Saturday, April 11, 2015

NKRI Sulit Maju Selama Elit Tua Masih Terus 'Ngerecoki' Jokowi Ngurus Negara!


Pengamat LIPI:
Kongres PDIP Cerminkan Gerontokrasi

10 APR 2015

Rimanews - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo mengungkapkan perpolitikan Indonesia cenderung menganut paham 'gerontokrasi' yaitu orang tua memimpin seperti tercermin dalam hasil Kongres PDIP di Bali.

"Jika melihat kongres PDIP di Bali, itu bukti kecenderungan negara kita seperi negara lain seperti Libya dan Thailand yang kecenderungannya ke arah gerontokrasi," kata Hermawan di Jakarta, Jumat (10/4/15).

Hal tersebut diungkapkan Hermawan dalam diskusi bertema 'Efektifitas Pemblokiran Situs Radikal dalam Memerangi Terorisme' di Kampus Universitas Bhayangkara Jaya Raya, Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Gerontokrasi tersebut adalah bentuk aturan di mana suatu entitas dipimpin oleh orang tua. Seringkali struktur politik adalah yang menganut pola tersebut dimana dalam kelas penguasa terakumulasi dengan usia, sehingga tertua memegang kekuasaan yang paling tinggi atau penting.

"Semakin tua semakin senior dia semakin mapan kita fokusnya jika ada yang tua, mereka yang akan menang. Bukan hanya PDIP saja tapi juga partai lainnya sama saja," katanya.

Lebih lanjut, dia juga tidak memungkiri bahwa tokoh-tokoh di PDIP belum ada lagi yang sekuat Megawati untuk bisa menyatukan suara partai berlambang banteng tersebut.

"Jika bukan Mega sekarang belum ada yang didengar lagi di sana TB Hassan didengar tapi dia tidak membawa roh Soekarno, Tjahjo Kumolo cukup banyak simpatisannya namun belum dipandang bisa membesarkan partai sedangkan Puan belum kuat sacara kualitatif leadership," katanya.
http://nasional.rimanews.com/hukum/r...eret-Oknum-KPK

Sinisme Megawati terhadap Jokowi di Bali
10 APR 2015

Rimanews - Megawati pada pidato di Kongres IV PDIP Bali tak dapat menyembunyikan perasaannya kepada Jokowi. Mengawali pidato dengan airmata, Mega jelas mengundang tanya. Ini belum ke isi pidatonya yang secara halus menjewer Jokowi yang dinilainya sudah "menyeleweng" dari haluan partai. Air mata perempuan bermakna ganda, bisa gundah atau bahagia. Lantas, ini air mata yang mana?

Jika melihat isinya yang menohok Jokowi supaya taat pada mandat partai, pesan semiotik Ketua Umum PDIP mudah dibaca. Mega tengah godot, kecewa tingkat dewa kepada Jokowi.

Bahkan, sebagai presiden, Jokowi tak diberikan podium untuk pidato. Seolah-olah, Jokowi adalah presiden yang tak dianggap. PAdahal, akan sangat elok seandainya kehadiran formal Jokowi tersebut dimanfaatkan untuk, misalnya, sekadar memukul gong membuka acara, meski tak diijinkan menyentuh mikrofon untuk khotbah.

Podium pun dimanfaatkan Megawati untuk menguliti Jokowi, yang disebutnya tak ngeh dengan penumpang gelap yang dapat merongrong pemerintahan. Mudah menebak yang dimaksud Mega dengan penumpang gelap adalah orang-orang dekat presiden yang tak dikehendaki putri Bapak Proklamasi itu. Padahal, Jokowilah yang dengan sadar telah memilih mereka.

Tentu publik sudah tahu bahwa akhir-akhir ini Jokowi tampak menjaga jarak dengan orang-orang Mega. Puncaknya adalah pilihan Jokowi untuk mendiami istana Bogor dan pemberian kewenangan yang besar kepada staf kepresidenan yang digawangi Luhut. Luhut juga kemudian lebih suka mempekerjakan orang-orang baru yang belum terkontaminasi politik.

Konflik kepentingan? Ya, politik adalah soal pertarungan kekuasaan. Jokowi memasukkan mereka ke lingkarannya supaya dia bisa menjadi penguasa sesungguhnya di republik. Secara logika politik, ini sangat masuk akal. Namun, sebagai orang partai, Jokowi disebut mbalelo, tidak nurut. Pun, sampai saat ini, Jokowi masih ditempatkan sebagai kader partai kelas dua.

