Friday, April 17, 2015

Nah Lhooo ... Giliran SBY kebat-kebit Demokrat Kena Giliran Dipecah-belah!


SBY: Jangan Ada Perang Saudara di Demokrat

JUM'AT, 17 APRIL 2015 | 04:15 WIB


SBY didampingi Any Yudhoyono dan Ketua Harian PD Syarief Hasan, beri keterangan pers usai rapat konsolidasi PD, di Jakarta, 30 September 2014. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan partainya tak mungkin lepas dari perselisihan antarkader. Menurut dia, perselisihan merupakan hal yang wajar. "Keluarga dan rumah tangga pun begitu," kata SBY saat memberi sambutan dalam silaturahmi nasional Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator partainya di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis malam, 16 April 2015.

Menurut dia, partai merupakan wadah orang-orang berpolitik. Karena itu, tak heran jika terjadi perbedaan di antara mereka. SBY berharap para kader partainya bersatu kembali. Apalagi partai berlambang mirip logo Mercy itu akan menggelar kongres untuk memilih ketua umum baru pada pertengahan Mei mendatang. "Tidak harus ada perang saudara di jajaran Partai Demokrat. Tidak harus."

Menurut SBY, partainya masih diberi kesempatan berbenah diri. Karena itu, instrospeksi diri menjadi kewajiban bagi partai. Demokrat ingin berbuat yang terbaik untuk rakyat. Menurut SBY, ini sudah dibuktikan partainya selama sepuluh tahun mengemban tugas pemerintahan, meski berbagai kritik terus berdatangan. "Biarlah sejarah dan rakyat yang akan menilai apa yang kami lakukan," ucapnya.

Dalam acara tersebut, SBY menyatakan belum memutuskan sikap ihwal dukungan kader di daerah agar ia maju kembali memimpin Demokrat lima tahun ke depan. Pemilihan ketua umum dilakukan dalam kongres di Surabaya, Jawa Timur, 11-13 Mei 2015. "Menyangkut keinginan kader Demokrat di seluruh Indonesia, mungkin sebagian publik sudah mengikutinya, tapi biarlah itu berproses secara baik," kata SBY.

SBY mengatakan tak boleh ada paksaan dan tekanan terhadap kader untuk memilih tokoh tertentu menjadi ketua umum. "Kalau ada aspirasi, biarkan aspirasi itu murni," ujar SBY. Menurut SBY, selama 10 tahun memimpin Indonesia, ia mengklaim tidak pernah merekayasa dan memaksa rakyat. "Biarlah demokrasi hidup. Biarlah hidup apa kehendak dan pikiran rakyat. Itulah penghormatan kita kepada demokrasi," ujar SBY.
http://www.tempo.co/read/news/2015/0...ra-di-Demokrat


SBY: 10 Tahun Saya Tak Pernah Ganggu Partai Lain
JUM'AT, 17 APRIL 2015 | 00:16 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono membeberkan alasan di balik permintaan agar Presiden Joko Widodo tak meng-Golkar-kan partainya. Menurut dia, permintaan ini dilatarbelakangi opini yang berkembang di masyarakat, yakni adanya campur tangan pemerintah dalam perpecahan di Partai Golkar.

"Katakanlah yang terjadi di Partai Golkar kemudian dianggap ada campur tangan dan intervensi kekuasaan," kata SBY, yang juga mantan presiden, seusai menghadiri silaturahmi nasional Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator partainya di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Kamis malam, 16 April 2015. (Baca: Pesan Ibas ke Presiden Jokowi: Demokrat Tak Di-Golkar-kan)

Menurut SBY, benar-tidaknya opini tersebut bakal dijelaskan sejarah dan kebenaran. Namun, SBY melanjutkan, partainya sejauh ini menjalani politik dengan baik. "Harapan kami, siapa pun, hormatilah partai politik yang berpolitik baik-baik," ujar dia.

