Monday, April 6, 2015

Kalau Ada Reformasi/Revolusi Lagi, Pemicunya Bukan Figur Jokowi, tapi Harga Beras?


Duh, Mafia Sudah Kepung Perekonomian Indonesia

5 April 2015, 17:43

BeritaPrima, Jakarta – Indonesia dinilai telah dikepung oleh mafia, mulai dari mafia migas, mafia daging, mafia beras hingga mafia-mafia lainnya. Buktinya, harga bahan pokok cenderung tidak berubah kendati harga BBM sudah turun.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengaku masih penasaran dengan harga-harga jual bahan pokok yang terengaruh terhadap pergerakan harga BBM.

Andy menjelaskan, ketika pemerintah menaikan harga BBM, otomatis harga bahan pokok lainnya ikut naik. Namun, ketika harga BBM turun, hal tersebut tidak diikuti oleh trennya oleh pasar.

"Strategi kita salah," kata Andy di Bumbu Desa Cikini, Jakarta, Minggu (5/4/2015).

Dirinya mengungkapkan, fenomena yang tidak seimbang ini lantaran Indonesia telah lama dikuasai para mafia migas yang bukan saja berada di sektor minyak dan gas (migas), bahkan sektor lainpun ada peranan mafia.

"Minyak turun, komoditas tidak ikut turun. Berarti kan di Indonesia ini dituntun hidupnya mafia, mulai dari daging, bahkan mafia migas," ujarnya.

Beberapa waktu lalu Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel juga mengungkapkan soal keberadaan mafia beras. Presiden Jokowi bahkan sempat turun tangan ke Bulog terkait praktik mafia ini. Tetapi sayang sampai saat ini problem mafia ini belum juga teratasi
http://ekubis.beritaprima.com/duh-ma...ian-indonesia/


Ada 5 Sampai 8 Pedagang Besar Yang Kendalikan Harga Beras
24 Februari 2015, 17:07

BeritaPrima, Jakarta – Pasar komoditas beras sudah sejak lama cenderung oligopolistik alias dikuasai oleh segelintir pedagang besar. Sehingga rawan terjadi penimbunan yang menyebabkan harganya melambung tinggi.

Ekonom dari IPMI International Business School Jimmy M Rifai Gani yang juga Mantan Direktur Utama PT Sarinah menyebutkan, ada sekitar 5-8 pedagang beras berskala besar yang mampu mempengaruhi harga beras di dalam negeri.

"Jika pemain beras berskala besar ini berkolusi dan menahan distribusi beras ke masyarakat, otomatis pasar akan terpengaruh. Harganya bisa naik signifikan," kata Executive & CEO IPMI Jimmy Gani dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2/2015).

Terkait para pemain besar bisnis beras, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel sempat menuding ada mafia beras yang menyebabkan harga beras melonjak hingga 30% di Jakarta dan sekitarnya.

Harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang sempat menyentuh Rp 12.000 per kilogram, padahal hitungan Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog seharusnya dijual Rp 7.400 per kilogram, dari beras Operasi Pasar (OP). Melonjaknya harga ini diduga ada aksi spekulasi pedagang yang memanfaatkan kondisi pasokan beras yang terbatas jelang Panen Raya.

Jimmy berpendapat, meski harga beras naik signifikan, pemerintah belum perlu melakukan impor beras karena stok beras di Bulog cukup untuk menstabilkan harga di pasar. Apalagi, impor komoditas beras akan merugikan harga di tingkat petani dan memperlemah daya saing beras lokal.

Ia menambahkan bahwa beras yang diimpor hanya untuk keperluan tertentu dan jenis produknya tidak bisa dihasilkan di Tanah Air.

"Sarinah juga importir beras. Tapi beras yang diimpor Sarinah jenisnya khusus, seperti Japonica Rice asal Jepang untuk pasar terbatas. Beras ini berbeda dengan yang dikonsumsi masyarakat umum dan jenisnya tidak ada di Indonesia," ujar Lulusan Master of Public Administration, John F Kennedy School of Government Harvard University, Amerika Serikat ini.
http://ekubis.beritaprima.com/ada-5-...n-harga-beras/


JK: Kalau Kita Kirim Banyak Beras, Matilah Itu Mafia
24 Februari 2015, 13:29

BeritaPrima, Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mempersilakan kepada para oknum penimbun beras atau mafia beras untuk melakukan penimbun beras yang banyak. Menurut dia, cara penimbunan yang dilakukan tersebut akan menjadi sia-sia.

