Monday, April 13, 2015

Seperti halnya PPP & Golkar, Ada Tanda2 PDIP akhirnya juga akan di"ICU"kan?


PDIP Sinyalir Ada Upaya Pecah Belah Partai

Rabu, 8 April 2015 − 05:02 WIB

BLITAR - Internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menduga ada upaya memecah belah partai, terkait munculnya nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi kandidat Ketua Umum (Ketum) PDIP.

"Ada pihak yang mencoba mendiskreditkan dan mengadu domba partai dengan menggunakan isu dari luar," kata Plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada wartawan di sela acara ziarah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di makam Proklamator RI Soekarno, Blitar, Selasa 7 April 2015.

Menurut Hasto, untuk mempertahankan soliditas partai, PDIP tidak memiliki pilihan lain selain mengkukuhkan kembali Megawati sebagai Ketua Umum. Mega dinilai memiliki keteguhan prinsip yang belum ada tandingannya.

Dibawah komando Mega, PDIP kata Hasto, terbukti mampu memenangi Pemilu 2014. Di sisi lain, seluruh arus bawah mulai tingkat ranting hingga DPD partai sudah menyatakan dukungan penuh terhadap Megawati.

Tidak heran bila kongres yang berlangsung 9-12 April 2015 nanti hanya akan mengukuhkan dan menetapkan Mega sebagai Ketum PDIP periode 2015-2020.

"Karena ini memilih Ketua Umum Partai bukan memilih Presiden. Soliditas adalah faktor penting. Dan jawabanya adalah Ibu Megawati Soekarnoputri," tegas Hasto.

Mengenai posisi jabatan Sekjen PDIP, secara diplomatis Hasto mengatakan, semuanya menjadi hak prerogatif Ketua Umum dan PDIP memiliki banyak kader yang mumpuni.

"Yang pasti semua yang terpilih harus siap menjalankan tugas. Ketum yang akan melantik di dalam kongres nanti," tandasnya.
http://nasional.sindonews.com/read/9...tai-1428440836


Ini Dia Operasi Intelijen Pemisahan Jokowi-Megawati
13/04/2015

intelijen – Direktur Eksekutif Point Indonesia, Karel Susetyo, mengungkapkan bahwa ada kelompok yang berusaha keras untuk memisahkan Presiden Joko Widodo dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Saya melihat ada kelompok yang tengah berusaha keras untuk memisahkan Jokowi dengan PDIP," ungkap Karel dalam keterangannya kepada intelijen (13/04).

Menurut Karel, upaya pemisahan Jokowi-Megawati diawali dengan upaya merusak citra Megawati, yang dikesankan telah merendahkan Jokowi.

Terkait hal itu, Karel menyarankan agar Megawati atau PDIP dan Jokowi segera melepaskan diri dari permainan politik yang telah sengaja diciptakan kelompok tersebut. "Keduanya harus sadar, PDIP dan Jokowi, segera melepaskan diri dari permainan politik yang sengaja diciptakan tersebut," papar Karel.

Karel menyarankan, baik Jokowi dan Mega harus mengintepretasikan permainan politik itu sebagai ancaman untuk menggagalkan Pemerintahan Jokowi dalam waktu yang cepat. "Dengan adanya kegaduhan politik, maka pemerintah akan kehilangan fokusnya dalam mewujudkan Nawacita," ungkap Karel.

Selain itu, kata Karel, pernyataan Megawati yang mengungkapkan adanya 'penumpang gelap', merupakan warning Megawati kepada Presiden Jokowi untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan roda pemerintahannya, agar tidak melenceng jauh dari Nawacita dan Trisakti Bung Karno.
http://www.intelijen.co.id/ini-dia-o...kowi-megawati/


Ini Dia Skenario Intelijen Megawati Hadang 'Gerombolan' Jokowi
10/04/2015

intelijen – Pengamat politik Tarli Nugroho mengungkapkan strategi dan skenario Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam menghadapi kubu atau "gerombolan" Joko Widodo yang berusaha merebut "Kandang Banteng".