Apakah Jokowi memang sedemikian buruk sehingga Mega harus menyentilnya di muka umum?

Jika dibandingkan dengan Megawati, prestasi Jokowi tentu tak bisa dibilang buruk. Hal ini lepas dari berbagai kelemahan karena situasi yang dihadapi Jokowi harus diakui lebih berat. Satu-satunya prestasi Mega yang dicatat di benak rakyat hanyalah melego 12 BUMN.

Akan tetapi, peringatan Mega tersebut telanjur mendapat keplokan yang luar biasa dari punggawa partai sekutu seperti Surya Paloh dan Agung Laksono. Di internal PDIP, hampir semua kader mengamini.

Bahkan, Jokowi dengan sangat rendah hati menanggapi positif petuah Mega. Padahal, sebagai orang Solo, tak sulit memahami bahwa dirinya tengah ditelanjangi di muka umum.

Benarkah demikian kondisinya, atau Mega hanya sinis dan paranoid karena kepentingannya tidak diakomodir?

Tanyaan kedua itulah yang dikhawatirkan rakyat, yakni Mega menyiangi kesalahan Jokowi hanya karena dia tak bertindak sesuai kehendaknya.

Jika hanya ini alasan Mega, tentu sangat disayangkan. Amat baik mengingatkan Jokowi untuk mewujudkan Trisakti: berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Namun, sayangnya, sepertinya Megawati terlalu jelas menampakkan unsur sinisme personal yang kental kepada juragan mebel asal Solo itu.
http://nasional.rimanews.com/politik...Jokowi-di-Bali


Habibie: Usia Calon Presiden Maksimal 60 Tahun
Rabu, 26/03/2014 17:45 WIB

Jakarta - Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie mengaku akan menyesal jika tidak memberikan kesempatan kepada kalangan muda untuk memimpin Indonesia. Pemimpin yang baik bisa dilihat dari keberhasilan mengubah manusia-manusia yang dipimpinnya. Bukan dilihat dari keberhasilan cara atau jejak yang sudah dilakukan.

Habibie ingin melihat ada sosok muda yang bisa memimpin negara ini seperti zaman Sukarno dan Soeharto. Dua sosok presiden itu resmi terpilih saat di usia yang muda.

"Sukarno itu 44 tahun. Presiden kedua Soeharto itu 45 tahun. Setelah itu, ketiga saya sudah lewat masa muda. Sebagai orangtua saya menyesal kalau tidak memberikan toleransi kepada yang muda untuk berkembang," kata Habibie, Rabu (26/3).

Hal ini diutarakan mantan Menteri Riset dan Teknologi itu saat memberikan paparan penutupan dalam acara Uji Publik Capres 2014 : Mencari Pemimpin Muda yang Berkualitas di Hotel Sari Pan Pacific, Rabu (26/3).

Pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu mengaku karena faktor usia, sudah tidak ada keinginan lagi untuk menjadi presiden ataupun menteri. Alasannya, dia ingin memberikan kesempatan kepada calon muda potensial yang berusia 40 - 60 tahun.

"Renungkan saran dari orangtua. Pilih calon yang problem solver, punya visi dan misi yag jelas. Kalau dipilih, satu semua akan bersatu. Ya, itu calon 40 - 60 tahun," katanya.

Saat ini,Habibie mengatakan keinginannya adalah hanya membuat pesawat. Sambil bergurau, dia mengatakan manfaat pesawat itu penting dengan mengibaratkan satu kilogram berat pesawat sama dengan 30 ribu beras.
http://news.detik.com/read/2014/03/2...simal-60-tahun


Orang-orang Tua yang Mulai Pikun dan Cerewet Disekitar Jokowi Saat ini ...
Quote: Jokowi Presiden, Megawati yang Kendalikan Pemerintahan
Selasa, 13 Mei 2014, 16:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jokowi dinilai tidak sepenuhnya memimpin pemerintahan jika terpilih sebagai presiden. Gubernur DKI Jakarta itu hanya akan menjadi pemimpin di atas kertas. Yang mengendalikan pemerintahan nantinya adalah Megawati.

Wasekjen PAN, Kuntum Khairu Basa, menjelaskan, Kalau Jokowi yang jadi presiden maka Republik Indonesia menerapkan pemerintahan bayangan. Secara de facto Jokowi presiden namun secara de jure, sama halnya perdana menteri, Megawati akan berposisi sebagai ratu yang mengendalikan Jokowi. Indonesia akan kembali kepada kepemimpinan seperti ketika Sutan Syahrir menjadi perdana menteri.

