Friday, April 24, 2015

Karyawan PLN melawan rencana Lease Back pembangkit listrik


Bekasimedia – Andy Wijaya, seorang lulusan SMK bidang Teknologi dan Industri Jurusan Listrik membuat surat terbuka di media sosial facebook yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Isi suratnya perihal ketidaksetujuannya terhadap langkah pemerintah yang akan melakukan privatisasi listrik.

Andy yang 12 tahun lebih bekerja di anak perusahaan PLN, mengungkapkan bahwa listrik sangat vital peranannya dalam pembangunan bangsa. Dulu zaman penjajahan dikuasai oleh Belanda. Setelah merdeka, pembangkit listrik dinasionalisasi lalu dipergunakan untuk kemakmuran bangsa.

Berikut ini petikan Surat Terbuka Andy Wijaya,

Pak Jokowi yang tegas,

Beberapa minggu kebelakang, saya dan rekan-rekan pejuang kelistrikan sedikit terkejut dengan dengan berita yang menyebutkan bahwa pemerintah berniat untuk menjadikan PT. PLN Persero hanya menjadi perusahaan servis saja atau hanya mengurusi transmisi dan distribusi saja. Sistem kelistrikan di Indonesia dibagai dalam 3 sistem yaitu pembangkitan, transmisi dan distribusi. Dan tahukan Bapak, harga produksi listrik dalam sistem kelistrikan di indonesia, 80-90% ditentukan pada pembangkitan. Yang artinya bila negara menjadikan PT. PLN Persero sebagai perusahaan servis, maka PT. PLN Persero tidak bisa mengontrol 80-90% harga produksi listrik. Apakah ada jaminan negara bisa
mengontrolnya? Selama ini yang negara lakukan adalah mengontrol harga jual ke masyarakat, tetapi harga produksi listrik tidak, bagaimana bila nanti 80-90% harga produksi listrik di serahkan ke swasta??

Mungkin ada yang beranggapan bahwa bisnis telekomunikasi setelah timbul banyak pesaing, tarifnya menjadi turun. Tetapi Bisnis kelistrikan jauh berbeda dengan bisnis yang lain, harga produksi di sisi pembangkitan terdiri dari 85% merupakan
biaya bahan bakar, 10 % merupakan biaya pemeliharaan dan 5% sisanya adalah biaya kepegawaian. Komponen harga tersebut belum ditambah ditambah keuntungan dan investasi.

Dan tentu saja, pihak swasta tidak mau rugi dan ingin
secepatnya investasi mereka kembali, sehingga silahkan dihitung dan dikira-kira sendiri berapa harga listrik yang dihasilkan pihak swasta nanti. Kalau Pak Jokowi tidak percaya, silahkan Bapak belajar dari negara tetangga kita, Philipina, dimana setelah badan usaha milik negara Philipina dibidang kelistrikan menjadi perusahaan servis saja, berapa
harga jual listrik disana sekarang. Harga jual listrik ke
masyarakat naik 3-4 kali lipat dibanding ketika PLN Philipina memegang sistem kelistrikan secara utuh.

Inilah petikan surat terbuka Andy untuk Presiden Jokowi. Dalam suratnya, Andy juga menyoroti alasan ketiadaan dana pemerintah dan PLN untuk membangun pembangkit listrik 35.000 MW.

"Alasan yang lain adalah karena kesulitan keuangan PT. PLN Persero dan negara sehingga tidak mampu untuk menjalankan pembangunan 35.000 mw dimana ditengarai membutuhkan dana 1200 triliun rupiah. Pak Jokowi, saya salah satu orang yang selalu mengikuti debat terbuka selama 5 kali antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Ada satu yang
masih terbekas dalam ingatan saya, yaitu ketika ditanyakan oleh lawan Bapak, bagaimana dengan masalah pendanaan ketika Pak Jokowi menjalankan program-program ketika kampanye, Bapak berkata dengan tegas dan yakin, bahwa "Uangnya ada, tinggal kita mau kerja atau tidak." Sekarang
untuk pembangunan 35000 mw, dananya dimana Pak? Sudah ada dimana? Apakah dengan cara menyewakan pembangkit-pembangkit Cina yang sekarang dioperasikan oleh putra putri bangsa Indonesia?" ungkap Andy.

Surat terbuka Andy Wijaya untuk Presiden Jokowi secara lengkap, dapat dibaca di akun facebooknya

Link: http://adf.ly/1FkQq9

Blog Archive