Menurut Tarli, pernyataan Megawati soal adanya 'para pembonceng', 'orang-orang yang mengambil kesempatan di tikungan', telah memberikan penjelasan yang terang mengenai apa yang sebenarnya terjadi di belakang "dapur Istana".

Tarli mengambarkan ilustrasi upaya perebutan PDIP dari tangan Megawati. "Ilustrasi ringkasnya adalah: sedang dibangun sebuah blok baru di luar 'Blok Mega' dengan Jokowi sebagai ikonnya. Di mana, sesudah 'Istana' berhasil direbut, maka target berikutnya adalah merebut Kandang Banteng. Dan itu bisa menjelaskan banyak hal," kata Tarli Nugroho dalam keterangannya intelijen (10/04).

Megawati, kata Tarli, telah menempatkan empat 'orang-orang loyalnya' di posisi menteri Kabinet Kerja. Kata Tarli, empat kader PDIP yang ditugaskan jadi menteri secara kualitas mungkin biasa-biasa saja, bukan yang terbaik, tetapi mereka adalah orang-orang yang bisa loyal pada Megawati.

"Secara komposisional, dengan cerdik Mega telah menempatkan dua kader senior dan dua kader muda untuk duduk di kabinet. Sebagai kader partai dan politisi, Tjahjo Kumolo dan Yasonna Laoly tentu jauh lebih senior dari Jokowi," kata Tarli.

Dari sisi usia, menurut Tarli, bagi Tjahjo dan Yasonna mungkin jabatan menteri akan menjadi puncak karir bagi keduanya. Meskipun di atas kertas Tjahjo dan Yasonna adalah pembantu presiden, secara personal keduanya tidak akan mudah didikte oleh presiden.

"Sedangkan Puan, meskipun tergolong muda, bahkan lebih muda dari Presiden Jokowi, secara kultur dia selalu menempatkan dirinya lebih tinggi dari presiden. Sebagai puteri ketua umum partai yang juga mantan presiden, dan apalagi sebagai cucu pendiri Republik ini, baginya Jokowi posisinya memang tak lebih dari sekadar 'petugas partai'. Di mana dalam hirarki itu posisinya secara sosiologis dan historis jauh lebih tinggi. Ironis memang. Tapi demikianlah kenyataannya," papar Tarli.

Tak hanya itu, menurut Tarli, ditahannya sejumlah kader muda PDIP yang 'cemerlang' untuk tetap berada di luar kabinet, dengan kata lain tetap berada di dalam partai, adalah strategi kunci yang membuat sosok Megawati tetap bertahan dan power full dalam Kongres IV PDIP.

Selain itu, Tarli mengatakan, sejak awal Megawati memahami bahwa maju dan diajukannya Jokowi sebagai presiden pertama-tama bukanlah kehendak partai, melainkan terutama karena dorongan dari luar.

"Dan tekanan dari luar itu demikian kuatnya, sehingga meskipun di atas kertas PDIP adalah partai pemenang Pemilu, dan secara formal Jokowi adalah calon dari Kandang Banteng, namun Mega menyadari bahwa pemerintahan yang terbentuk tidaklah bisa disebut sebagai pemerintahannya PDIP," ungkap Tarli.

Tarli menyatakan, yang terjadi pada Jokowi, kemudian disebut berada di bawah cengkeraman kekuasaan lain di luar partai, bisa juga terjadi pada kader PDIP yang masuk pemerintahan. "Itu sebabnya Mega menahan banyak kadernya untuk tak terlibat terlalu banyak dalam pemerintahan," pungkas Tarli.
http://www.intelijen.co.id/ini-dia-s...mbolan-jokowi/


Megawati pun Khawatir PDIP Bakal di-Golkar-kan
Senin, 30 Maret 2015 , 17:13:00

JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar kongres pada bulan depan. Namun, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu juga mengaku khawatir akan dipecah-belah melalui konflik internal atau yang kini lebih dikenal dengan istilah di-Golkar-kan

Loh, kok bisa? Menurut Ketua DPP PDIP bidang Hukum, Trimedya Pandjaitan, tentu ada pihak-pihak yang ingin partainya tak solid.

