Tuesday, April 21, 2015

Mohon Comments agan2 & aganwati semuanya tentang kasus ini!


http://news.detik.com/read/2015/04/2...ya-tidak-matre

Perempuan Manis Dikadali Hakim hingga Hamil, Ina: Saya Tidak Matre
"Aku sempat berpikir kalau dia memang hakim. Tapi itu bukan semuanya, aku memang kepincut karena kebaikannya waktu itu," ujarnya.

Ina dan MH bertemu pertama kali pada awal 2014 saat MH tengah mengajukan kredit ke bank. Dari hubungan profesional itu, lalu mereka terlibat asmara. Awalnya MH mengaku single tapi setelah itu plinplan mengakui statusnya dan menyatakan tengah proses cerai dengan istrinya.

Setelah itu mereka terlibat asmara dengan janji akan menikahi Ina. Rayuan gombal MH membuat Ina luluh. Mereka berpacaran ke Jakarta, Malaysia dan Singapura. Hasilnya, Ina mengandung hasil hubungan gelap mereka.

Atas kehamilan itu, Ina lalu diberhentikan dari pekerjaannya. Ia semakin terpukul saat MH tidak mau mengakui anak mereka dan ingkar janji tidak mau menikahi. Alhasil, Ina melaporkan perbuatan MH ke Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY). Versi MA, MH layak dihukum skorsing sedangkan versi KY, MH layak diberhentikan. Akhirnya MA menang dan MH hanya dijatuhi skorsing.

Tidak terima dengan hukuman versi MA ini, Ina mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) mempertanyakan siapa sebenarnya yang berhak mengajukan sanksi dan pengawasan ke hakim, KY ataukah MA. Sebab berdasarkan UUD 1945, hanya KY yang berhak mengawasi dan menjatuhkan sanksi ke para hakim. Kasus ini masih bergulir di MK.

Langkah Ina menggugat ke MK bukannya tanpa alasan. Sebab standar moral hakim di Indonesia sangat jauh di bawah negara-negara lain, bahkan negara sekuler sekalipun. Seperti di negeri sakura Jepang. Mereka tidak memiliki kode etik dan pedoman perilaku hakim seperti di Indonesia, namun hukum telah menjadi darah daging dan ruhnya sehingga semua hakim belum ada yang melakukan penyimpangan baik hukum maupun etika.

Bagaimana di Inggris? Kerajaan Inggris baru saja memberhentikan hakimnya yang kedapatan nonton video porno di kantor, Maret 2015 lalu. Para hakim itu, Timothy Bowles, Warren Hibah, dan Peter Bullock diduga menonton film dewasa dari komputer kantor tempat mereka bekerja. Bagi Inggris, pengadilan adalah suatu kantor terhormat yang tidak boleh disalahgunakan.

Jika Inggris dan Jepang--negara sekuler yang mengesampingkan agama dalam kenegaraan-mempunyai standar moral hakim yang tinggi, mengapa Indonesia-yang mengakui Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa-- masih memberikan kesempatan kedua bagi 'wakil Tuhan' yang menghamili perempuan bukan istrinya?

Link: http://adf.ly/1FUS2r

Blog Archive