JK menuturkan, dalam waktu dekat ini pemerintah akan melakukan pengalokasian beras ke pasar dalam jumlah yang cukup besar.

"Kalau mafia beras, silakan timbun beras, nanti kalau kita kirim banyak beras ke besar, matilah itu para mafia, yang mereka timbun itu sedikit," kata JK di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (24/2/2015).

Menurut JK, pemerintah melalui Perum Bulog masih memiliki stok yang banyak untuk memenuhi kebutuhan dan menstabilkan harga di pasar.

Belum lagi, tambah JK, beberapa bulan ke depan, petani beras akan sudah memasuki bulan panen. Oleh karena itu, dirinya percaya jika para mafia beras melakukan penimbunan, maka akan sia-sia.

"Sekarang kita masih punya stok di Bulog saja, karena bulan depan bulan panen, jangan khawatir siapa yang minta kita kasih, Maret itu bulannya panen," tukas dia.
http://ekubis.beritaprima.com/jk-kal...lah-itu-mafia/

Harga beras dan kebutuhan pokok mulau menggila se antero Tanah Air!
Quote: KPPU: Harga Beras Sudah Enggak Waras
28 Februari 2015, 17:19

BeritaPrima, Jakarta – Peranan Badan Urusan Logisitik (Bulog) harus diperkuat guna menekan kenaikan harga beras di pasaran. Harga beras yang beredar saat ini di pasaran dinilai sudah dalam tahap tidak waras.

""Kalau ditanya waras enggak harga beras sekarang? Saya bilang enggak waras. Oleh karena itu, perlunya memperkuat bulog sebagai stabilisator," kata Wakil Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Sarkawi Rauf dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya Fm di Jakarta, Sabtu (28/2/2015).

Pihaknya menilai saat ini peran Bulog sebagai stabilisator semakin hari sangat menipis. Sehingga ini memberikan celah dan dimanfaatkan oleh pedagang besar.

"Para pedagang besar ini lebih kuat dari Bulog. Ini yang harus dipikirkan bagaimananya," kata dia.

Di tempat yang sama, Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis (Bapokstra) Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Robert J Bintaryo mengatakan, pihak Kemendag akan melakukan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan berat agar tetap stabil.

"Peran Kemendag dalam undang-undang jelas yaitu menjaga pasokan. Kami juga telah melakukan perbaikan-perbaikan. Dan kami juga melakukan pemantauan dengan dinas di sejumlah daerah, dan juga menggandeng bulog," tutup dia.
http://ekubis.beritaprima.com/kppu-h...-enggak-waras/


Melonjak 30%, Harga Beras di DKI 100% di Atas Internasional
Senin, 23/02/2015 13:46 WIB

Jakarta -Melonjaknya harga beras di DKI Jakarta saat ini sudah di atas Rp 10.000/Kg-11.000/kg atau melonjak 30% dari posisi akhir bulan lalu. Harga beras ini sudah 100% di atas harga internasional yang hanya Rp 5.000-5.500/Kg.

Hal ini disampaikan oleh seorang pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur yang tak mau disebutkan namanya kepada detikFinance, Senin (23/2/2015)

"Harga beras internasional cuma US$ 400-an/ton, setara Rp 5.000/Kg. Kita luar biasa mahalnya," kata pedagang tersebut.

Ia mencontohkan beras impor asal Vietnam kelas medium dengan kualitas broken 15% hanya US$ 400/ton atau hanya Rp 5.000/kg. Bila sudah sampai di Indonesia harganya hanya Rp 6.000/kg, sudah termasuk bea masuk dan biaya angkut. Sedangkan untuk beras premium harganya tak jauh beda hanya selisih lebih mahal US$ 20-25 per ton, atau selisih lebih mahal Rp 200-300/kg dari beras medium.

"Apalagi untuk beras selundupan paling hanya Rp 5.500/kg sampai Indonesia," katanya.

