Tuesday, May 5, 2015

Investor Bertanya-tanya ke Mana 'Jokowi Effect'?


Jakarta -Kinerja pasar saham Indonesia tumbuh minus 1,6% hingga penutupan perdagangan kemarin. Dana asing pun mengalir keluar dari lantai bursa. Ke mana kah 'Jokowi Effect'?

Jokowi Effect adalah euforia yang didorong oleh terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden Republik Indonesia (RI) tahun lalu. Waktu itu pasar saham merespons dengan melonjak tinggi dan rupiah pun menguat.

Sejak Jokowi terpilih jadi presiden, investor asing pun ramai-ramai taruh dana di pasar modal dalam negeri. Saham-saham unggulan pun beranjak naik berkat aksi beli investor asing.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan saat ini Efek Jokowi itu mulai pudar. Pasalnya, investor berharap banyak kepada Jokowi untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari presiden sebelumnya.

"Selama 10 tahun terakhir banyak hal yang belum bisa diselesaikan pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Kemarin masyarakat memilih Jokowi berharap ekonominya akan jauh lebih baik, pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, Jokowi diminta untuk bisa membereskan hal-hal yang belum bisa dilakukan SBY," ujarnya kepada detikFinance, Selasa (5/5/2015).

Namun yang terjadi saat ini adalah rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), neraca perdagangan defisit, harga kebutuhan pokok melonjak, sehingga ujung-ujungnya daya beli masyarakat turun.

"Ini yang diharapkan investor bisa diselesaikan Jokowi. Sebagian pelaku pasar menginginkan solusi cepat dari Jokowi, berharap pertumbuhan ekonomi bisa 5,8% seperti yang ditargetkan," ujarnya.

Pasar saham yang tumbuh minus sampai perdagangan kemarin hanya Indonesia dan India. Sementara pasar saham di Asia lainnya tumbuh pesat.

http://finance.detik.com/read/2015/05/05/104758/2905797/6/investor-bertanya-tanya-ke-mana-jokowi-effect?f991104topnews


Komen ts : ktanya mesti sabar nunggu pas proyek mega infrastruktur jalan

Jakarta -Sepanjang kuartal I-2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,7%. Ini merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi terendah sejak 2009.

"Kami tidak melihat pertumbuhan ekonomi di bawah 4,9% sejak 2009. Pertumbuhan ekonomi ini lambat dibandingkan kuartal IV-2014 lalu sebesar 5,01%," jelas Ekonom PT Bank Danamon Tbk, Dian Ayu Yustina dalam keterangannya, Selasa (5/5/2015).

Dian belum mendapatkan struktur pertumbuhan ekonomi yang terjadi, namun dia menduga konsumsi swasta melemah secara signifikan. Ini diperparah lagi dengan mundurnya pengeluaran pemerintah dan investasi.

"Dengan hasil tersebut, kami merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 5,3%," kata Dian

Link: http://adf.ly/1GKiZv

Blog Archive