Tuesday, April 7, 2015

Menengok Sisa Kejayaan Agama Syiwa Budha di Candi Jago


Menengok Sisa Kejayaan Agama Syiwa Budha di Candi Jago
Aditya Mahatva Yodha - 05 April 2015 19:36 wib

Kirim Kirim Kirim LINE it!

Metrotvnews.com, Malang: Candi Jajaghu atau lebih dikenal dengan sebutan Candi Jago merupakan aset penting Kerajaan Singosari. Yang kini dijaga dan dirawat oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan.

Nama Jajaghu ini terdapat di dalam dua kitab, yaitu kitab "Pararathon" dan kitab sastra kuno "Nagarakertagama". Jajaghu dalam bahasa sansekerta tersebut sebagai nama tempat suci, atau dapat juga diartikan dengan istilah keagungan.

Candi Jago sendiri dibangun oleh raja terakhir Kerajaan Singosari, Kertanegara. Sebagai tempat pendharmaan atau persemayaman abu Sang Raja Singosari ke-4, Wisnu Wardhana, yang merupakan ayahnya sendiri.

Sebagai rasa cintanya kepada sang ayahanda, Kertanegara mendirikan sebuah candi yang saat ini berlokasi di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 200 meter dari Pasar Tumpang.

Menurut Suryadi, petugas BP3 Trowulan yang ada di Candi Jago Tumpang, Kabupaten Malang ini, memang objek candi yang akses jalannya mudah menjadi pilihan wisatawan. Termasuk Candi Jago ini yang lokasinya tidak jauh dari Pasar Tumpang.

"Biasanya bulan Juli - Agustus itu ada sekitar 1500 pengunjung tiap bulannya baik pengunjung lokal maupun mancanegara. Pengunjung lokal didominasi pelajar yang melakukan Study tour. Rombongan sampai 2 bus, kalau bulan- bulan lainnya rata- rata 300 pengunjung," ujar Suryadi kepada Metrotvnews.com, Minggu (5/4/2015).

Candi ini sudah dikepung dengan pemukiman padat penduduk. Sehingga jika melihat besarnya candi, harusnya lahannya perlu lahan kosong lebih dari yang ada sekarang. Tapi kanan kiri candi yang dibangun pada 1268 masehi atau pada tahun saka 1190 ini sudah terlanjur diplot menjadi pemukiman warga.

Namun setidaknya, Suryadi terlihat sangat menjaga kebersihan dan keasrian candi. Ia senang berlama-lama di tempat ini, bisa megajak keluarga sekaligus berwisata budaya untuk mengedukasi putra-putrinya tentang kebesaran kerajaan Singosari pada zamannya.

Ekmi Yunita, seorang pengunjung asli Wajak, Malang, Jawa Timur yang ditemui metrotvnews.com. Ia datang bersama keluarga dan rekan- rekannya, sengaja mengajak anak- anaknya biar bisa berwisata sekaligus belajar sejarah.

"Ini kali pertama berkunjung ke sini, mumpung Minggu libur sekalian ngajak anak- anak untuk belajar budaya," ucap Ekmi sembari menemani anak- anaknya yang sedang asyik berfoto ria di hadapan candi.

Suryadi sang juru kunci yang akrab disapa Ki Suryo ini juga banyak menceritakan soal sejarah candi yang memiliki banyak relief ini.

"Sesuai dengan agama yang dianut dan berkembang pada masa Raja Wisnuwardhana yaitu Syiwa Budha atau perpaduan Hindu dan Budha, maka pada dinding Candi Jago ini terdapat beberapa pahatan yang menunjukkan dua sifat dari Agama tersebut. Yang pertama, relief yang terpengaruh unsur Budha, bercerita tentang binatang atau Tantri, Angling Dharma, dan Kunjarakarna.

Sementara relief yang terpengaruh unsur Hindu menampilkan cerita Prathayadnya, Arjuna wiwaha, dan Kresnayana yang merupakan cerita pada kitab Mahabharata karangan Wiyasa dan Walmiki.

Bagi wisatawan yang tidak berkendaraan sendiri dan ingin ke Candi Jago, bisa menumpang angkot TA dari Terminal Arjosari, Kota Malang, ke Tumpang. Bilang saja ingin turun di Candi Jago. Dari jalan raya hanya perlu berjalan sebentar untuk sampai ke candi ini.
(AWP )

http://m.metrotvnews.com/read/2015/04/05/381472

Semoga aja nggak dirusak sama kelompok 2d & sekalian aja agama syiwa budha diakui resmi

Link: http://adf.ly/1Dj8U9

Blog Archive