"Ya pasti ada lah (kekhawatiran dipecah-belah, red). Yang selalu kita khawatirkan, partai nasionalis sekarang ini kan PDIP, tentu ada juga yang menginginkan PDIP ini tidak solid," katanya di gedung DPR, Senin (31/3).

Hanya saja, Trimedya menyebut peluang untuk memecah-belah partainya mulai tertutup karena kenferensi daerah (konferda) maupun konferensi cabang (konfercab) PDIP di berbagai wilayah berlangsung aman dan lancar. Artinya, hal yang berpotensi menjadi batu sandungan dalam penyelenggaraan kongres PDIP di Bali nanti sudah dituntaskan.

"Tapi syukur salah satu batu itu selesai kami lakukan, yakni proses konfercab di 508 kabupaten-kota berlangsung baik, dan konferdanya di 33 provinsi berlangsung baik. Bahwa ada upaya-upaya untuk itu (memecah PDIP, red) juga pasti ada," jelasnya.

Wakil ketua Komisi III DPR itu mengakui, kekhawatiran bahwa PDIP akan diganggu juga muncul di benak Megawati. Namun, Trimedya meyakini Megawati mampu mengatasi berbagai potensi yang ingin mengganggu PDIP.

"Tetapi kami meyakini bahwa Bu Mega ini politisi senior, yang badai-badai perpecahan seperti itu sudah cukup terlatih untuk mengatasinya. Beliau (Megawati) sendiri khawatir dan wapada soal itu iya," pungkasnya
http://www.jpnn.com/read/2015/03/30/...-di-Golkar-kan


T.B.Hasanuddin Curiga Survei Poltracking untuk Memecah Belah Kader PDIP
Senin, 23 Maret 2015 10:16 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Rilis rurvei terbaru Poltracking tentang calon ketua Umum PDI Perjuangan dipertanyakan. Politisi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin menganggap, hasil survei yang dimaksud tidak berdasar kaidah ilmiah.

"Hasilnya menurut saya aneh. Karena survei ini (poltracking) tak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dalam menentukan respondennya. Metodologinya ngawur. Sebagai contoh untuk mengetahui bagaimana tingkat pelayanan PT Kereta Api , agar valid dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, maka respondennya ya pelanggan atau penumpang KA, bukan penumpang pesawat yang tidak pernah naik kereta api," ujar Tubagus Hasanuddin, Senin (23/3/2015).

Diberitakan sebelumnya, tiga orang dalam trah Soekarno dianggap menjadi figur paling tidak direkomendasikan untuk memimpin PDI Perjuangan di masa depan. Sebaliknya, Presiden RI Jokowipaling dijagokan menjadi ketua umum partai berlambang banteng tersebut.

Demikian hasil survei pakar dan opinion leader menyongsong PDI Perjuangan yang dilakukan Poltracking Indonesia baru-baru ini. ‎Dalam survei itu, Poltracking menilai 9 kader PDI-P, yakni Joko Widodo, Pramono Anung, Ganjar Pranowo, Tjahjo Kumolo, Maruarar Sirait, Hasto Kristianto, Megawati Soekarnoputri, Prananda Prabowo, dan Puan Maharani.

"Tiga elite trah Soekarno berada di urutan paling bawah," kata Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha di Hotel Sofyan, Jakarta, Minggu (22/3/2015).

