Saturday, April 11, 2015

RATU LEBAH "PDIP"


Jakarta - Dalam koloni lebah, Ratu Lebah adalah penguasa tunggal koloninya. Tidak hanya sebagai satu satunya betina yang berhak mengawini seluruh prajurit, Ratu Lebah yang bertubuh tambun itu tidak akan menyerahkan 'singgasananya' kepada betina lain sebelum mati dan kalah dalam pertarungan.

Demokrasi koloni lebah itu tidak sepenuhnya bisa dianalogikan kepada proses demokrasi pada Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kecuali pada soal regenerasi kepemimpinan partai tersebut, Megawati Sukarnoputri adalah figur yang tidakakan turun dari singgasananya dengan mudah sebelum masanya atau 'dimatikan' para pesaingnya.

Mega laksana Ratu Lebah PDIP yang tangguh. Secara aklamasi, Mega terpilih dengan sangat meyakinkan sebagai Ketua Umum PDIP pada kongres partai pemenang Pemilu tersebut (Jumat, 10/4). Tanpa gejolak internal partai, Mega mengukuhkan dirinya sebagai pimpinan partai terlama sepanjang periode reformasi. Sebuah capaian luar biasa dari seorang perempuan bermental besi yang partainya pernah hendak dihancurkan Orde Baru tersebut.

Empat kali terpilih sebagai pemimpin partai pemenang Pemilu, Mega tak hanya memberikan makna terhadap proses kaderisasi di PDIP tetapi juga memberikan warna dalam konstelasi demokrasi di Tanah Air. Soal kaderisasi kepemimpinan, Mega seakan mengukuhkan konsep 'presiden seumur hidup' yang pernah dicetus Ayahnya, Presiden Sukarno, pada pemerintahan Orde Lama dalam konteks kepartaian yang dipimpinnya.

Sepertinya PDIP memang tidak memiliki kader lain yang mampu mengendalikan 'partai banteng' tersebut. Padahal jika menelisik kader partai yang berhasil menjadi kepala daerah, PDIP memiliki banyak opsi untuk memilih pengganti Mega.

Bertahannya Mega di puncak kekuasaan tentu membuat proses kaderisasi partai tersendat. Apalagi Mega juga membawa gerbong panjang kader kader 'tua' (baca: pengurus lama) dalam kabinet baru partainya. Pilihan tersebut jelas akan menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi PDIP. Setidak tidaknya, masyarakat non marhaen sulit tertarik untuk bergabung dalam keanggotaan partai, sebab sulit 'naik kelas' karena status quo kepengurusan partai.

Konsekuensi lain adalah potensi pertikaian kader di masa depan. Karena memaksakan Mega untuk terus bertahan, bukan tidak mungkin, akan menciptakan ketidakmampuan kader agar terbiasa melalui siklus pergantian kepemimpinan partai. Suatu saat, ketika Mega dimakan usia dan tidak sanggup lagi berkuasa, kader PDIP yang telah lama menunggu berkuasa akan bertikai merebut singgasana. Terpendamnya hasrat banyak
kader itu akan membuat perebutan kursi kekuasaan akan berlangsung lebih liar dibandingkan perebutan kekuasaan partai partai lain yang berlangsung saat ini.

sumur' http://m.detik.com/news/read/2015/04...atu-lebah-pdip'


komen ts :
ratu lebah ngamuk padahl udah dapet jatah nge gilir....

ane serius tanya faham marhaenisme itu yg seperti apa sih gan?

typikal pemimpin indonesia gak pernah percaya sama yg muda, dan juga orang di sekeliling nya selalu gak siap kalo teman se jawat yg mimpin, alhasil regenerasi selalu tersendat, contoh sukarno, suharto, makanya akhirnya otak idah loyo tapi tetep di paksa mimpin. ya di gulingin... alih alih menghindari perpecahan, malah bikin lebih ancur, coba kalo turun pelan pelan, membangun regenerasi, seperti malaysia, cina, rusia.. grjolak dikit mah ra popo...

Link: http://adf.ly/1EPttV

Blog Archive