonesia ini.
Siti Zuhro

Dengan tiga kali menekankan kata 'sangat', Megawati menyebutkan, "Landasan konstitusionalnya pun sangat, sangat, sangat jelas: UU No 42 tahun 2008," sambil menyebutkan pencalonan presiden dan wakil presiden dilakukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
"Itulah mekanismenya, jadi bukanlah secara indenpenden."

"Hukum demokrasilah yang mengatur itu, dan bahwa presiden serta wakil presiden memang sudah sewajarnya dan sangat wajar menjalankan garis kebijakan politik Partai," tegas Megawati, disambut sorak sorai hadirin peserta Kongres.

Presiden Joko Widodo kali ini hadir tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato

Hal lain yang membayangi kongres ke IV ini adalah pandangan banyak kalangan bahwa PDIP sebagai partai pemerintah justru telah merongrong pemerintahan Jokowi dengan berbagai langkah politik yang ganjil, yang puncaknya adalah dalam pencalonan Budi Gunawan sebagai calon Wakapolri yang diikuti berbagai langkah yang dianggap kriminalisasi KPK.

Berbagai kalangan masyarakat sipil menengarai, PDIP yang seharusnya mendukung malah justru tampak menjadi beban pemerintah Jokowi.

Sebagian pidato di Kongres ini seakan diarahkan Megawati kepada berbagai kalangan yang kritis terhadap partainya terkait pemerintahan Jokowi.

Misalnya bagian berikut: "... ada sementara pihak, selalu mengatas-namakan independensi, selalu mengatakan bahwa partai adalah beban demokrasi."

Ada juga bagian: "... pada saat bersamaan muncullah gerakan deparpolisasi. Sentimen anti partai pun makin lantang diteriakkan dalam kerumunan liberisasi politik. Saya yakin bahwa proses deparpolisasi ini tidak berdiri sendiri. Di sana ada simbiose kekuatan anti partai dengan kekuatan modal yang berhadapan dengan gerakan berdiri di atas kaki sendiri."

"Mereka adalah kaum oportunis. Mereka tidak mau bekerja keras membangun partai. Mereka tidak mau mengorganisasir rakyat. Mereka maunya menunggu dan menunggu dan selanjutnya menyalib di tikungan."

Harapan akan kenegarawaan Megawati

Sebelumnya, pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro berpandangan, Megawati dan kalangan partai tidak perlu menganggap Jokowi sebagai ancaman bagi kepemimpinannya di PDIP.

"Presiden Jokowi justru mempelopori suatu prinsip bahwa yang menjabat di pemerintahan tidak boleh menjabat di partai," kata Siti Zuhro.
Adapun tentang ketegangan Megawati dan PDIP dengan Jokowi dan pemerintahannya, Siti Zuhro menganggap faktornya adalah komunikasi antara Jokowi dan Megawati yang tampaknya belakangan tidak terlalu mulus.

Selain dari itu,kata Siti Zuhro, "Bu Mega tidak bisa berpikir hanya untuk dirinya dan partainya. Dia harus memikirkan negara ini, masyarakat Indonesia ini."

Zuhro menambahkan karena presiden Jokowi baru saja memimpin maka saatnya Megawati menunjukkan kenegarawanannya dengan mendukung kader partainya untuk mewujudkan Nawa Cita."

"Saya yakin Bu Mega mesti dalam tataran negara bangsa. Jika begitu, maka asumsi bahwa Bu Mega terlalu dominan dan terlalu mengatrur pada (pemeruintahan) Jokowi tidak perlu muncul."

Siti Zuhro mengingatkan berbagai persoalan antara PDIP dan presiden Jokowi seyogyanya dituntaskan secara internal dan tidak diumbar kepada umum.

