Sunday, April 19, 2015

Menyambut Pesta Bakcang


batampos.co.id - Pesta Bakcang tak lama lagi. Warga Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan Duan Wu Jie (Pesta Bakcang) yang jatuh pada 12 Juni atau pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Lunar/Imlek.

Pada perayaan ini, semua warga Tionghoa membuat bakcang dan dimakan bersama-sama keluarga.

"Yang tidak membuat bakcang akan menerima kiriman bakcang dari kerabat. Biasanya mereka yang sedang berkabung atau seperti saya yang tinggal sendiri tidak akan buat bakcang dan pasti akan menerima kiriman bakcang," kata Budi Tamtomo, Ketua Lembaga Pengkajian Kitab Klasik Batam.

Mengenai larangan tidak boleh membuat bakcang pada mereka yang masih berkabung ada dijelaskan dalam ajaran budi pekerti (Di Zi Gui). "Alasannya agar kita turut prihatin. Karena itu mereka hanya boleh terima dari pemberian sanak saudara,''jelas Budi lagi.

Lalu apakah itu Bakcang? Yaitu sejenis makanan yang dibuat dari beras/ketan yang bagian dalamnya diisi daging. Kini, isinya lebih beragam, mulai dari sayuran, kacang atau ayam. Bakcang dibungkus dengan daun bambu selebar delapan sentimeter. Sebagai teman makan bakcang, cukup dengan saos saja.

Bakcang di Tiongkok lebih banyak dibuat dengan ketan. Sedangkan di Indonesia, bakcang dibuat dengan beras dan ketan. Sebelum dibungkus dengan daun bambu, beras diaron setengah matang terlebih dulu. Supaya wangi, beras itu dicampur dengan bawang putih yang telah ditumis.

"Beri garam, lalu tengahnya diisi daging yang sudah dicincang dan dimasak dengan kecap," jelas Budi.

Bakcang ini menjadi sajian wajib saat perayaan Bakcang.

Menurut Budi, pada tanggal tersebut, di pertengahan hari terjadi pertemuan antara matahari dan bulan di satu garis. Sehingga terjadi gravitasi yang seimbang.

Perayaan makan Bakcang ini, kata Budi, berawal dari kisah seorang pejabat kerajaan bernama Qu Yuan yang sangat mencintai negerinya. Ia berani menentang tindakan lalim yang dilakukan rajanya pada rakyat. Walau raja tak pernah menggubris, Qu Yuan terus menentang. Melalui karya sanjaknya, ia terus mengritik, dan mengecam rajanya. Hingga suatu kali, Qu Yuan, yang juga seorang sastrawan ini bunuh diri dengan terjun ke sungai Miluo.

"Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak terima dengan perlakuan raja. Ia rela melakukan ini supaya raja sadar dan mengubah prilakunya,''jelas Budi.

Mendengar Qu Yuan terjun ke sungai, rakyat sekitarnya berusaha mencari. Namun setelah sekian lama dicari, mayat Qu Yuan tidak juga ditemukan.

"Karena saking cintanya pada Qu Yuan, rakyatpun membuatkan makanan yg dibungkus daun bambu dan dibuang ke sungai. Tujuannya supaya ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan,''kata Budi.

Rakyat berduyun-duyun dayung sampan mencari mayat Qu Yuan, yang pada akhirnya juga berkembang menjadi acara lomba dayung sampan pada haru Duan Yang-pesta Bakcang ini.

Melalui perayaan ini, kata Budi, kita tak hanya makan bakcang saja tapi kita diajak mengenang jiwa kesatria Qu Yuan yang penuh semangat mencintai negaranya. Perayaan Bakcang kini diakui Budi, sudah berbeda dari sebelumnya.

"Bagi mereka yang mengerti maksud acara ini, akan melakukan sembahyang penghormatan, yaitu bukan sembahyang untuk dewa, tapi belajar teladan seorang satria yang cinta negara,''kata Budi.

Kalau di Tiongkok, perayaan dilakukan di Sungai Miluo. Sembahyang bersama-sama di tepian sungai. Sedangkan di Indonesia sembahyang dilakukan di kelenteng. Ada yang setelah sembahyang, bakcang di larung ke laut seperti umat Konghucu Priangan Timur, mereka melarungkannya di laut Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Satu hal unik lagi, di hari perayaan bakcang ini diyakini, cuaca bagus, mata hari tegak lurus (maka disebut Duan Wu) dan para tabib memetik tanaman jamu berkhasiat luar biasa.

Di daerah yang tradisi budaya yang masih kental seperti Kalimantan dan Tanjungpinang, anak-anak mudanya masih bisa membungkus bakcang.

Karya-karya sastra Qu Yuan dikenal sangat bagus. Tak heran karyanya diterjemahkan dalam bahasa Ingggris dan Jerman dan bahasa Prancis. Sajaknya banyak bertemakan cinta negara dan cinta tanah air.

"Saya pelajari karya-karyanya. Memang luar biasa, indah sekali. Kata-katanya menggetarkan hati,''kata Budi yang juga lulusan sastra Tiongkok. (agnes/bpos)

http://batampos.co.id/18-04-2015/men...pesta-bakcang/

ayo makan bacang gan

Link: http://adf.ly/1FLRgW

Blog Archive