SBY mengatakan, selama sepuluh tahun memimpin negeri ini, ia mengklaim tidak pernah mengganggu partai politik lain. "Tidak pernah ada niat dari saya dan kekuasaan untuk mengganggu kedaulatan partai-partai politik, partai politik manapun," katanya.

Bahkan, menurut SBY, selama sepuluh tahun, ia tak pernah mengganggu partai yang menentang, menyerang, dan mengkritik kebijakannya sebagai presiden. "Saya hormati. Itu demokrasi," ucap dia. SBY mengatakan tak pernah ada niat, pikiran, dan tindakan menggunakan kekusaaan mencampuri urusan partai lain.
http://www.tempo.co/read/news/2015/0...gu-Partai-Lain


Ibas minta Jokowi tak pecah belah Demokrat
10 days ago

JAKARTA, WOL – Presiden Joko Widodo memberikan ruang kepada seluruh fraksi di DPR untuk menyampaikan uneg-unegnya pada rapat terbatas konsultasi DPR dengan Presiden di Gedung DPR RI, Senin (6/4).

Kesempatan itu dimanfaatkan fraksi-fraksi di DPR untuk membicarakan urusan internal partai politik, salah satunya fraksi Demokrat yang meminta agar pemerintah tak mencampuri urusan partai politik.

"Tadi dari Demokrat, Mas Eddy Baskoro, meminta kepada presiden untuk tidak meng-Golkar-kan Demokrat. Sambil setengah bercandalah," kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

Menurut Fadli, Presiden Jokowi langsung menanggapi pernyataan Ibas sapaan Eddy Baskoro. "Tidak ada niatan sedikit pun untuk itu," ujar Fadli menirukan Jokowi.

Selain itu, politikus Gerindra ini mengatakan, kisruh politik internal yang terjadi di Golkar dan PPP juga disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi. Kedua partai meminta pemerintah tidak melakukan intervensi. "Secara normatif presiden mengamini itu," kata dia.

Fadli menegaskan, rapat konsultasi dengan Presiden hari ini berjalan dengan baik. Dalam kesempatan itu, Presiden mendapat banyak catatan atas penjelasannya dari berbagai fraksi.

Namun dia enggan menjelaskan catatan apa yang disampaikan kepada Presiden, dan fraksi mana saja yang memberi catatan keras. "Ada beberapa fraksi," kata Fadli.
http://waspada.co.id/warta/ibas-mint...elah-demokrat/


Demokrat Tak Takut Politik Pecah Belah
Selasa, 7 April 2015 | 12:30 WIB

VIVA.co.id - Ketua Harian Partai Demokrat, Syarief Hasan, mengatakan bahwa persiapan kongres partai berlambang bintang mercy itu semakin matang. Syarief meyakini tidak akan ada perpecahan dalam tubuh partai pasca kongres nanti. Mereka bahkan sudah menyiapkan diri dari upaya memecah belah.

"Kita tidak takut, Demokrat solid. Kalau Partai Demokrat mengalami hal yang sama seperti partai lain, kita akan berjuang," kata Syarief di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 7 April 2015.

Syarief membantah permintaan Ketua Fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas agar Presiden Jokowi tidak mengganggu Partai Demokrat sebagai sebuah ketakutan.
"Pak Ibas itu tidak takut, dia hanya mengutarakan kekhawatiran dan imbauan. Boleh dong berikan pesan moral," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, EE Mangindaan, menepis adanya upaya pergolakan di internal partai, kelompok pendiri menolak, SBY kembali menjadi ketua umum.

"Semua tenang-tenang saja. Santai saja. Kita selesaikan semua. Pergolakan terlalu jauh," kata Mangindaan.

Wakil Ketua MPR ini memastikan semua persiapan Kongres Partai Demokrat sudah berjalan dengan baik. "Ini supaya semua lancar," ucapnya.
http://politik.news.viva.co.id/news/...ik-pecah-belah


DEMOKRAT pecah hanya soal waktu?
Quote:
Konflik Golkar Hantui Partai Demokrat Happy Cr Karundeng
Selasa, 07 April 2015 09:59

JAKARTA - Jelang pelaksanaan Kongres Partai Demokrat, konflik internal Partai Golkar mulai menghantui. Pecahnya beringin indonesia jadi momok menakutkan bagi Partai berlambang bintang mercy ini. Pemerintah diharap tidak ikut mengintervensi.