Tubagus Hasanuddin kemudian menegaskan, untuk mengetahui siapa yang didukung oleh kader PDIP untuk menjadi ketua umumnya , mestinya respondennya adalah kader PDIP dan bukan pakar. Para pakar, tegasnya, tak mewakili kader PDIP. Oleh karena itu, ia yakin, lantaran tak sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku maka, ia anggap hasilnya tidak valid dan tidak bisa dipertanggung jawabkan,"

"Saya mencurigai survei ini adalah survei pesanan untuk memecah belah kader PDIP menjelang kongresnya bulan depan. Pemilihan para pimpinan di PDIP mulai dari ketua anak ranting, ketua ranting ( tingkat desa ) , ketua PAC , DPC , DPD sampai Ketum dijaring dan dimulai dari usulan yang paling bawah, setiap kader boleh mengusulkan calon pemimpinnya," papar Tubagus Hasanuddin.
http://www.tribunnews.com/nasional/2...lah-kader-pdip


Maruarar: Waspadai Pemecah Belah PDIP

Jakarta - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Maruarar Sirait meminta kader mewaspadai pihak-pihak yang berusaha memecah belah partai, terutama pascahasil survei terbaru mengenai kepemimipinan PDIP.

Survei terbaru Poltracking menyimpulkan bahwa ketua umum petahana Megawati Soekarnoputri maupun keturunannya tidak direkomendasikan menjadi ketua umum periode berikutnya.

Menurut hasil survei, figur Megawati berada di posisi tiga terbawah dari sembilan tokoh yang dianggap layak menjadi ketua umum. Dua tokoh lain di posisi terbawah adalah putra dan putri Mega yaitu Prananda Prabowo dan Puan Maharani.

Namun, menurut Ara, PDIP punya kekhasannya sendiri dalam menentukan siapa calon ketua umum yang pantas memimpin.

Pada Rakernas di Semarang tahun lalu, 500 kader dari 33 provinsi telah bersepakat kembali meminta putri Soekarno itu kembali menjabat ketua umum dengan alasan yang menyatukan PDI-P adalah figur Megawati.

"Tentu ada ukuran ukuran ideologis dan sejarah dan Mbak Mega ini negarawan. Kenapa? Kewenangan Kongres Bali 2010, untuk posisi presiden itu diberikan kepada Mbak Mega sebagai ketum terpilih. Tetapi dia menyerahkan kepada Mas Jokowi," katanya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta Selatan, Senin (23/03).

Dengan kembalinya Megawati sebagai ketum PDI-P periode 2015-2019, Ara yakin partai berlambang banteng itu menjadi semakin solid dan kompak.

"Dan pasti akan ada upaya mengadu kita. Kita lihat partai lain mengalami perpecahan. Dan dalam konteks itu Mega tetap ketua umum," ujarnya.

Ara menghormati hasil survei yang dikeluarkan Poltracking. Namun, dia menegaskan PDI-P perlu waspada terhadap upaya siapapun yang berniat memecah belah.

"Tentu salah satu yang kita khawatirkan kalau kita tidak kompak, kita diadu. Survei sah saja. Kita dengarkan. Kita tidak mau menuduh siapapun. Dan hubungan Jokowi dan Mega tidak ada masalah, baik baik saja," pungkasnya.
http://www.beritasatu.com/nasional/2...elah-pdip.html


Inikah "kambing Hitam" Perusak Pagar Ayu Istana?
Quote:
Banyak Kebijakan Jokowi Yang Blunder Karena Ulah 'Trio Macan'
Jumat, 6 Februari 2015 | 12:19


Inilah Trio Macan Istana yakni Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Seskab Andi Widjajanto. [Google] Inilah Trio Macan Istana yakni Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Seskab Andi Widjajanto. [Google]

[JAKARTA] Sinyalemen negatif keberadaan "trio macan" di ring satu Presiden Joko Widodo semakin menguat.

Terbukti dengan munculnya sejumlah kebijakan "blunder" yang dilakukan Presiden Jokowi dalam memutuskan persoalan-persoalan strategis, yang tidak terlepas dari pengaruh personil trio macan, yakni Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri BUMN Rini Suwandi, dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan.

Menurut Pengamat Politik Ari Junaedi, penataan sektor energi tidak terlepas dari polesan tangan Rini Soemarno dan kakaknya Ari Soemarno.