Bahkan, tambah Zuhro, Megawati sebagai Ketua Umum yang sudah berpengalaman dan dipatuhi kader malah bisa mengambil peran untuk meredam ketegangan antara partai dengan pemerintah Jokowi.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berit...9_kongres_pdip


Megawati Terus Dikte Arah Pemerintahan Jokowi
11 April 2015

KONFRONTASI-Saat menyampaikan pidato dalam kongres PDIP, Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar memenuhi janji politiknya semasa kampanye. Jokowi, yang merupakan kader partai PDIP juga diingatkan untuk memegang teguh janji politiknya yang merupakan ikatan suci dengan rakyat.

"Pegang teguh konstitusi. Berpijaklah pada konstitusi. Itu jalan lurus kenegaraan. Penuhi janji kampanye, itu ikatan suci dengan rakyat," kata Megawati saat menyampaikan pidato politiknya di pembukaan Kongres ke-IV PDIP di Bali, Kamis 9 April 2015.

Selain itu, Megawati meminta kepada presiden dan wakil presiden hendaknya mengikuti kehendak partai politik pengusung. "Sudah sewajarnya presiden dan wakil presiden menjalankan garis politik partai," ujar Mega.

Menanggapi isi pidato Megawati kepada Jokowi, pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, mengatakan bahwa Megawati malah terkesan sedang mengajari sang presiden dalam berpolitik.

Padahal, katanya, Megawati harusnya menyadari kalau di hadapannya (Jokowi) saat ini adalah orang nomor satu di Indonesia. "Mega tampaknya mau terus mendikte arah haluan dari pemerintahan sekarang," ujarnya dilansir VIVA.co.id, Kamis 9 April 2015.

Menurut Salamuddin, sudah seharusnya pimpinan partai politik manapun dapat memahami konsep mendasarnya, yaitu setiap kepentingan partai tetap ada di bawah presiden.

"Jika ini terus dibiarkan terjadi, akan mengorbankan kepentingan publik dan presiden yang menjadi anggota kader pun lebih mengutamakan kepentingan partainya dibandingkan rakyat banyak. Ini, tidak boleh terjadi di pemerintahan sekarang dan seterusnya," tegasnya.[
http://www.konfrontasi.com/content/p...intahan-jokowi


Presiden Jokowi berusaha "menghindari" Megawati sampai Pindah ke Bogor, tapi Dibuntuti Terus!
Quote:
Pindah ke Istana Bogor, Jokowi Jauhi Teuku Umar?
Minggu, 15 Februari 2015 | 09:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana Presiden Joko Widodo pindah dari Istana Negara Jakarta, ke Istana Bogor, dinilai bukan sekadar perpindahan biasa. Dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyebut, ada maksud dan makna tertentu yang hendak disampaikan Presiden melalui perpindahannya itu.

"Rencana kepindahan Jokowi ke Istana Bogor kan simbol komunikasi khas Jokowi, berencana menjauhi Teuku Umar," kata dia kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2015).

Teuku Umar sendiri adalah nama jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, yang merupakan kediaman Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Letaknya tak begitu jauh dari Istana Negara di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, tempat Jokowi tinggal dan menjalankan tugasnya sehari-hari.

Jika diukur dari Google Maps, kedua tempat itu hanya berjarak 4 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 9 menit dengan menggunakan mobil. Megawati sendiri terakhir kali terpantau mengunjungi Presiden di Istana pada Selasa (3/2/2015) lalu bersama sejumlah elite parpol Koalisi Indonesia Hebat.

Hendri mengatakan, keputusan untuk menjauh dari Megawati itu tidak terlepas dari tekanan yang diberikannya terhadap Jokowi terkait pelantikan Budi Gunawan sebagai kepala Polri. Jokowi pun mengakui, pertemuan terakhir dengan Megawati di Istana memang membicarakan masalah itu.

"Nah, semalam (Jumat) di Solo (Munas Hanura) dua-duanya (Jokowi dan Megawati) kena sorot TV duduk sebelahan, tapi enggak teguran," ujar Hendri.

