Wednesday, April 1, 2015

[ KILAS BALIK ] Kebebasan Pers Diapresiasi Selama 10 Tahun Pemerintahan SBY


JAKARTA] Kebebasan pers selama sepuluh tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diapresiasi oleh para tokoh pers. Mereka menilai kebebasan pers ini sangat terasa selama kepemimpinan SBY sehingga tidak ada pemberedelan atau tindakan hukum terhadap pers. Apresiasi ini dituangkan dalam buku berjudul "SBY dan Kebebasan Pers: Testimoni Komunitas Media". Buku ini ditulis oleh 32 insan pers yang terdiri dari pemimpin redaksi, wartawan senior, tokoh pers, asosiasi jurnali, tokoh LSM media, dan akademisi.

"Setelah kami membaca, tulisan-tulisannya hampir sama. Pada awalnya mengkritik, tetapi akhir-akhirnya memuji pemerintahan SBY. Ini realitas buku tersebut,"ujar Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono ketika memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku tersebut pada Jumat (5/9) di Ballroom Hotel Hyatt, Jakarta.

Acara ini dihadiri oleh Presiden SBY dan Anny Yudhoyono serte sejumlah menteri kabinet Indonesia Bersatu II. Selain, hadir para pemimpin rekdaksi berbagai media baik cetak, televisi dan online, akademisi, tokoh pers, dan LSM media.

Margiono menyebutkan beberapa tokoh yang sering kritis terhadap SBY selama ini seperti Ketua Umum AJI Eko Maryadi atau akademis Ade Armando memberikan pujian kepada pemerintahan SBY yang memberikan ruang kebebasan terhadap pers.

Dalam acara tersebut empat orang memberikan kesaksian mewakili 32 penulis yang lain, yakni Ketua Dewan Pers Bagir Manan, tokoh senior pers Atmakusumah Astraatmaja, Pemimpin Redaksi Media Indonesia Usman Kansong dan editor buku ini Agus Sudibyo.

Bagir Manan, dalam sharing testimoni, menyampaikan bahwa meskipun banyak pemberitaan yang tajam bahkan negatif terhadap dirinya baik sebagai presiden maupun sebagai pribadi.

"Bapak SBY hanya mengeluh bahwa pemberitaannya tidak adil. Bapak hanya mengeluh tetapi tidak pernah mengganggu kebebasan pers sehingga pers tetap berkiprah,"tandasnya.


Atmakusumah Astraatmadja mengungkapkan bahwa selama 250 tahun sejarah pers, kebebasan yang pers yang paling lama terjadi pada ere SBY. Menurutnya, selama pemerintahan SBY tidak pernah terjadi pemberedelan, penyesoran atau pembatalan penyiaran yang sering terjadi pada pemerintah sebelumnya mulai zaman kolonial sampai pemerintahan sebelum SBY.

"10 tahun terakhir inilah, menurut pengalaman saya, terkait kebebasan pers ini, paling lama kita tidak mengalami kebebasan tanpa tekanan dari pemerintah pusat atau presiden selama sejarah pers kita yang 270 tahun,"kata Atmakusumah.

Selama pemerintahan SBY, lanjutnya tidak pernah terjadi tuntutan hukum oleh pemerintah pusat atau oleh seorang presiden terhadap media pers manapun.

"Walaupun kita mempunyai UU Pers, pemerintahan sebelum SBY terdapat tuntutan hukum terhadap dua media pers yang menyebabkan kedua pemimpin redaksi Koran nasional di Jakarta tersebut mengalami vonis hukuman penjara walaupun dalam masa percobaan,"tuturnya.

Sementara Usman Kansong menilai bahwa keterbukaan SBY terhadap media patut diapresiasi. Menurut Usman, kebebasan pers sungguh-sungguh ada, ketika yang dikritisi terbuka
"Media Indonesia dikatakan kritis terhadap pemerintah, tetapi kami masih bisa dapat wawancara secara eksklusif dengan bapak Presiden bahkan bapak Presiden bersedia menulis di Koran kami. Ini patut kita apresiasi. Kami juga pernah menulis berita melalui SMS dengan presiden,"beber Usman.

Editor buku ini Agus Sudibyo mengaku bahwa buku ini dimaksudkan sebagai kenang-kenang dari komunitas pers nasional kepada bapak presiden SBY. Namun, dia menepis anggapan bahwa buku ini hanya memuat apresiasi terhadap SBY

"Buku ini berisikan apresiasi dan kritik. Yang dikritik bukan hanya SBY, tetapi pers itu sendiri. Pers melakukan otokritik. Apresiasi yang diberikan bukanlah apresiasi yang berlebihan. Dan kritik yang diberikan juga bukan kririk apriori,"tandasnya.

Dia juga mengharapkan agar pemerintahan yang akan datang membaca buku ini sehingga bisa mengetahui bagaimana pers bersikap yang layak kepada presidennya serta bagaimana presiden dan para menteri untuk bersikap proporsional kepada pers. [YUS/N-6]

ALASAN TERORIS ALASAN RADIKAL DI ZAMAN SBY JUSTRU TERORIS DAN RADIKALISME BISA DI REDAM

ALASAN TERORIS ALASAN RADIKAL DI ZAMAN SBY JUSTRU KONFLIK HORIZONTAL BISA DI REDAM

INI BELUM 1 TAHUN SUDAH BREDAL BREDEL

Link: http://adf.ly/1CYRSj

Blog Archive