Friday, April 24, 2015

Pengamat: Saya Dengar Safitri "Dekat" dengan Hakim Agung


Makelar kasus alias Markus itu katanya seperti angin, kerasa tapi sulit diliat, dibuktikan. Akhirnya cuma jadi desas-desus. Salah satu terduga Markus yg pernah ditelisik Tempo bernama Safitri Hariyani dan ini berita lain tentang Safitri. Gw ga banyak tau sosok ini. mungkin Agan2 ada yang tau bisa sharing.

************


JAKARTA - Pengamat hukum Arif Hidayat mengaku tidak heran atas banyaknya kasus suap yang terjadi di Mahkamah Agung (MA). Dia menilai lembaga itu sudah menjadi lahan subur tumbuhnya makelar kasus (markus).

"Memang sudah lama Mahkamah Agung menjadi tempat untuk penyuapan, bahkan makelar kasus," kata pengamat hukum dari Universitas Negeri Semarang itu kepada media.

Dia mengatakan, biasanya markus sudah mengenal lama para hakim agung. "Mereka biasanya pengacara maupun bekas pengacara yang sudah mengenal para hakim. Jauh sebelum menjadi hakim agung," terangnya.

Sejumlah markus, lanjut Arif, berani mengatasnamakan hakim tertentu untuk meminta uang kepada pihak yang sedang bersengketa di MA. "Saya pernah dengar seseorang yang berperkara mentransfer Rp15 miliar kepada hakim agung, tapi kasusnya tetap kalah," ungkapnya.

Sebelumnya, salah satu majalah terbitan nasional mengungkap dugaan kedekatan pengacara bernama Safitri Hariyani Saptogino dengan enam hakim agung. Safitri dan kelurga enam hakim agung tersebut disebut-sebut berkongsi mengelola bisnis rumah sakit di Cikampek, Jawa Barat.

"Saya memang pernah mendengar nama Safitri dekat dengan para hakim agung," kata Arif.

Dalam pemberitaan di majalah tersebut, Komisi Yudisial (KY) bereaksi dengan melaporkan temuan itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kerjasama bisnis antara pengacara dan keluarga hakim agung melanggar kode etik dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.

"Para hakim agung harus teguh dalam menegakkan hukum. Jika hakim agung komit, maka tak ada lagi celah untuk markus," tambah Arif.

Hal senada diungkapkan pengamat hukum dari Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf. Menurutnya, kasus suap dan praktik markus akan terus terjadi jika penegak hukum tidak konsisten dan tidak memiliki komitmen untuk menegakkan hukum.

"Penyuapan dan makelar kasus akan selalu ada di Indonesia jika penegak hukum tidak pernah konsisten dalam menegakkan hukum," tegas Asep.

http://news.okezone.com/read/2015/04...an-hakim-agung

Link: http://adf.ly/1FjwyB

Blog Archive