Lebih jauh, Hendri memprediksi, bisa jadi tujuan Jokowi pindah ke Bogor adalah untuk merapat ke Hambalang, yang merupakan kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Terlebih lagi, sebelumnya Jokowi sudah menyambut rivalnya pada Pilpres 2014 lalu itu di Istana Bogor.

Tak seperti pertemuan dengan Megawati yang terkesan ditutup-tutupi, pertemuan dengan Prabowo berlangsung terbuka untuk publik. Seusai pertemuan empat mata, keduanya melakukan konferensi pers sambil beberapa kali menebar senyum dan keakraban. Keduanya juga tak menampik sempat membicarakan polemik pelantikan Budi Gunawan. "Atau bahkan mungkin mendekati Cikeas (kediaman Susilo Bambang Yudhoyono)," ucap Hendri.

Jokowi sendiri belum memastikan apakah dirinya akan lebih banyak berkantor di Istana Bogor atau Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Namun, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto sebelumnya menyebut bahwa barang-barang pribadi Presiden sudah dipindahkan ke Istana Bogor.

"Hanya barang-barang personal, ya, kayak orang mendekorasi rumah," ujar Andi di Istana Kepresidenan, Rabu
http://nasional.kompas.com/read/2015...hi.Teuku.Umar.


Megawati Berencana Tinggal di Bogor, Membuntuti Jokowi?
Senin, 23 Februari 2015 - 23:23:02

[img]http://pmsn.teropongsenayan.com/foto_berita/201502/23/medium_10HUT%20PDIP%20(indra)%20(19).JPG[/img]
Nene Megawati

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berencana tinggal di Batutulis, Bogor, Jawa Barat. Hal itu dibenarkan politisi PDIP Masinton Pasaribu.

Namun, anggota Komisi III DPR ini membantah jika kepindahan Megawati sebagai upaya untuk membuntuti Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Ya nggak mungkinlah membuntuti Jokowi," ujar Masinton kepada TeropongSenayan, Senin (23/2/2015).

Masinton mengungkapkan, Presiden RI ke-5 itu memiliki tiga rumah, di antaranya di Teuku Umar Jakarta Pusat, Kebagusan Jakarta Selatan, dan di Batutulis.

"Jauh sebelum pak Jokowi tinggal di Bogor, bu Mega sudah sering tinggal di Batutulis," paparnya.

Masinton menilai publik terlalu sensitif terhadap berbagai isu politik. Maka wajar saja jika rencana kepindahan Megawati ke Bogor juga dikaitkan dengan Jokowi.
http://pmsn.teropongsenayan.com/6683...buntuti-jokowi


Megawati Dipastikan akan Susul Jokowi Tinggal di Bogor
Senin, 23 Februari 2015, 15:39 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR -- Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dikabarkan akan lebih sering tinggal di Bogor.

Ketua DPD PDIP Kota Bogor Untung W Maryono membenarkan adanya kabar Megawati bakal tinggal di Bogor. Ia menjelaskan, hal itu disampaikan kepadanya langsung. "Ya betah lah yah. Jadi mau di ekspos juga emang kelihatannya ibu lebih nyaman di Bogor, " katanya saat dihubungi Republika, Ahad (22/2).

Meski demikian, Untung mengungkapkan, sebelum Jokowi menjadi presiden, ketua umumnya itu memang lebih sering dan merasa nyaman di lokasi Istana Batu Tulis. "Selain itu, saya sudah sampaikan ke Pemerintah Kota Bogor. untuk memperhatikan kawasan Batu Tulis," ujarnya.

Ketua DPRD Kota Bogor ini menyampaikan, tinggalnya Megawati di Bogor bukan merupakan bentuk kepindahan dari kediaman lamanya. "Hanya lebih nyaman loh. Bukan pindah. Kalau pindah ya pasti barangnya dipindahin semua," katanya mengakhiri.
http://www.republika.co.id/berita/na...nggal-di-bogor


-----------------------------------



Makanya, Jok! Kalo jadi Lelaki beristeri itu, jangan sekali-kali memberi janji dan harapan sama janda.

Blog Archive