"Saya mengibaratkan kelak Jokowi jika terpilih akan menjadi seorang perdana Menteri bayangan," jelasnya, di Jakarta, Selasa (13/5). Sedangkan Megawati ibarat ratu. Dalam dunia permainan catur, Jokowi diibaratkan pion yang hanya bergerak ke depan dan makan pion lawan dengan silang.

Sedangkan posisi partai - partai koalisi PDIP diibaratkan dengan banteng, kuda dan peluncur dengan gerakan yang berbeda. Sesungguhnya kalau diamati maka gerakan tersebut hanya untuk satu tujuan yaitu melindungi si ratu.

Kehebatan ratu jangan dianggap remeh. "Dia bisa melakukan lebih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan," jelasnya. Kuntum menjelaskan Bagaimana Julius Caesar menaklukkan Asia dan Eropa dalam sekejap, akhirnya tunduk di hadapan Cleopatra, si Ratu Mesir.
http://www.republika.co.id/berita/pe...n-pemerintahan


Pengamat Nilai JK akan Jadi Mentor Jokowi Tapi Tak Kendalikan
Selasa, 20 Mei 2014 22:19 WIB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Pernyataan Jusuf Kalla, calon wakil presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Hanura, saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional PDIP di Jakarta, Selasa (20/5/2014), sungguh menarik.

Kalla menyebut,"saya tidak punya cita-cita apalagi setelah ini." Hal ini tegas menyebut Kalla tidak memiliki ambisi politik menjadi "matahari kembar" bagi Jokowi atau syahwat ekonomi menguasai bisnis di tanah air. Kalla dengan demikian membantah anggapan "miring" yang melekat padanya.

Pengajar PROGRAM Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) ini kemudian memuji kenegarawan JK memang sulit untuk dicari bandingnya. Selain piawai di bidang ekonomi, jejak rekam JK sebagai pendamai berbagai konflik dan kiprahnya di ranah sosial juga layak diapresiasi.

"Sehingga sangat aneh ketika ada tokoh senior PDIP seperti Sabam Sirait yang menolak JK. Atas dasar apa JK digugat? Jika ada tokoh lintas partai seperti Angkatan Muda Partai Golkar, PAN, dan PPP yang simpati dengan duet Jokowi-JK mengapa seorang Sabam Sirait tidak? Anomali dari rentang pengalaman panjang Sabam Sirait? Ini yang patut dipertanyakan," timpal Ari.
http://pontianak.tribunnews.com/2014...tak-kendalikan


Mantan Jenderal Tua Bangka Dibalik Pemerintahan Jokowi
Sabtu, 16 Agustus 2014 07:31

Merdeka.com - Jokowi menggodok persiapan pemerintahannya di Kantor Transisi. Lembaga pemikir ini bertugas membedah visi misi Jokowi-Jusuf Kalla menjadi PROGRAM nyata. Kantor Transisi dipimpin oleh seorang kepala staf Rini Mariani Soemarno , menteri perdagangan dan perindustrian di era kabinet Megawati.Untuk urusan intelijen dan pertahanan, Jokowi juga menunjuk beberapa jenderal.

Luhut Panjaitan

Merdeka.com - Jenderal (purn) Luhut Panjaitan turut membidani kelahiran pasukan antiteror di Kopassus. Dia menjadi komandan pertama Sat-81 Gultor. Luhut adalah senior Prabowo Subianto di kesatuan ini.

Dia menjabat Komandan Pussenif, lalu menjadi menteri perindustrian. Luhut juga seorang pengusaha dan politikus Partai Golkar. "Saya diminta Pak Jokowi untuk menjadi istilahnya senior advisor untuk Rumah Transisi kira-kira 10 hari lalu. Saya baru datang hari ini, sekaligus memberikan masukan-masukan struktur kabinet," ujar Luhut di Rumah Transisi, Jalan Situbondo 10, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/8).


AM Hendropriyono

Merdeka.com - Kubu Jokowi menunjuk Jenderal (Purn) Hendropriyono sebagai satu dari empat penasihat kantor Transisi. Hendropriyono adalah mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Karir prajurit baret merah ini banyak dihabiskan di bidang sandi yudha dan operasi intelijen. Penunjukan Hendropriyono pun memancing polemik. Para korban pelanggaran HAM memprotes keputusan Jokowi ini. Mereka menilai Hendro terlibat kasus pelanggaran HAM Talangsari.

