Monday, April 6, 2015

Strategy Pemenangan JKW Terungkap ...


Indah Mutiara Kami - detikNews
Yth. Pak Yanuar Nugroho, saya
Akbar Faizal alumni IKIP Ujung
Pandang jurusan Sastra (S1) dan
Komunikasi Politik (S2) UI, sekarang
anggota DPR RI. Saya ucapkan
selamat atas jabatan mentereng
sebagai deputinya Jenderal Luhut.
Pak Luhut dulu bagian dari tim
kampanye Jokowi-JK dan juga Tim
Transisi. Ada beberapa peran Pak
Luhut yang cukup layak untuk
dicatat dalam pemenangan Jokowi
meski menurutku tidak sebesar
peran Megawati yang
memerintahkan PDIP hingga ke akar
rumput untuk memenangkan
Jokowi. Sesungguhnya Jokowi tak
akan jadi Presiden jika PDIP atau
Mega tidak merekomendasikan
Jokowi. Hal yang sama juga terjadi
pada Surya Paloh, Muhaimin
Iskandar, Wiranto dan belakangan
Sutiyoso. Selanjutnya bergabung
berbagai relawan seperti Projo, Bara
JP, Seknas, dan lain-lain. Tak boleh
dilupakan sayap-sayap partai
pengusung seperti PIR dari Nasdem
dalam komando Martin Manurung
dan Relawan Cik Ditiro dalam
komando kawan-kawab PDIP.
Pasukan PKB terutama Marwan Jafar
berjibaku dengan kami di
Timkamnas dalam komando Cahyo
Kumolo dan Andi Wijayanto
berkeliling Indonesia meneriakkan
"Pilih Jokowi karena
bla...bla...bla..."
Tak ada anak Harvard di tim
pemenangan kami, yang agak jauh
kuliahnya itu paling Eva K. Sundari
yang pernah sekolah di Inggris
entah di mana. Saya tak terlalu
paham pula apakah di Inggris sana
dia menemukan suaminya yang
orang Timor Leste dan membuatnya
dimaki setiap hari oleh tim Prabowo
sebagai Katholik sejati atau
pengkhianat bangsa dan
seterusnya. Rieke Pitaloka setahu
saya kuliah di UI namun berkeliling
dari kampung ke kampung
sepanjang Jawa untuk meyakinkan
ibu-ibu untuk memilih Jokowi dan
berakibat dia disumpahi sebagai
keturunan PKI di semua medsos.
Ada pula yang bernama Teten
Masduki yang setahu saya hanya
alumni IKIP Bandung namun fokus
ke Jawa Barat dan meyakinkan
semua seniman-seniman
bermartabat untuk mendukung
Jokowi seperti Slank atau Iwan fals
atau Bimbo. Jika Anda tahu tentang
"Konser 2 Jari" yang menjadi
pamungkas kampanye dan
membalikkan persepsi publik
tentang besarnya dukungan massa
terhadap Jokowi dan Prabowo di
masa-masa krusial saat itu, itu
adalah kerjaan Teten.
Pak Luhut sendiri setahu saya (dan
sesungguhnya saya sangat tahu
masalahnya) banyak menghabiskan
waktu di kantor pemenangan yang
dibentuknya di Bravo 5 Menteng
dan berdiskusi or menelepon
banyak orang yang saya dengar
sebagai "orang LBP" entah di mana
saja. Beberapa kali saya rapat
dengan tim mereka di mana hadir
para pensiunan Jendral yang --
mohon maaf-- masih merasa
sebagai komandan pasukan dengan
berbagai kewenangan. Juga
proposal beliau tentang sistem IT
beliau yang cukup memarkir mobil
di depan KPU dan seluruh data-
data bisa tersedot. Kami di Jl.
Subang 3A --itu markas utama
pemenangan Jokowi Mas-- terkagum-
kagum membayangkan kehebatan
teknologi Pak LBP sekaligus
mengernyitkan dahi tentang proses
kerja penyedotan data tadi. Saya
yang pernah menjadi wartawan
senyum-senyum saja sebab sedikit
paham soal IT. Senyumanku
semakin melebar saat membaca
jumlah dan yang dibutuhkan untuk
pengadaan teknologi sedot-
menyedot tadi. Dalam hal massa,
tercatat 2 kali LBP mengumpulkan
masyarakat Batak di Medan dan
Jakarta untuk mendukung Jokowi-JK.
Mas Yanuar, saya merasa perlu
menulis seperti ini sebab saya
merasa kantor Anda terlalu jauh
mendeskripsikan diri akan tugas
dan kualifikasi staf sebuah kantor
Kastaf Presiden. Sebenarnya saya
tak perlu terlalu menanggapi soal
Harvard ini. Saya juga pernah ke
sana tapi sebagai turis. Otak saya