Menurutnya dengan harga beras di Indonesia sangat tinggi, maka praktik penyelundupan beras ke dalam negeri sangat berpotensi besar.

"Beras kita di Indonesia mahal sekali, di Malaysia dan Singapura mereka biasa impor. Itu bisa masuk ke pulau-pulau di Sumatera," katanya.

Ia mengaku sebagai pedagang tak bisa berbuat banyak karena pasokan beras di dalam negeri di sentra-sentra produksi masih terbatas karena musim panen yang mundur dan belum merata. Sehingga memicu kenaikan harga yang terus terjadi khususnya di Pasar Cipinang. Saat ini pasokan beras ke Pasar Cipinang hanya 1.000-1.500 ton per hari, padahal normalnya Rp 3.000 ton per hari.

"Sekarang harga beras medium Rp 10.000/kg, kalau beras premium Rp 11.000/kg. Padahal bulan lalu masih Rp 8.000/kg, ketika masih suplai bagus terutama dari Bulog, waktu itu bahkan ada beras Rp 7.000-an/kg," katanya.
http://finance.detik.com/read/2015/0...-internasional

Harga Beras di Indonesia 70% Lebih Mahal dari Internasional
01 April 2015 | 09:24:14

JurnalJakarta.com - Pengamat ekonomi Didik J Rachbini mengatakan, Harga beras di Indonesia lebih mahal 70% dari harga internasional, sehingga selalu menggoda para mafia beras untuk mengimpor. Disparitas yang besar ini perlu segera diperkecil dengan memperbaiki pengelolaan prapanen dan pascapanen agar harga beras dalam negeri tidak membebani rakyat. Selain itu, disparitas yang rendah mengurangi daya tarik para mafia beras yang selama ini menangguk untung dari impor beras hingga puluhan triliun rupiah setahun.

Ia berharap Pemerintah harus menaikkan produksi beras dengan membenahi masalah on farm (budidaya) yang menyebabkan rendahnya produktivitas, baik karena buruknya bibit, rusaknya saluran irigasi, mahalnya pupuk, hingga rendahnya teknologi. Pembenahan of f farm (pascapanen) juga harus dilakukan, mulai dari menurunkan tingkat kehilangan hasil yang sekitar 15% akibat mesin penggilingan tua hingga memberantas mafia yang telah 'menguasai' sejumlah oknum Perum Bulog.

Distorsi harga beras bisa terlihat pada Februari 2015, yang secara umum terjadi deflasi sebesar 0,36%, namun harga beras di Indonesia naik. Kemendag mencatat, harga pada Februari mencapai Rp 9.767 per kg, meningkat 3% dibanding pada Januari yang sekitarRp 9.494 per kg. Padahal, berdasarkan data Index Mundi, harga beras internasional turun 0,04% dari US$ 409,68 per ton menjadi US$ 409,50 per ton.

Menurut dia harga beras di Indonesia sangat mahal dan produktivitas tanaman padi rendah akibat berbagai masalah dari hulu hingga hilir. Akibatnya, harga beras di dalam negeri jauh lebih mahal dari negara sekitar.

"Harga beras premium (broken 5%) internasional pada Februari 2015 hanya US$ 400 per ton atau setara Rp 6.300 per kg di pedagang besar di Indonesia, dengan asumsi margin 20%. Namun, harga beras di dalam negeri tinggi, 70% di atas harga dunia. Ekonomi politik beras sudah mengalami distorsi atau menyimpang jauh, yakni harga beras sudah hampir dua kali lipat dibandingkan harga internasional di negara sekitar kita," katanya di Jakarta, Selasa (31/3).

Rendahnya produktivitas di Indonesia karena masalah dasar yang terletak pada sistem produksi yang rapuh. Ini karena hancurnya sistem irigasi, sistem penyuluhan desa, pascapanen, hingga degradasi kesuburan tanah dan alih fungsi lahan. Proteksi yang dilakukan tidak berhasil menjadi insentif produksi dan pendorong petani berproduksi maksimal untuk mencapai swasembada beras.

Kebijakan harga tinggi di dalam negeri tidak menjadi dorongan bagi petani untuk berproduksi maksimal. Dia menilai, kebijakan pangan baru hanya jargon yang ternyata tidak bergigi dan menjadi macan ompong berhadapan dengan kekuatan pedagang beras. Pedagang mempunyai peluang mendongkrak harga saat pasokan turun seperti kasus yang terjadi pada Februari lalu.