Hal tersebut diungkap Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Ia mencemaskan fenomena partai terbelah yang kini sering melanda partai-partai besar. Untuk itu Ibas mengharapkan agar pemerintah tidak ikut campur dalam kongres partainya."Kami sudah menyampaikan kecemasan ini ke Presiden. Intinya jangan sampai Demokrat di-Golkar-kan," harap Ibas kepada awak media di Gedung DPR, Senin (6/4).

Ia menyebut, pihaknya juga meminta agar pemerintah tidak mengintervensi kongres partainya, seperti yang dialami PPP dan Golkar. Menurutnya, Partai Demokrat merupakan partai yang besar dan seluruh kader memiliki rasa memiliki yang tinggi. Itu juga membuat Demokrat jadi partai penyeimbang, dan tidak memiliki permasalahan dengan partai lain. "Kami partai yang solid. Untuk itu kami berharap dukungan pemerintah, karena itu bila yang bersangkutan akan hadir, pasti kami sambut," ujarnya.

Sementara, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Didik Mukrianto membantah isu yang berkembang dimana Demokrat tengah di ambang perpecah menjelang kongres yang akan digelar dalam waktu dekat. Menurut dia, permintaan pihaknya agar pemerintah tidak mengintervensi kongres, adalah sinyal bahwa ada yang ingin menggoyang Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon tunggal ketua umum partai. "Kabar perpecahan itu cuma isu," kata Didik di Gedung DPR, Senin (6/4).

Terkait kekhawatiran yang disampaian Ibas, ia menyebut itu bukan tidak beralasan. Karena bukti nyata sudah terlihat. Dimana indikasi intervensi semakin terang dibuktikan. "Menghadapi itu, kita waspadai lebih awal atas kemungkinan itu. Kekhawatiran kita karena presedennya sudah ada, yakni Partai Golkar dan PPP," ujarnya.

Terpisah, pengamat senior Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih sangat kuat untuk kembali memimpin Partai Demokrat. Pasalnya, hingga kini tak ada nama lain yang memiliki kekuatan sebanding dengan dirinya untuk menghadapi Kongres Partai Demokrat 2015 di Surabaya, Jawa Timur. "Pasti tak akan muncul bintang-bintang lain yang akan maju di Kongres Demokrat. Pengaruh dan peran Pak SBY sangat besar di internal partai," ujar Siti.

Menurut dia, sosok SBY juga sangat disegani oleh kader-kader. Meskipun di internal Partai Demokrat ada juga yang tak sepaham dengan pencalonan suami dari Ani Yudhoyono itu, namun suaranya tidak signifikan untuk menghentikan langkah SBY terpilih kembali. "Untuk Kongres kali ini yang bisa menghentikan pencalonan SBY hanya SBY sendiri. Bila SBY bersedia dicalonkan, kemungkinan aklamasi akan sangat besar," tegas Siti.

Di sisi lain ia berpendapat, sudah seharusnya SBY memberikan kesempatan bagi kader muda potensial untuk menahkodai Partai Demokrat, agar bisa memberikan warna baru untuk menghadapi pilkada serentak dan pemilu mendatang. "Menurut saya, ini saatnya bagi SBY memberi peluang kader-kader Demokrat yang mumpuni untuk maju di kongres," katanya.
http://radarpena.com/read/2015/04/07...artai-Demokrat

Konflik Partai Demokrat memunculkan banyak kubu
Jum'at, 1 Maret 2013 − 07:30 WIB

Sindonews.com - Konflik berkepanjangan antara Ketua Dewan Pembinan Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan ketua umumnya Anas Urbaningrum membuat suara kader pecah.

