Sunday, May 10, 2015

Abdi Dalem Kraton Fokus Jaga Keutuhan Lembaga


YOGYA (KRjogja.com) - Kraton Yogyakarta sebagai sebuah institusi atau lembaga budaya tidak goyah
hanya dikarenakan polemik Sabdaraja Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menuai pro kontra baik di
kalangan internal maupun eksternal kraton. Untuk itu para abdi dalem atau penjaga budaya tetap fokus
menjaga keutuhan kelembagaan Kraton Yogyakarta.
Hal tersebut ditegaskan Pengageng Tepas Dwarapura Kraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung
(KRT) H Jatiningrat SH atau yang akrab disapa Romo Tirun saat ditemui di Kraton Yogyakarta, Sabtu
(09/05/2015). Humas Kraton Yogyakarta yang tidak lain cucu-cucu dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII
atau anak GBPH Prabuningrat (mantan Rektor UII Yogyakarta) atau kakak Sultan HB IX ini sebelumnya
enggan berbicara terkait sabdaraja, namun karena polemik semakin memanas membuatnya angkat bicara.
"Sebagai aparatur Kraton Yogyakarta, sabdaraja dan dawuh raja itu kan maunya Sultan HB X jadi bukan
tanggung jawab kita maupun saudara dan cucu-cucu sultan terdahulu. Sebagai cucu saya juga tenang-
tenang saja karena tidak apa-apa," ujarnya.

Romo Tirun menyampaikan di tengah pro kontra sabdaraja tersebut yang penting adalah menjaga
keutuhan lembaganya yaitu Kraton Yogyakarta. Sebab kraton adalah peninggalan leluhur, soal ada
perbedaan pendapat itu silahkan saja dan resikonya ditanggung Sultan HB X. Para pengeran atau adik-
adik Sultan HB X nantinya yang seharusnya bertugas menyelesaikan pertentangan ini dengan Sultan HB X
langsung, tidak ada hubungannya dan tidak berhak di luar tersebut untuk mencampuri.
"Polemik sabdaraja Sultan HB X ini sama sekali tidak menggoyahkan kelembagaan Kraton Yogyakarta.
Pokoknya ketenangan para abdi dalem ini jangan sampai terganggu sama sekali oleh itu, karena
pengabdian mereka hanya kepada lembaga bukan orang," tandas pria yang kini berumur 71 tahun
tersebut.

Diakuinya saat ini para abdi dalem juga merasa bingung dengan polemik tersebut, namun supaya tidak
kebingungan yang benar kembali ke kelembagaan bahwa mereka abdi dalem atau abdi budaya. Abdi kraton
itu bukan 'baturnya' atau pembantunya Sultan tetapi abdi negara atau 'PNS'-nya kraton. Secara umum,
Romo Tirun menegaskan seluruh abdi dalem tidak terpengaruh akan polemik sabdaraja tersebut.
Ditekankan sekali lagi, abdi dalem jangan bingung tetap seperti biasa menjalankan tugasnya sebagai abdi
budaya. Sifatnya orang Jawa pasti bertanya, termasuk para abdi dalem Kraton Yogyakarta namun sebagai
penjaga budaya atau orang-orang yang mempertahankan institusi Kraton Yogyakarta tetap diminta
kembali pada tugas pokoknya.

"Silahkan jika sultannya berganti, sebagai abdi dalem pengabdian hanya pada lembaga. Kejadian ini
memang belum pernah terjadi sebelumnya dan baru sabatama hingga sabaraja dikeluarkan Sultan HB X,
apapun reaksinya sudah resiko beliau," ungkap Romo Tirun.

Dalam kelembagaan Kraton Yogyakarta sendiri, Romo Tirun mengatakan masih memakai nama Sultan
Hamengku Buwono bukan Bawono dalam urusan surat kedinasan kraton. Sebelum ada surat resmi dan
pemberitahuan pergantian nama tersebut maka masih tetap memakai nama Buwono, termasuk pemakaian
di masyarakat.

"Semua harus ditindaklanjuti apabila ada pergantian nama harus diberitahukan, diumumkan kesemua
instansi dan masyarakat. Selama belum diumumkan resmi dengan dawuh dalem lagi, belum boleh diganti
administrasinya termasuk dalam Undang-Undang Keistimewaan (UUK) sebagai paugeran negara,"
jelasnya.


Romo Tirun juga mengingatkan Sultan HB X perihal janjinya kepada Sultan HB IX sebelum jumenengan
atau sebelum naik tahta menjadi Raja Kraton Yogyakarta yang berisi lima hal dan ditulis hitam di atas putih. Lima janji Sultan HB X tersebut yaitu untuk tidak mempunyai prasangka, iri dan dengki kepada orang lain, untuk tetap merengkuh orang lain yang biarpun orang lain tersebut tidak senang, untuk tidak melanggar paugeran negara, untuk lebih berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah dan untuk tidak mempunyai ambisi apapun selain untuk menyejahterakan rakyat. "Semua itu inti dari Hamengku Buwono tekadku. Itu janji Sultan HB X sebelum naik tahta kepada Sultan HB IX," ujar Romo
Tirun.

Terkait isu Pisowanan Ageng yang rencananya digelar di Pagelaran Kraton Yogyakarta pada Minggu
(10/05/2015), dirinya menegaskan tidak mengetahui hal tersebut apalagi merencanakannya. Sebab
pisowanan ageng itu dibuat untuk suatu tujuan, dan dirinya merasa sama sekali tidak mengerahkan massa
atau kelompok-kelompok tertentu untuk menggelar aksi maupun pisowanan ageng tersebut. "Ngawur itu
tidak benar, saya justru tidak tahu sama sekali ada pisowanan ageng," imbuhnya. (M-3)

http://krjogja.com/m/read/259690/abdi-dalem-kraton-fokus-jaga-keutuhan-lembaga.kr

nah loh sapa hayoooo make make nama romo tirun


Link: http://adf.ly/1GnGKz

Blog Archive