Friday, May 1, 2015

[BERITA ABBOT] Bagaimana Tony Abbot “Men-Waltzing-Mathilda” Jokowi


Waltzing Mathilda adalah lagu kebangsaan tidak resmi Australia. Dalam lagu yang ceria itu diceritakan bagaimana pongahnya tentara dan polisi Australia dalam menghadapi seorang homeless pencuri domba. Si pencuri akhirnya lari terbirit birit dan terjun ke billabong, mati tenggelam, dan hantunya gentayangan sampai sekarang. Sebuah kisah tragis yang dikemas dengan nada lucu, ceria, dan musik yang mengajak untuk berdansa.

Dan saat ini Tony Abbot sedang me-waltzing-mathilda Jokowi. Ada peristiwa tragis, dua orang Australia yang yang dihukum mati di Indonesia dan Abbot menari-nari untuk kepentingan politiknya dalam negeri. Kepongahannya persis tentara dan polisi Australia yang digambarkan dalam Waltzing Mathilda, pertama membully, dan mengancam dengan menghubungkan bantuan masa lalu dan terkahir, menarik duta besarnya dari Indonesia. Deplomasi dengan gaya seperti ini lebih banyak ditujukan untuk audience dalam negeri Australia karena Abbot mulai dipertanyakan dan banyak dikritik di dalam negeri. Waltzing Mathilda Abbot bukan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan dua terhukum mati, tetapi lebih untuk pencitraan dalam negeri. Karena itulah usahanya sia-sia dan dua terpidana mati itu sekarang sudah tiada.

Dalam berhubungan dengan Indoensia, Australia seharusnya lebih memahami kultur dan budaya Indonesia, utamanya Jawa. Diplomasi dibalik layar dengan intensi yang sungguh-sungguh dan tulus, akan lebih diterima oleh Jokowi daripada menunjukkan arogansi kekuatan, mengancam, dan membully. Lihat bagaimana presiden Philipina berusaha menyelamatkan warganya. Tidak ada bullying, tetapi aksi sungguh-sungguh yang tulus dan bukti dan saksi baru yang bisa membawa kasus menjadi lebih terang.

Gedang Kepok anti hukuman mati, tetapi bullying dan gaya Australia dalam berdiplomasi dengan Indonesia tidak akan efektif merubah pandangan pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia pada hukumana mati. Membangun wacana di Indonesia dengan diplomasi budaya dan dialog terus menerus akan mencapai tujuan mulia itu. Dengan men-waltzing-mathilda Jokowi demi kepentingan politik dalam negerinya, Abbot sama saja telah membully dan menunjukkan kepongahan dan memandang Indoensia dengan sebelah mata dan ternyata gaya diplomasi ini telah gagal. Gedang Kepok juga percaya, rakyat Australia tidak suka dengan gaya diplomasi Abbot ini.

http://politik.kompasiana.com/2015/04/30/bagaimana-tony-abbot-men-waltzing-mathilda-jokowi-715311.html

Comment:
Hukuman mati memang tidak manusiawi, tetapi langkah diplomasi Aussi memang tidak bijak ...

Link: http://adf.ly/1G6yDQ

Blog Archive