"Konflik ini akan membuat banyak kubu di Demokrat tidak hanya dua kubu. Anas dan SBY, tapi ada kubu tengah, pinggir, kanan dan kiri semua alinia ada di Demokrat saat ini," kata pengamat politik universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf saat dihubungi Sindonews, Jumat (1/3/2013).

Pada kesempatan itu, dia juga mengatakan, perseteruan SBY dan Anas merupakan hal yang baru sebagai partai pemenang pemilu.

"Menurut saya, ini kejadian yang pertama konflik dan sengketa, yang besar seperti ini. Karena, partai pemenang pemilu menuai konflik seperti itu," kata Maswadi yang juga guru besar UI itu.

Dia menambahkan, perseteruan dua elite partai itu tidak memberikan pelajaran politik yang baik terhadap masyarakat. "Tapi, masyarakat sudah cerdas yang diributkan adalah ujung-ujungnya duit. Tapi, ini akan berdampak sangat luas dikalangan publik," katanya.
http://nasional.sindonews.com/read/7...ubu-1362092772


PPP dan Golkar sudah pecah belah, Demokrat selanjutnya?
Sabtu, 21 Maret 2015 07:01

Merdeka.com - Jagat politik Tanah Air dalam satu tahun belakangan diramaikan dengan perpecahan di internal partai politik. Adalah Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) yang terlebih dahulu mengalami konflik di internal hingga berujung perpecahan.

Konflik di internal partai berlambang Kabah ini sudah terjadi sejak sebelum pelaksanaan Pilpres 2014. Perbedaan dukungan pasangan capres menjadi ujung pangkal penyebabnya. Kubu Suryadharma Ali mendukung pasangan Prabowo-Hatta, sementara kubu Romahurmuziy lebih condong ke Jokowi- JK.

Meski Pilpres telah selesai digelar dengan kemenangan Jokowi- JK, dua kubu dalam PPP tetap berseteru. Ujungnya, masing-masing kubu menggelar muktamar pemilihan ketua umum masing-masing.

Kubu Romahurmuziy menggelar muktamar di Surabaya. Dalam muktamar itu Romahurmuziy terpilih menjadi ketua umum. Sementara kubu Suryadharma Ali menggelar muktamar di Jakarta. Mantan Menpera Djan Faridz terpilih menjadi ketua umum dalam muktamar Jakarta.

Hingga hari ini, kisruh kedua kubu masih berlangsung dan belum mencapai islah. Apalagi, PTUN mengabulkan gugatan Suryadharma Ali soal pengesahan kepengurusan PPP kubu Romahurmuziy oleh Menkum HAM Yasonna Laoly.

Selain PPP, konflik internal juga dialami Partai Golkar. Pasca pilpres, kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan kubu Agung Laksono berseteru soal waktu pelaksanaan musyawarah nasional (Munas). Kubu Ical ngotot mempercepat pelaksanaan Munas. Sementara, kubu Agung Laksono menghendaki Munas dilaksanakan sesuai keputusan Munas Riau 2009 lalu yakni dilaksanakan pada 2015.

Kubu Ical lantas menggelar Munas pada Desember 2014 di Bali. Dalam Munas itu Ical kembali terpilih menjadi ketua umum. Tak mau kalah, kubu Agung Laksono langsung tancap gas menggelar Munas tandingan. Jeda waktu Munas yang digelar di Ancol, Jakarta itu, dengan Munas Bali hanya beberapa pekan saja.
http://www.merdeka.com/politik/ppp-d...lanjutnya.html


-----------------------------

Itu politik 'devide et impera' yaitu politik pecah-belah pribumi ala VOC dan penjajah Belanda zaman penjajahan dulu, kayaknya masih effektif di negeri ini diterapkan hingga saat sekarang. Dan, ini bisa dipastikan bahwa "master"nya datangnya dari "Londo-londo" itu jua, dengan operatornya orang dalam negeri yang bersedia mengkhianati negerinya sendiri

Blog Archive