Tuesday, May 12, 2015

Kisah Remaja Tunanetra Ditinggal Orangtua Sejak Lahir hingga Tinggal di Sekolah


Kisah Remaja Tunanetra Ditinggal Orangtua Sejak Lahir hingga Tinggal di Sekolah

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Keterbatasan fisik berupa kebutaan sejak lahir hingga ditinggalkan oleh orangtuanya tak menyurutkan niat Slamet (16) untuk terus sekolah. Remaja asli Muntilan ini pun tinggal di ruang pramuka sekolah SMP 2 Sewon Bantul karena tidak mempunyai tempat tinggal.

Baginya pendidikan merupakan sebuah kebutuhan, apalagi untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang penulis. Sebab, menurut dia, hanya ilmu pengetahuan serta perilaku baik yang mampu melengkapi kekurangan fisik.

"Belajar itu kebutuhan bagi manusia untuk maju ke depan. Saya yang memiliki kekurangan harus mempunyai ilmu pengetahuan mumpuni, untuk melengkapi," tegas Slamet saat ditemui, Selasa (12/05/2015) siang.

Slamet menuturkan, sejak 2011 ia sudah berada di Yogyakarta sekolah di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam di Danunegaran. Selama dua tahun berjalan ia masih dikirimi uang oleh kedua orang tuanya yang berada di Klaten untuk bayar sekolah dan asrama.

Pada tahun 2013, menjadi puncak ujian kehidupan Slamet, sebab kedua orang tuanya tak kunjung mengirim uang dan tak ada kabar. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini pun memutuskan pulang ke Muntilan untuk menemui kedua orang tuanya. Namun, sesampainya di Muntilan, ia mendapati rumah kontrakan keluarganya sudah kosong.

"Bapak ibu kan ngontrak, pas saya pulang rumah sudah kosong, mereka pergi. Meninggalkan saya," ujarnya.

Dengan perasaan tak menentu, Slamet memutuskan kembali ke yayasan Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam di Danunegaran. Slamet pun harus memutar otak untuk menyelesaikan permasalahan keuangan sementara ia menginginkan untuk tetap sekolah.

"Sebulan Rp 50.000 itu untuk bayar sekolah,asrama dan makan di yayasan. Ya binggung harus gimana. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah," ucapnya.

Doa Slamet pun terjawab. Ia terpilih mewakili sekolah yayasan untuk maju dalam pertandingan Tenis Meja tingkat Nasional. Perjuangan kerasnya pun akhirnya membuahkan hasil, remaja yang mempunyai hobi membaca novel dan menulis cerpen ini meraih juara pertama.

"Target saya pokoknya juara, entah 1,2 atau 3. Biar bisa untuk bayar sekolah, eh ternyata saya juara satu dapat Rp 4 juta," tegasnya.

Uang hasil perjuangannya itu digunakan untuk membayar sekolah dan hidup sehari-hari hingga lulus sekolah. Tak berhenti di situ, setelah lulus Slamet pun mencoba mencari informasi sekolah SMP yang Inklusi. Dari beberapa sekolah, dia memilih untuk mendaftar di SMP 2 Sewon Bantul.

"Saya daftar sendiri dan cari kos sendiri. Saya ingin sekolah pokoknya, biayanya dari Rp 4 juta dulu itu," tuturnya.

Lama-kelamaan uang Rp 4 juta yang ada di tabungan pun mulai berkurang, Slamet merasa tak mampu lagi untuk membayar uang kos. Dalam situasi itu, Slamet menemui gurunya dan menyampaikan kesulitanya. Bahkan, dia sempat terucap ingin keluar dari sekolah karena memang kondisinya tidak memungkinkan.

"Saya mau keluar, berhenti sekolah. Tidak enak kalau merepotkan. Tapi tidak boleh," katanya.

Melihat begitu besar niat Slamet untuk sekolah, guru yang menjadi tempat curhat menyampaikan ke kepala Sekolah. Mendengar cerita itu, kepala sekolah SMP 2 Sewon Bantul Asnawi memutuskan memberikan ruang Pramuka yang kosong sebagai tempat tinggal Slamet.

"Bapak ibu guru dan bapak kepala sekolah begitu peduli sama saya," ucapnya.

Di ruang Pramuka tersebut, ada lemari dua lemari yang menyekat ruang tersebut. Di balik lemari tersebut, ada dua kasur lantai tipis di atasnya tergeletak tumpukan pakaian dan sebuah gitar. Di sudut ruangan ada tape, kipas angin dan tiga buah piala kejuaraan tenis meja.

Tiga piala itu diperoleh remaja yang saat ini duduk dikelas 7 SMP 2 Sewon Bantul pada 2011 saat memangi lomba catur Tingkat DIY, setelah itu ia juara lomba cerdas cermat IPA tingkat DIY. Pada 2013 ia menjuarai lomba tenis meja tingkat Nasional khusus difabel.

"Saya ingin terus sekolah dan meraih cita-cita menjadi penulis buku. Ya saya memang kesepian dalam keramian, tetapi itu tak menghalangi niat untuk meraih cita-cita," pungkasnya.

Guru ikut iuran

Kepedulian para guru serta Kepala Sekolah SMP 2 Sewon Bantul agar Slamet tetap bisa sekolah sangat besar. Demi remaja yang sejak SD sudah berprestasi ini, para guru rela menyisihkan uangnya untuk Slamet.

"Dia niatnya begitu besar. Sewaktu cerita tidak kos, saya lalu suruh memakai ruangan sekolah yang tidak terpakai," ucap Kepala Sekolah SMP 2 Sewon Bantul Asnawi.

Tak hanya itu, para guru pun rela menyisihkan uangnya untuk biaya kebutuhan sehari-hari Slamet, mulai dari makan sampai uang saku. Ketika jadwal latihan tenis meja, tukang kebun sekolahanlah yang mengantar dan menjemput Slamet.

"Guru-guru sengaja menyisihkan uang untuk Slamet. Ya untuk makan dan kebutuhan lain-lain," pungkasnya.

http://regional.kompas.com/read/2015...l.di.Sek olah

Luar biasa..

semoga menjadi inspirasi bagi kebanyakan kita yang lebih banyak mempunyai kelebihan..

Link: http://adf.ly/1GzVHO

Blog Archive