Friday, May 15, 2015

Muslihat ala Babi


Liputan6.com, Washinton D.C.: Sekitar 3.000 orang Indonesia akan diperiksa penegak hukum dan keimigrasin Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut Operasi Jakarta yang dilakukan pemerintah AS untuk mengungkap lebih jauh jaringan agen suaka palsu dan tindak pidana keimigrasian di sana. Sejauh ini, dari 26 orang yang ditangkap dalam kasus ini, 23 di antaranya adalah orang Indonesia [baca: Orang Indonesia Pemalsu Dokumen Imigrasi di AS].

Kasus ini terbongkar dari kecurigaan pemerintah AS. Pasalnya, banyak orang Indonesia yang meminta suaka dengan alasan yang persis sama. Mereka mengaku mendapat ancaman politik atau tekanan atas keselamatan mereka di Indonesia sejak kerusuhan Mei 1998 pecah. Mereka kebanyakan adalah warga keturunan Cina. Setelah dua tahun menyelidiki, Biro Penyelidik Federal (FBI), Secret Service, dan kepolisian AS berhasil membongkar empat agen yang memfasilitasi permohonan suaka. Salah seorang pemimpinnya adalah Hans Gouw, 53 tahun, yang mendapat suaka pada 1999.

Badan Imigrasi dan Kepabeanan AS seperti yang dikatakan Marcy Forman, Direktur Investigasi, menindak tegas orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan laporan Komisi 9/11 (11 September 2001) yang menyebutkan masalah keimigrasian sebagai salah satu titik lemah masuknya teroris di AS.

Kedutaan Besar Indonesia untuk AS di Washington D.C., tak bisa berbuat banyak untuk menangani kasus ini. Meski mempermalukan Indonesia, Teguh Wardoyo, Kepala Bidang Konsuler KBRI di Washington D.C., menganggap masalah ini adalah kewenangan pemerintah AS terhadap warganya. Namun, KBRI memastikan pemerintah AS akan menyiapkan pengacara dan penerjemah bagi para tersangka dalam proses hukum ini.

Patsy Widakuswara dari Voice of America di Washington D.C., dalam dialog langsung dengan Liputan 6 SCTV, Kamis pagi WIB menyebutkan, selain ancaman deportasi, orang yang terlibat kasus ini juga kemungkinan besar akan menjalani hukuman. Mereka dapat dijerat kasus pemalsuan sekaligus pelanggaran keimigrasian. Ancaman hukumannya untuk kasus pelanggaran dokumen keimigrasian yakni lima tahun penjara.

Kasus pelanggaran keimigrasian di AS memang sudah biasa. Patsy menyebutkan, sekitar 4.000 imigran gelap masuk AS, setiap hari. Mereka rata-rata menggunakan alasan serupa untuk bisa menetap di Negeri Paman Sam.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)

http://berita.liputan6.com/read/90552/muslihat-orang-indonesia-menetap-di-as

Link: http://adf.ly/1HD9Pl

Blog Archive