Monday, April 13, 2015

OECD: Dibawah Kepemimpinan Presiden Jokowi, Reformasi Indonesia Berjalan Lamban



OECD: Reformasi Indonesia Berjalan Lamban
25. March 2015, 13:19:37 SGT

OECD: Dibawah Kepemimpinan Presiden Jokowi, Reformasi Indonesia Berjalan Lamban

Presiden Joko Widodo kala tiba di Tokyo, Jepang, 22 Maret 2015.Yoshikazu Tsuno/Agence France-Presse/Getty Images
JAKARTA—Kebijakan ekonomi proteksionis dapat terus bergulir di Indonesia meski Presiden Joko Widodo berupaya untuk mempercepat jalannya reformasi.

"Laju reformasi dalam beberapa tahun belakangan melambat," tulis Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam laporannya. Upaya untuk meningkatkan kepastian kebijakan, menopang keuangan, meliberalisasi perdagangan, dan memperbaiki belanja negara "harus dipercepat menyusul bertumpuknya masalah dalam bidang reformasi struktural dan investasi publik."

Dalam masa awal kepemimpinannya, Joko Widodo telah membuat para ekonom terkesan. Namun, ia bukan obat mujarab yang dicari sejumlah pemain pasar, kata OECD.

"Pemilihan Umum 2014 berujung kepada timpangnya kekuatan politik, sehingga presiden baru menghadapi ganjalan untuk mewujudkan agenda reformasinya yang ambisius tanpa dukungan mayoritas di [Dewan Perwakilan Rakyat]," demikian laporan.

Presiden Joko Widodo akan kesulitan menarik miliaran dolar AS investasi baru yang diperlukan dalam mendanai perbaikan infrastruktur di tanah air. Perlambatan investasi pada 2013-2014 "seharusnya menjadi perhatian," tulis OECD. Penanaman modal naik menjadi seperempat PDB pada 2013 dari seperlimanya pada 2000.

Joko Widodo berada di Cina dan Jepang pada pekan ini guna membicarakan masalah pembiayaan dan investasi pada sektor infrastruktur.

Sentimen mengenai kebijakan proteksionis telah lama menggayuti proses pengambilan kebijakan di Indonesia, terutama dalam urusan pertanian dan pertambangan, tulis OECD. Undang-undang perdagangan baru tahun lalu memberikan kewenangan pada pemerintah untuk membatasi impor demi melindungi atau mempromosikan industri setempat. Pemerintah pun memutuskan bahwa sejumlah sektor penting seperti minyak dan gas terbatas bagi asing.

Pekan lalu, Amerika Serikat mengangkat kasus perdagangan produk pertanian atas Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia.

Sisi positifnya, prospek pertumbuhan Indonesia masih bagus dengan taksiran angka mencapai 5,3% pada 2015 dan 5,9% pada 2016.
http://indo.wsj.com/posts/2015/03/25...rjalan-lamban/

---------------------------

Rapopo ....

Link: http://adf.ly/1EeMsM

Blog Archive