Wednesday, May 13, 2015

Demi Bersekolah, Edi Tempuh Jarak 5 Km Pakai Kursi Roda


Demi Bersekolah, Edi Tempuh Jarak 5 Km Pakai Kursi Roda

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Panasnya terik matahari dan dinginnya air hujan tak menghentikan tangan Edi Priyanto (16) untuk terus memutar ban kursi rodanya. Dari rumahnya di Manggung, Sumberangung, Jetis, Bantul, setiap hari Edi menaiki kursi roda menuju SMP N 2 Sewon, Bantul yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer.

Sejak kecil, fisik Edi Priyanto (16) memang tidak sempurna. Ia pun harus menghabiskan hidupnya di atas kursi roda untuk beraktivitas.

"Sejak kecil (disabel), tapi tetap bersyukur diberikan kesehatan," ucap Edi Priyanto (16) saat ditemui Kompas.com di SMP 2 Sewon, Bantul, Rabu (13/5/2015).

Edi menceritakan, setelah lulus sekolah dasar (SD) pada 2014 lalu, ia awalnya tidak ingin meneruskan pendidikannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Edi berencana untuk berwirausaha dengan berjualan burung merpati. Namun, saudaranya mendaftarkan Edi ke SMP 2 Sewon, Bantul.

"Saya ingin usaha, tapi sudah didaftarkan di sini yang ada inklusinya. Ya, enggak apa-apa memang saya kalau diberi kesempatan, ingin sekolah," jelasnya.

Edi pun akhirnya bersekolah demi meraih cita-citanya sebagai teknisi komputer. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Edi setiap hari harus menempuh pejalanan 5 kilometer dengan kursi roda dari rumahnya ke sekolah. Agar tidak terlambat, setiap hari Edi bangun sekitar pukul 3.30 WIB. Setelah mandi dan shalat, sekitar pukul 05.00 WIB ia berangkat menuju sekolah.

"Sekitar satu jam-an dari rumah ke sekolah. Ya, lewat jalan Parangtritis," ucapnya.

Jarang sarapan

Ia mengaku sengaja bangun pagi karena agar tidak terlambat masuk sekolah. Sebab, ia berangkat dengan kursi roda. Belum lagi ketika jalanan ramai ia harus sering-sering mengalah melewati tanah yang tentu menghambat laju kursi roda. Karena berangkat sangat pagi, Edi pun jarang sarapan.

"Ya, enggak sarapan, enggak bawa minum juga. Makan baru istirahat siang. Enggak terbiasa sarapan pagi," katanya.

Ketika pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB, Edi harus bersabar menunggu sinar matahari sedikit redup. Sedangkan ketika hujan turun, ia kerap pulang dengan menggunakan mantel dan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melewati jalanan tanah yang basah. Kursi roda yang dipakainya pun beberapa kali sering rusak di tengah jalan. Ia pun terpaksa meminta bantuan orang lain untuk memperbaikinya, setidaknya kursi roda bisa jalan sampai ke rumah.

"Lahernya yang sering kali rusak. Untung ada orang yang mau membantu. Yang penting bisa sampai rumah, nanti diperbaiki lagi," tandasnya.

Tetap semangat

Meski menempuh jarak yang terbilang cukup jauh setiap hari, laki-laki kelahiran 30 Oktober 1997 ini tak pernah mengeluh. Ia tetap semangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi halangan bagi untuk orang mengenyam pendidikan demi meraih cita-cita.

"Saya dulu dihina. Saya ingin membuktikan kalau bisa dan melebihi mereka. Mengeluh tidak akan membuat saya bisa meraih cita-cita sebagai teknisi komputer," ucapnya.

Edi juga enggan dikasihani dengan kondisi fisiknya seperti ini. Bagi dia, hidup harus dijalani dengan perjuangan demi masa depan yang lebih baik.

"Urip yo urip (hidup ya hidup). Selalu bersyukur dan tetap harus semangat untuk masa depan," katanya sambil tersenyum.

Ke depan, laki-laki yang terkenal periang ini, jika ada kesempatan setelah lulus dari SMP 2 Sewon, ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) mengambil jurusan teknisi komputer.

Tak pernah terlambat

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 2 Sewon, Asnawi mengatakan, meski berangkat dengan kursi roda dan jaraknya kurang lebih 5 kilometer, Edi tidak pernah sekalipun terlambat masuk sekolah. Ia justru sering kali datang lebih dulu dibandingkan teman-temanya.

" Jarak dari rumahnya ke sekolah lebih kurang 5 kilometer. Tapi tidak pernah terlambat masuk sekolah," ujarnya.

Asnawi mengungkapkan, dulu pernah dicarikan sekolah inklusi yang lebih dekat, namun Edi tetap memilih ke SMP Sewon, karena sudah merasa nyaman.

"Dia sudah nyaman dan ingin sekolah di sini, ya sudah kalau itu keinginanya," pungkasnya.

http://regional.kompas.com/read/2015...kai.Kursi.Roda

luar biasa..

ane waktu SMA jarak rumah sekolah 2 KM pake sepeda motor aja masih sering bolos..

Link: http://adf.ly/1H3msh

Blog Archive