Jokowi menanggapi kontroversi ini dengan tenang. Dirinya meminta semua pihak untuk memisahkan siapa Hendropriyono di luar dan dalam Kantor Transisi. Sebab menurutnya permasalahan di luar dari Tim Transisi tidak perlu disangkut pautkan dengan pihaknya. "Hendropriyono sebagai apa, dewan penasihat. Ini kan urusan menyiapkan transisi pemerintahan itu wilayah yang lain jangan dimasukkan ke sini (Kantor Transisi), ini wilayahnya berbeda. Itu urusan siapa? Itu bukan. Wilayah di sini, itu wilayah menyiapkan transisi kok," kata Jokowi.
http://www.merdeka.com/peristiwa/4-j...hrul-razi.html

Wiranto

JAKARTA - Ketua Umum Partai Hanura Wiranto dikabarkan menjadi salah seorang yang ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk masuk ke dalam kabinet. Wiranto akan menempati posisi sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).

Kabar ini dibenarkan oleh anggota DPR RI asal Partai Hanura, Erik Satria Wardhana. Menurutnya, Wiranto telah diminta oleh Jokowi untuk jadi Menkopolhukam. "Saya rasa sudah konfirm (Wiranto jadi menteri)," kata Erik kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (25/10).

Erik mengatakan, Wiranto sebenarnya tidak pernah diusulkan Partai Hanura untuk jadi menteri. Pasalnya, mantan Panglima ABRI itu memang menolak untuk diusulkan. "Waktu itu Pak Wiranto proyeksikan masuk jadi dewan pertimbangan (Wantimpres)," tuturnya.

Namun, lanjutnya, belakangan muncul permintaan dari sejumlah pihak, agar Wiranto masuk kabinet. Jokowi pun ternyata memiliki keinginan serupa. "Pak Wiranto akhirnya menerima dengan pertimbangan untuk kepentingan yang lebih luas," pungkasnya.
http://www.jpnn.com/read/2014/10/25/...Menkopolhukam-



Masyarakat tak suka pemimpin tua
Selasa, 6 Januari 2015

Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), merupakan pemimpin termuda sejak 2004. Bahkan saat pemilu 2014 lalu, Jokowi (53) merupakan kontestan termuda. Sejak 2004, kontestan capres selalu berusia di atas 55.

Naiknya Jokowi terlihat mewakili aspirasi sebagian masyarakat yang disurvei oleh Founding Fathers House (FFH) di 34 provinsi dalam kurun 27 November hingga 29 Desember 2014 lalu. Dengan metode multistage random sampling, dijaring 1090 responden dengan margin of error 2,97 persen.

83,3 persen responden menilai perlu pembatasan usia seorang capres-cawapres. Sementara 26,3 persen responden menganggap 40 adalah usia minimal ideal bagi seorang capres-cawapres. Adapun usia 60 sebagai batas maksimal dipilih oleh 28,1 persen responden.

"Hanya 16,2 persen menganggap tidak perlu adanya batasan usia capres dan cawapres," kata peneliti senior FFH Dian Permata dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (5/1/2015).

Selain usia, responden juga menyoroti pendidikan capres dan cawapres. 90 persen responden menginginkan capres dan cawapres setidaknya telah menempuh pendidikan S1. "Usia 35 tahun sebagai syarat minimal menjadi capres-cawapres seperti dalam UU 42 tahun 2008 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden hanya dijawab 5,6 persen responden," tambah Dian.
http://beritagar.com/p/masyarakat-ta...mpin-tua-18175


Gus Mus: Pemimpin Tua Sudah Loyo, Indonesia Perlu Generasi Muda
Rabu, 25 Desember 2013 | 02:57 WIB

REMBANG, KOMPAS.com — Sudah saatnya tokoh-tokoh dari kalangan muda tampil menjadi pemimpin. Pemimpin dari golongan tua dinilai sudah tidak lagi bisa memberikan perubahan bagi negeri ini.

"Saya selalu support kalau anak muda maju, lebih segar. Kita tahu sendiri, sekarang ini orang tua tinggal loyonya. Bagaimana pun hebatnya orang tua, yang muda tetap lebih enerjik," ujar tokoh Nahdlatul Ulama Mustofa Bisri atau Gus Mus, di kediamannya di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (24/12/2013).