"Pasokan beras kurang, tetapi pemerintah deklarasi tidak impor. Padahal sebenarnya pasokan sudah kurang sejak akhir tahun 2014. Stok Bulog itu batas amannya 2 juta ton (+/- 10%), namun pada akhir 2014 hanya 1,8 juta ton dan Februari 2015 turun menjadi 1,4 juta ton," ujar Didik.

Kondisi di lapangan pasokan beras juga berkurang drastis, lanjut dia, namun tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah, dalam hal ini Bulog, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Hal ini bisa dilihat pada stok di Pasar Induk Cipinang Jakarta pada Februari lalu yang hanya 23-24 ribu ton dan pemasukan harian 1.700 ton. Padahal, batas aman stok 30-35 ribu ton dan pemasukan harian 2.500-3.000 ton.
http://jurnaljakarta.com/berita-4242...rnasional.html


Mahal dan Langkanya kebutuhan pokok bisa jadi pemicu kerusuhan sosial, bahkan Revolusi?
Quote: Kerusuhan di Mesir, Revolusi Mesir Gara-gara Roti
Selasa, 1 Februari 2011 19:52 WIB

TRIBUNNEWS.COM - Munif Attamimi, Mahasiswa Pasca Sarjana Islamic International University Jurusan Islamic Thought asal Situbondo, Jawa Timur, mengisahkan kepada Tribunnews.com tentang sebab musabab revolusi yang sedang terjadi di Mesir.
Menurut Munif protes besar-besaran yang dilakukan rakyat Mesir faktor utamanya karena soal ekonomi terkait dengan harga-harga bahan pokok yang melonjak tinggi.

"Masalah utamanya adalah soal perut, ketika orang sudah mulai merasa kelaparan maka yang terjadi adalah sesuatu yang anarkis," ujar Munif kepada tribunnews.com, Selasa (1/2).

Pekan lalu Munif masih berada di Kairo untuk bertemu dengan rekan-rekannya yang kuliah di Universitas Al Azhar Kairo. Munif terpaksa meninggalkan Kairo dan kembali ke Pakistan karena suasana kisruh di Kairo.

Lebih lanjut, Munif menjelaskan revolusi Mesir itu tepatnya bisa dikatakan gara-gara roti yang menjadi makanan pokok rakyat negeri Fir'aun tersebut.

"Orang Mesir itu makanan utamanya roti, kenapa mereka sekarang marah?karena harga gandum yang jadi bahan utama Roti mahal. Wajar saja jika mereka marah terhadap Husni Mubarok dan menuntut mundur," ujar Munif.

Munif menambahkan kondisi mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir saat ini masih dalam kondisi relatif aman. Mereka diungsikan ke empat titik yang dianggap aman dari keributan.

"Mahasiswa-mahasiswa Indonesia kebanyakan mengungsi di kantor PPMI, kantor KBRI, Konjen dan kantor sekretariat kerukunan warga Jawa Tengah. Insya Allah itu tempat yang aman bagi mereka," ujar Munif.
http://www.tribunnews.com/internasio...gara-gara-roti


Kebutuhan Pokok Mahal dan tak terjangkau Rakyat:
Awas, Tragedi 1998 Bisa Terulang!
11 Maret 2015 22:59 WIB

Pemerintah patut merespons serius ancaman pengulangan krisis dan tragedi 1998. Sebab, banyak indikasi sudah muncul dan mengarah ke keresahan hingga kerusuhan sosial. Indikasi tersebut, antara lain, kurs rupiah kian melemah, harga kebutuhan pokok melambung tinggi.

Demikian kumpulan pendapat Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan, Ketua DPR Setya Novanto, anggota DPR Jhon Kenedy Aziz, pengamat politik Boni Hargens, dan mantan aktivis 1998 Sarbini, secara terpisah, di Jakarta, kemarin.

Taufik Kurniawan mewanti-wanti pemerintah agar segera megantisipasi kejatuhan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 13.000 per dolar AS. Kalau kurs rupiah jatuh lebih dalam, dia khawatir gejolak sosial seperti tahun 1998 terulang.

