Sunday, May 10, 2015

Cerita Amis Darah di Museum Fatahillah


Cerita Amis Darah di Museum Fatahillah
TAMANSARI – Sebagai satu di antara sejumlah bangunan tua di Ibu Kota, bangunan Museum Sejarah Jakarta memiliki nuansa klasik yang kental. Tak hanya itu, kesan mistis pun sangat kuat. Tak heran jika banyak pengalaman mistis di museum ini, terutama seperti yang dialami para penjaga malam di museum yang memiliki nama lain Museum Fatahillah ini.

Syaiful Syam (61), satu di antara penjaga malam di museum ini menuturkan, ia beberapa kali mengalami situasi mistis yang kuat saat menunaikan tugasnya berjaga malam.

"Kadang sih sesekali juga pernah lihat bayangan hitam gitu, sekelebat tapi, langsung hilang lagi, "ujar pria yang kerap disapa Bang Ipul ini kepada Infonitas.com.

Tapi yang paling mengerikan, tukas Bang Ipul, adalah bau amis yang kerap menyengat di ruang bawah tanah khusus tahanan wanita.

"Semerbak, kayak bau darah gitu. Untungnya pengecekannya tidak sampai ke bagian dalam gedung karena langsung dikunci di atas pukul 16.00, ujarnya.

Pria yang sudah menjadi penjaga malam Museum Sejarah Jakarta lebih dari 18 tahun ini menuturkan penjaga-penjaga, seangkatannya sudah banyak yang pensiun dan lebih banyak mengalami pengalaman seram dibandingkan dia.

"Dulu sih istilahnya masih centeng lah penjaga malam kaya kita. Masih digaji harian juga. Kalau penjaga-penjaga terdahulu malah sudah pada pensiun, mereka tau-nya lebih ngeri lagi. Kalau saya sih belum pernah liat roh halus seperti meneer dan noni Belanda seperti cerita orang-orang. Kalau mereka sih sudah pernah," ungkapnya. Meski demikian, kondisi museum di siang hari normal-normal saja dan berbeda dibanding malam hari. Tidak pernah ada kejadian janggal seperti di malam hari.

Aura mistis museum ini kerap dimanfaatkan pengunjung yang ingin mencari peruntungan bersifat ghaib.Bang Ipul mengatakan, pernah ada orang datang ke museum ini untuk mencari nomor judi togel.

"Dia datang sama orang pintar, mau cari nomor togel. Enggak tahu gimana, di ruang penjara mereka dapat batu phyrus," tutur Bang Ipul.
Suasanana yang mistis yang kerap menyelimuti museum ini juga tak jarang membuat pengunjung kerasukan. Mohammad Tohari, penjaga lainnya mengatakan, yang lebih sering kerasukan adalah pengunjung wanita.

"Kebanyakan yang kerasukan itu pengunjung wanita. Gak tau juga kenapa, mungkin kondisi fisiknya lebih lemah kali,"tukasnya.

Tohari juga sependapat dengan Bang Ipul, yang paling mengerikan dari nuansa mistis Museum Sejarah Jakarta adalah bau amis darah yang kerap menyengat. Hawa dari selasar sampai depan ruang bawah tanah kerap tiba-tiba berubah pengap. Tohari sendiri mengaku tak mau berlama-lama di lokasi itu.

"Tiap kali menjelang malam, bau-nya mulai muncul. Gak nahan, kayak bau amis darah itu gimana sih, bau-nya tuh bikin pusing, nafas juga pengap," tukasnya lirih.
Mengutip dari tulisan Sejarawan Alwi Shahab yang dilansir di laman web site bataviadigital.perpusnas.go.id, kisah penjara bawah tanah dari abad ke-18 itu miris dan mengerikan. Ruangan tidak seberapa luas dan tinggi hanya dua meter tersebut harus diisi oleh 500 tahanan yang berdesak-desakan. Sementara daya tamping sebenarnya hanya 30 tahanan.

Para narapidana saat melakukan kerja paksa di luar penjara, kedua kakinya diikat dengan bola-bola besi. Di antara ruangan itu juga terdapat tempat penyiksaan seperti bangku dan alat skrup untuk menyakit jari-jari tahanan. Menurut sejarawan Belanda Hans Bonke, sampai 1763 itu mereka ditempatkan di delapan tempat penjara bawah tanah itu. Pada 10 Oktober 1740, ketika terjadi pembantaian 10 ribu orang Cina, ke-500 orang itu dibunuh.

Hingga tahun 1925, saat Jepang masuk ke Indonesia, gedung yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck pada 10 Juli 1710 tersebut menjadi Balaikota Propinsi Jawa Barat oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah perang kemerdekaan 1945 berubah lagi menjadi Balai kota Propinsi Jawa Barat dan selanjutnya dijadikan Kantor Kodim 0503 Jakarta Barat.

Pada 1972, gedung tersebut diambil alih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974. Di pintu masuk penjara bawah tanah wanita itu dituliskan, penjara ini sering disebut sebagai lorong gelap. Sebab, ruangan ini sangat gelap tanpa alat penerangan, dan hanya ada dua jendela yang dibuka pada siang hari.

Mereka yang ditahan di sel ini kebanyakan karena melawan pemerintah VOC, salah satunya Cut Nyak Dien, pejuang sekaligus Pahlawan Nasional asal Aceh. Mereka yang ditahan di sini biasanya tinggal menanti hukuman mati berupa digantung atau dipancung. Tempat eksekusinya dilakukan di depan gedung Balai Kota Batavia.

Sumur : http://www.infonitas.com/megapolitan...3#.VU8lDUbMjEY

Agan2 yang belum pernah bekunjung ke museum Fatahillah, Silahkan coba sensasinya ..

Link: http://adf.ly/1GqvcA

Blog Archive