Thursday, May 7, 2015

Gkr pembuyan punya tokoh spritual?


Gkr pembuyan punya tokoh spritual?

Gunawan/Setiaky/Radar Jogja
DISEBUT TOKOH SPIRITUAL: Dartorejo (ketiga dari kanan) ikut dalam rombongan GKR Pembayun saat ziarah ke Makam Ki Ageng Giring III di Sodo, Paliyan, Gunungkidul, sehari sebelum penobatan sebagai putrid mahkota. Foto…Petilasan Wono Kobaran di Girisuko, Panggang, terlihat cukup asri kemarin (6/5).

Nama Dartorejo mendadak muncul di tengah polemik soal sabdaraja dan dawuhraja Sultan HB X yang kemudian mendapat penolakan dari adik-adik Ngarso Dalem. Nama Darto ini bahkan disebut oleh GBPH Yudhaningrat sebagai tokoh spiritual Keraton Jogja, termasuk acara pisowanan itu. Radar Jogja pun berusaha mewawancari Darto dengan menemui di rumahnya di Gunungkidul.


Jarum jam menunjuk pukul 9.10. Cuaca di Dusun Temuireng, Girisuko,
Panggang, kemarin (6/5) berawan. Aktivitas warga didominasi petani
menikmati keseharian dengan normal. Namun, suasana berbeda berlangsung
di Petilasan Wono Kobaran. Di petilasan inilah Dartorejo tinggal.
Menurut keterangan warga, petilasan tersebut cukup lama tidak ada
aktivitas. Berbeda dibanding waktu sebelumnya yang selalu ramai dikunjungi
peziarah. Kondisi demikian praktis berpengaruh terhadap lingkungan di
sekitar.
"Tapi belum lama ini sudah dibersihkan oleh penjaga petilasan. Namanya
Pak Darto," ujar salah seorang penduduk terdekat kepada koran ini.
Di tengah percakapan dengan warga ini, mendadak Dartorejo melintas
dengan kendaraan roda dua menuju arah petilasan. Dia dibonceng Eni, salah
satu anak perempuannya. Radar Jogja langsung menyusul dan berjumpa
dengan Eny yang hendak balik kanan pulang.
Namun begitu, Dartorejo sudah tidak terkejar lagi. Dia seolah menghilang
begitu saja. Suasana pun mendadak sunyi. Suara hewan saja nyaris tidak
terdengar. Jalan menuju pintu petilasan sendiri berupa tangga dari bebatuan,
menurun. Lokasi ini di bawah berbentuk pelataran cukup luas, sementara di
sebelah kanan ada bangunan berderat di antara pintu yang terbuka lebar.
Di situ ada tangga naik sampai ke puncak bukit. Kanan kiri juga terdapat
bangunan, sebelah kiri pintu terkunci rapat namun bangunan sisi kanan
terbuka lebar. Di dalamnya terdapat empat patung berbaju kerajaan nampak
sungkeman. Ya, seperti sungkeman dua orang putri kepada kedua orang
tuanya.
Tidak seperti petilasan pada umumnya, tempat ini tidak dijumpai bekas
pembakaran kemenyan atau sejenisnya. Warna-warni petilasan Wono
Kobaran tidak hanya itu saja. Naik lagi ke atas, masih dengan menyusuri
tangga cukup tinggi. Ada sekitar 65 anak tangga yang harus dilalui jika
melangkah dari bawah.
Suasana mistis makin terasa. Desiran angin menggoyang dahan dan ranting.
Tepat di puncak bukit terdapat dua bangunan. Sebelah kiri ada dua makam
tanpa ada tulisan nama di atas batu nisan. Kemudian bagian kanan berupa
bangunan cukup besar terkunci rapat. Tidak ada yang dapat dilihat karena
setiap sudut ditutup dari dalam.
Misteri Petilasan Wono Kobaran sendiri hingga kini masih menjadi misteri.
Penjaga petilasan yang juga disebut-sebut sebagai tokoh spiritual keluarga
Sultan HB X, Dartorejo, belum bisa ditemui. Pria empat anak itu diketahui
sehari-hari sebagai seorang petani.
Dia cukup terkenal di kampungnya sebagai penjaga petilasan. Anak
Dartorejo, Eni mengatakan, aktivitas sang ayah cukup padat. Jika ke ladang
berangkat pagi pulang petang. Dalam beberapa hari ke depan juga akan
menghadiri acara di Keraton Jogja.
"Bapak kalau diwawancara terkait petilasan oleh wartawan tidak mau. Tapi
silakan lain waktu dicoba, mungkin kalau Anda yang wawancara tidak
keberatan," kata Eni. Ditanya soal bapaknya disebut-sebut tokoh spiritual
keluarga Sultan HB X, dia tidak mau menjawab. Dia mengakui bapaknya
memang sering ke Keraton Jogja.
Lokasi Petilasan Wono Kobaran sendiri cukup strategis karena tidak jauh dari
jalan raya. Dari arah Wonosari cukup menyusuri Jalur Jalan Lintas Selatan
(JJLS), jaraknya sekitar 40 kilometer. Begitu juga dari arah Jogja, cukup
melintasi JJLS.
Kalau sudah sampai di Desa Girisuko, maka dengan mudah menemukan
petilasan yang kabarnya rutin diziarahi tokoh Keraton Jogja pada malam 1
Suro itu. (laz/ong)

http://www.radarjogja.co.id/blog/2015/05/07/dartorejo-orang-yang-disebut-sebut-sebagai-tokoh-spiritual-keraton-jogja/

Link: http://adf.ly/1GaQTv

Blog Archive