Akibatnya tekad untuk lepas dari cengkraman mafia migas sulit dilakukan di era Jokowi.

"Demikian juga di sektor BUMN, Rini demkian berkuasa untuk mengutak-atik BUMN dengan dana PMN sebesar Rp70-an triliun yang kini tengah diajukan Pemerintah," kata Ari di Jakarta, Jumat (6/2).

Sebaliknya, Luhut Pandjaitan juga dinilai makin leluasa mengendalikan bisnisnya dengan berlindung di balik kepentingan Istana.

Sementara Andi Widjajanto, makin kuat menanamkan pengaruh Amerika Serikat di lingkaran Istana.

Ari Junaedi menilai, pengaruh Trio Macan dalam kebijakan-kebijakan yang ditempuh Jokowi seperti "bau" kentut.

Mudah tercium tetapi sudah untuk dilacak kebenarannya karena pasti disangkal oleh Jokowi atau oleh orang-orang yang dianggap sebagai anggota trio macan.

Langkah terbaik yang harus dilakukan Jokowi adalah menyadari keterpilihan dirinya sebagai Presiden bukan karena semata jasa Andi Widjajanto, Luhut Panjaitan atau Rini Soemarno.

Jika memang belakangan mereka membuat negatif bahkan menjatukan citranya, tidak ada cara lain selain harus mencopot orang-orang tersebut. "Jokowi harus berani dan tegas menghadapi kecoa-kecoa yang merusak reputasi Jokowi," jelasnya.

Kata Ari, kepuasan publik terhadap Jokowi, berdasar hasil jajak pendapat sebuah lembaga, jauh di bawah dibanding di era SBY dulu.

Artinya, pemilih Jokowi mulai jengah dengan kebijakan-kebijakan Jokowi yang ragu-ragu, tidak tegas dan terkesan disetir trio macan.

Menurut pengajar mata kuliah Humas Politik di Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) itu, keberatan PDI-P terhadap sepak terjang trio macan ada benarnya.

Sebagai partai pengusung utama Jokowi, PDI-P jelas dirugikan karena ulah trio macan.

"Justru bukan PDI-P yang menikmati buah kemenangan Jokowi tetapi individu-individu di trio macan. Andi, Rini dan Luhut bisa masuk ke lingkaran Istana bukan karena rekomendasi dari PDI-P, tetapi justru malah mengerdilkan PDI-P," jelasnya.

"Publik awam yang tidak mengerti konstelasi politik di Istana, tahunya Jokowi hanya jadi boneka PDI-P. Padahal Jokowi lebih mendengar bisikan trio macan."

Dia melanjutkan, sejarah mencatat bahwa hampir di setiap era kepresidenan di Indonesia, keberadaan tim pembisik dan berpengaruh seperti trio macan tersebut malah merontokkan presiden.

Soeharto pernah punya tim ahli yang beranggotakan Soejono Humardani dan Ali Murtopo. Gus Dur pernah percaya betul dengan tukang pijatnya Suwondo.

"Dan kini Jokowi mengulang sejarah dengan percaya betul dengan trio macan. Sekali lagi, masih banyak putra terbaik bangsa untuk menggantikan Rini Soemarno, Luhut Panjaitan atau Andi Wijayanto. Dan Jokowi harus berani mengambil langkah berani," bebernya.

"Dan ada baiknya PDI-P bersama partai-partai pengusung termasuk partai di koalisi Merah Putih untuk mendorong terjadinya pergantian personil di Istana," pungkas Ari Junaedi, yang juga dosen Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro, serta Univercidade Timor Leste itu.
http://sp.beritasatu.com/home/banyak...io-macan/77224


-----------------------------------




Salah kau sendiri, sudah tahu mereka adalah anak macan, kok malahan dipelihara? Bahkan sampai 3 ekor pulak! Jadi wajarlah bila habislah kau dilahapnya hidup-hidup, Jok!


Blog Archive