Saturday, May 16, 2015

Kisah miris korban salah tangkap, dipukuli cuma diganti Rp 1 juta


Merdeka.com - Pada 30 Juni 2013, empat pengamen yakni AP, MF, BF, dan FP bersama kawan-kawannya menemukan Dicky dalam keadaan terluka parah di kolong jalan layang Cipulir, Jakarta Selatan. Selain mereka, ada dua pengamen dewasa yang menemukan Dicky yakni Nurdin Prianto dan Andro Supriyanto.

Saat ditemukan, Dicky yang tak dikenal oleh para pengamen tersebut sudah terkulai lemas akibat sejumlah luka bacok di tubuhnya. Tak lama kemudian Dicky pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Setelah menemukan Dicky tewas para pengamen jalanan itu lalu melaporkan penemuan tersebut ke warga sekitar, hingga akhirnya polisi datang. Namun justru Andro dan teman-temannya yang ditahan, hingga akhirnya diadili. Mereka pun akhirnya menjadi korban salah tangkap atas pembunuhan Dicky Maulana.

Berbagai upaya hukum dilakukan untuk membebaskan sosok malang tersebut membuahkan hasil, Andro pun dinyatakan bebas.

Saat menceritakan kejadian nahas yang menimpanya, Andro Supriyanto, tampak berurai air mata. Dibalut rasa syukur yang mendalam atas kebebasannya, Andro berdoa agar tidak ada lagi korban salah tangkap sepertinya.

"Saya korban salah tangkap di Cipulir pada hari Minggu, 30 Juni 2013. Selama sidang di pengadilan, saya dibantu oleh YLBHI Jakarta. Saya divonis 1 tahun penjara, lalu setelah kasasi saya dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Saya berterima kasih kepada Tuhan, semoga tidak ada lagi korban salah tangkap seperti saya," ujar Andro di Gedung YLBHI, Jl. Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (15/5).

Andro bercerita bahwa saat itu, dirinya bersama teman-temannya naik kereta dari Parung Panjang. Setibanya di Kebayoran, mereka pun berpisah. Andro memutuskan untuk naik metromini untuk kemudian turun di Jembatan Cipulir.

"Di sana saya bertemu Nurdin dan mengajak saya turun ke kolong jembatan dan bertemu anak-anak. Setelah sampai, saya ditanya apakah saya kenal orang yang sedang luka yang ada di dekat jembatan itu. Karena tidak kenal, saya dan Nurdin untuk melihat kondisi orang itu. Orang itu mengaku bernama Dicky dan bilang baru saja ditodong. Saya tanya dia apa ke RS atau Kantor Polisi, lalu dia jawab kantor polisi saja. Karena lelah, saya tidur dan kemudian saya dengar Dicky sudah meninggal. Lalu saya lapor ke satpam dan saya disuruh jadi saksi," cerita Andro.

Menurut pengakuan Andro setelah Dicky meninggal, ia dan teman-temannya ditangkap oleh polisi karena diduga membunuh Dicky tahun 2013 lalu. Dalam proses penyidikan di Polda Metro Jaya, Andro berkali-kali disiksa dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, termasuk dipaksa untuk mengakui sebagai pembunuh Dicky, suatu perbuatan yang diakui Andro tidak pernah dilakukannya.

"Saya disiksa, dilakban, disetrum, diinjak-injak dan disuruh mengakui, tapi saya tidak mau," ujar Andro.

Karena enggan mengaku, Andro pun dipaksa polisi untuk mengakui masalah motor Astrea. Karena tidak tahan siksaan, akhirnya ia terpaksa mengaku. Anehnya, cerita Andro, selama proses BAP, ia sama sekali tidak didampingi kuasa hukum. Namun, berkat bantuan YLBHI, akhirnya Andro divonis bebas setelah kasasi di MA.

"Saya divonis 1 tahun penjara. Setelah kasasi akhirnya saya divonis tidak bersalah. Saya dibebaskan. Saya bersyukur kepada Tuhan telah bebas. Semoga tidak ada lagi korban salah tangkap seperti saya," ujarnya.

Atas proses salah tangkap ini, Andro hanya menerima kompensasi berupa uang senilai Rp 1 juta.

Anggota Tim Sembilan bentukan Presiden Joko Widodo, Komjen Polisi (Purn) Oegroseno mengatakan jumlah ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada para korban kriminalisasi atau salah penerapan hukum terlalu rendah.

"Ganti rugi yang diberikan negara terlalu rendah. Seharusnya korban kriminalisasi atau salah penerapan hukum bisa menjadi miliarder," ujar Oegroseno.

Oegroseno menilai, kompensasi yang layak diberikan negara kepada para korban salah penerapan hukum tersebut bisa mencapai angka miliaran bahkan triliunan. Dengan jumlah yang sesuai, menurut dia, negara memiliki risiko yang lebih berat jika secara salah menetapkan seseorang menjadi tersangka.

"Seharusnya denda itu di kisaran Rp1 miliar sampai Rp1 triliun," katanya.

Jumlah ganti rugi yang saat ini berlaku tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana, Pasal 9 Ayat (1) dan ayat (2).

Pada ayat (1) disebutkan, ganti kerugian berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf (b) dan Pasal 95 KUHAP (tentang pemberian ganti kerugian) adalah berupa imbalan serendah-rendahnya berjumlah Rp5.000 dan setinggi-tingginya Rp1 juta.

Selanjutnya pada ayat (2) disebutkan, apabila penangkapan, penahanan dan tindakan lain sebagaimana dimaksud Pasal 95 KUHAP mengakibatkan yang bersangkutan sakit atau cacat sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan atau mati, besarnya ganti kerugian berjumlah setinggi-tingginya Rp3 juta.

Sementara ada KUHAP Pasal 77 huruf (b) tertulis bahwa ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.

Dalam KUHAP, ganti kerugian ini tertera pada Bab XII tentang Ganti Kerugian dan Rehabilitasi pasal 95. Pada ayat (1) dinyatakan, tersangka, terdakwa atau terpidana berhak menuntut ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan.

http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-miris-korban-salah-tangkap-dipukuli-cuma-diganti-rp-1-juta.html










no komen, ane takut di kriminalisasi

Link: http://adf.ly/1HGYA0

Blog Archive