"Kurs jangan sampai lebih dari Rp 15.000 per dolar. Bahaya itu. Kita kadang-kadang menganggap itu biasa. Tapi nanti lama-lama pasar shock sehingga terjadi rush (kepanikan besar-besaran)," papar Taufik.

Pemerintah juga perlu mewaspadai gini ratio atau rasio kesenjangan sosial yang sudah di angka 4,1. Gini ratio rawan bila mencapai 4,4. Itu bisa mendorong munculnya krisis dan konflik sosial.

"Di Timur Tengah, gini ratio 4,4 sudah langsung menimbulkan krisis dan konflik sosial. Jadi, gini ratio kita yang sudah 4,1 sungguh harus diwaspadai," kata Taufik menegaskan.

Politikus PAN itu meminta Bank Indonesia (BI) mencegah fluktuasi kurs rupiah yang berpotensi menimbulkan krisis ekonomi baru. Kondisi tersebut juga harus diantisipasi tim ekonomi kabinet. Taufik juga mengingatkan pemerintah agar memperhatikan utang luar negeri dan swasta.

"Saat jatuh tempo, utang luar negeri ini jangan sampai bertambah lagi — terutama di pihak swasta — karena pasti menekan nilai tukar rupiah lagi," ucapnya. Setya Novanto juga mengingatkan pemerintah agar waspada terhadap berbagai kondisi saat ini yang mengarah menggo­yahkan stabilitas nasional. "Pemerintah harus segera mencari solusi terbaik," katanya.
Setya menambahkan, pemerintah harus mencari solusi atas depresiasi rupiah dan pelonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Soal depresiasi rupiah yang sudah menyentuh level Rp 13.000 per dolar AS, Setya menilai itu ber­implikasi terhadap harga pangan.

"Ini (depresiasi rupiah) tak bisa dibiarkan. Kita harapkan Presiden segera mencari solusinya," kata Setya.

Dia juga mengharapkan semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Dia mengingatkan, semua pihak tak ingin tragedi 1998 terulang sebagaimana perkiraan berbagai kalangan.
(den/gan/rul/jok)

Pemicu Tragedi Kerusuhan 1998

  • Kesenjangan sosial tinggi

  • Rupiah Mencapai 17.000 per dolar AS

  • Harga sembako Melonjak

  • Marak kerusuhan sosial

  • Krisis kepercayaan pada pemerintah

  • Pelarian modal besar-besaran (flight for safety) karena kepanikan politik lebih dahsyat dari pelarian modal yang dipicu hanya oleh pertimbangan ekonomi (flight for quality)

  • Kerusuhan dan aksi demonstrasi besar-besaran hingga berujung kejatuhan presiden.




----------------------------------

Bagi peneliti dan ekonom yang pernah belajar tabel input-output Indonesia yang diterbitkan BPS, pasti paham betul bahwa sektor kunci utama perekonomian nasional Indonesia itu terletak di sektor produksi BERAS. Beras memiliki 'linkage' paling komplek dan sangat tinggi kepada hampir semua sektor produksi di negara ini. Makanya, bila mau mengacaukan perekonomian Indonesia itu, sebenarnya bukan dengan "memainkan kurs rupiah", tetapi mainkanlah harga beras. Sebab orang Indonesia itu boleh tidak bisa beli rumah, mobil, baju atau bahkan tak sanggup menyekolahkan anak-anaknya, asal saja harga beras masih terjangkau untuk bisa dibeli. Manakala harga beras terlau mahal, maka siap-siap saja perstiwa seperti 1965, 1998 akan terulang kembali. Contoh paling baru, revolusi Mesir itu, yang dipicu gara-gara harga roti mahal sekali sehingga tak terjangkau lagi oleh kebanyakan rakyatnya.

Maka kalau betul harga beras di negeri ini hanya dikendalikan oleh kartel yang terdiri dari 5-8 orang konglomerat beras saja, seharusnya diteliti betul oleh aparat keamanan, agar apa maunya dengan mempermainkan harga beras belakangan ini. Kalau ada indikasi membahayakan kepentingan nasional, aaa dilibas aja sebelum kondisi semakin parah.



Blog Archive