memang tak akan mampu kuliah di
sana. Lha wong saya orang desa.
Bahasa Bugis saya juga jauh lebih
lancar dari Bahasa Inggris saya.
Namun soal Harvard ini membuat
saya merasa "koq kalian menghina
bangsamu sendiri? Merendahkan
kualitas pendidikan bangsamu yang
kabarnya akan kau katrol
kualitasnya dengan cara
memasukkan orang Harvard atau
entah dari mana lagi di luar negeri
sana? Mengapa kalian semakin jauh
dari 'kesepakatan awal kita di tim
dulu untuk menghormati bangsamu
sendiri?' Mengapa kalian makin
kurang ajar saja? Saya sebenarnya
pernah ingin mempersoalkan
lembaga bernama Kastaf ini sebab
sejujurnya "tak ada" dalam
perencanaan kami di Tim Transisi
dulu. Sekadar menginfokan ke Anda
Mas bahwa Tim Transisi itu
dibentuk Pak jokowi untuk
merancang pemerintahan yang akan
dipimpinnya. Tapi saya sungguh tak
nyaman mempersoalkan itu sebab
akan dituding macam-macam.
Misalnya, akh karena AF kecewa
tidak jadi menteri dan lain-lain.
Dan masih banyak lagi sebenarnya
yang ingin saya pertanyakan.
Termasuk surat presiden ke DPR
tentang Budi Gunawan yang disusul
kontroversi-kontroversi lainnya. Ke
mana para pemikir Tata Negara di
sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang
kudengar selanjutnya malah
pengangkatan Refly Harun sebagai
Komisaris Utama Jasa Marga.
Mungkin Bu Rini anggap Refly
sangat paham soal Tol karena
setiap hari melalui macet, persoalan
yang Pak Jokowi katakan dulu akan
lebih mudah menyelesaikannya
sebagai presiden ketimbang sebagai
Gubernur DKI-- dari rumahnya di
Buaran sana.
Mas Yanuar, sebagai anggota DPR
pendukung pemerintah dan Insya
Allah punya peran (meski sangat
kecil) terhadap kemenangan Jokowi-
JK, saya ingin kalian di istana fokus
pada tugas yang lebih membumi.
Misalnya, jangan biarkan kami di
DPR dihajar bagai sansak oleh
orang-orang Prabowo dalam kasus
kenaikan tunjangan mobil pejabat,
misalnya, hanya karena kalian tak
mampu berkomunikasi dengan kami
di DPR (atau parpol pendukung. Ini
juga satu soal sendiri karena
terbaca dengan kuat kalau kalian
ring 1 Presiden kini sukses
melakukan deparpolisasi) dan atau
gagal meyakinkan publik akan
seluruh keputusan-keputusan
Presiden/pemerintah. Soal sesepele
ini tak perlu kualitas Harvard.
Saya merasa mengenal beberapa
orang di Istana Negara tempat
Anda berkantor sekarang. Entah apa
mereka (masih) mengenal saya
sekarang.
Tapi saya nggak memikirkannya.
Saya hanya minta kalian di sana
berhenti melakukan hal yang tak
perlu seperti deklarasi soal Harvard
yang akan masuk Istana. Sekali lagi,
saya sebenarnya tak perlu menulis
panjang lebar seperti ini hanya
untuk menanggapi soal Harvard ini.
Tapi saya harus lakukan sebab
menurutku kalian makin jauh dari
seluruh rencana awal kita. Dan
sayangnya, seluruh rencana awal itu
saya pahami dan terlibat di
dalamnya. Saya sekuat mungkin
berusaha menghindari kalimat-
kalimat keras untuk memahami apa
yang kalian lakukan di sana. Tapi
sepak terjang kantor Mas Yanuar
bernama Kastaf Kepresidenan itu
makin jauh.
Terakhir, saya sarankan agar
menahan diri dalam memberikan
masukan ke presiden. Jangan
racuni pikiran presiden yang polos
dengan permainan yang dulu kami
hindarkan beliau lakukan meski
kadang gregetan lihat langkah-
langkah tim Prahara. Terkhusus
dengan Pak JK, saya minta kalian
berikan rasa hormat. Tanggal 9 Juli
lalu, 63% penduduk Indonesia
memilih Jokowi-JK dan bukan
Jendral Luhut Binsar Pandjaitan
apalagi Anda-anda yang bergabung
belakangan.

m.detik.com/news/read/2015/04/05/231523/2878501/10/2/ini-isi-lengkap-sindiran-akbar-faizal-soal-lulusan-harvard-masuk-istana

Link: http://adf.ly/1DVs9G

Blog Archive