Gus Mus baru saja bertemu dengan peserta konvensi calon Presiden Partai Demokrat, Anies Baswedan. Menurut Gus Mus, Anies pantas menjadi pemimpin yang mewakili generasi muda. "Sekarang harus ada peremajaan. Tidak ada status quo di dunia ini," ucap budayawan yang kerap melontarkan kritik melalui syair dan lukisan ini.

Jika Indonesia tetap mempertahankan generasi tua memimpin bangsa, lanjut Gus Mus, maka hal ini berlawanan dengan kehendak alam. Dia melihat adanya fenomena para pejabat Indonesia yang sudah terlalu nyaman berada di posisinya. "Payahnya kita ini ada yang punya kesukaan kalau sudah duduk di kursi, sulit turun. Jadi sampai mati maunya," sindir Gus Mus.

Pemimpin muda, sebut Gus Mus, akan menjadi andalan karena belum tercemar dengan kebobrokan mental para pejabat selama ini. Dia berharap agar Anies tidak menjadi "fotokopi" dari kebobrokan pejabat, tetapi membawa kesegaran tersendiri.

"Sekarang, kita semua butuh orang yang punya kekuatan, bersikap tegas, dan mengambil keputusan lewat kepentingan rakyat," kata Gus Mus yang memiliki pondok pesantren Roudlatut Thalibin itu.
http://nasional.kompas.com/read/2013....Generasi.Muda


Ada Jokowi, Media Asing: Pemimpin Tua (sudah seharusnya) Beristirahat
SELASA, 08 APRIL 2014 | 10:56 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Keikutsertaan Joko Widodo, atau yang sering disapa Jokowi, menjadi calon presiden mengundang tanggapan media asing. Sejumlah media menyebut dia sebagai bakal pemimpin dari generasi baru. Situs berita Reuters menyebut fenomena Jokowi sebagai kesempatan Indonesia beristirahat dari pemimpin tua yang selama ini mendominasi. "Bahkan setelah 16 tahun sejak kejatuhan mantan Presiden Soeharto, Jokowilah pemimpin generasi baru," tulis Reuters, Senin, 7 April 2014. (Jokowi: Kalau Indonesia Maju, Papua Harus Maju).

Jokowi juga dianggap calon paling populer. Selama menduduki bangku Gubernur DKI Jakarta, Jokowi kerap bekerja di lapangan. Mantan pemilik usaha mebel ini pun dianggap mampu menunjukkan reputasinya yang bersih. Berbeda dengan politikus lain yang sarat dengan korupsi. (Soal Kampanye Hitam, Jokowi: Untuk Downgrade Saya).

Bahkan ia sanggup mengurai kemacetan dan menata pedagang di Pasar Tanabang, Jakarta Pusat. Jokowi juga mempertahankan jabatan Lurah Lenteng Agung, Susan Zulkifli, yang beragama Nasrani, dari protes warga. Dan kini, Lurah Susan berhasil menunjukkan sistem kerja yang bersih, tanpa calo, di kantornya." Jokowi pun mulai membangun mass rapid transit, guna mengurangi kemacetan di Ibu Kota." (Baca juga: Kata Amerika Soal Pencalonan Prabowo).

Namun di mata investor asing, Jokowi tidaklah sepenuhnya calon ideal. Sebab sebagai Gubernur DKI, ia sempat membuat kebijakan yang membingungkan pebisnis. Seperti memblokir izin pembangunan pusat perbelanjaan, karena ia menganggap mal sudah terlalu menjamur. Jokowi juga mengkritik ide mobil berbahan bakar murah sebab menganggap jalanan Ibu Kota sudah sangat padat. Namun di lain waktu, memberikan batasan upah buruh yang jauh di bawah angka tuntutan.

"Saat ini, Jokowi bagai halaman kosong. Ia hanya berpengalaman di politik nasional dan cenderung populis," ujar seorang pebisnis asing yang menolak namanya disebut.
http://www.tempo.co/read/news/2014/0...a-Beristirahat

----------------------------

Mereka seharusnya cukup duduk manis di rumah saja sambil sekali-kali datang memberikan pandangan kebijakan umum kepada Presiden (bioa diminta) tentang arah pembangunan negara berdasarkan pengalam mereka di pemerintahan dan kekuasaan dulu, Bukannya aktif mengendalikan kekuasaan di Pemerintahan yang sangat dinamik, apalagi di era Globalisasi sekarang, dan mulai terbukanya Indonesia dalam kawasan perdaganagan bebas Asia-Pasific.


Blog Archive