Wednesday, May 20, 2015

Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional


Dari Ende, Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional
Rabu, 20 Mei 2015 , 17:31:00 WIB

Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional
Puan Maharani

RMOL. Dulu, Presiden Soekarno mengingatkan bahwa perjuangannya saat itu lebih mudah dibandingkan dengan perjuangkan dengan generasi sesudahnya. Perjuangan generasi sesudahnya lebih sulit karena harus melawan bangsa sendiri.

"Apa yang dikatakan beliau sesungguhnya baru kita rasakan saat ini," kata Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, saat menyampaikan pidatonya di Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Pancasila, Kota Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (Rabu, 20/5).

Puan mengutarakan makna dari sepenggal kalimat Bung Karno yang berarti perjuangan melawan bangsa sendiri. Hal itu dapat dilihat dengan tingginya angka kesenjangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan kesenjangan sosial.

"Sehingga menciptakan pengelompokan masyarakat yang merasa nyaman pada zonanya masing-masing. Hal itu telah menggerus semangat gotong royong dalam politik, pasar bebas, liberalisasi pertumbuhan ekonomi semata," ujarnya.

Puan menegaskan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional harus menjadikan masyarakat Indonesia mawas diri dan memperkuat semangat gotong royong. Lebih-lebih Permasalahan yang dihadapi pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur tidak mudah. Pemerintah sendiri telah menetapkan visi misi strategi pembangunan.

"Indonesia yang berdaulat mandiri harus berlandaskan semangat gotong royong oleh karena itu dengan jalan trisakti tiga norma dalam pembangunan infrastruktur, pembangunan pengawasan ketimpangan kelompok masyarakat bawah, pembangunan yang menjadi daya dukung lingkungan tidak bisa dipisahkan," tegas Puan.

"Semua itu sudah terangkum dalam RPJM 2015-2019 sehingga dapat mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri dengan kepribadian berlandaskan semangat gotong royong," sambung Puan.

Menurut Puan, sudah sejak lama Bung Karno berpikir tentang revolusi mental, terutama saat era perjuangan kemerdekaan. Perjuangan tersebut sempat mandek lantaran beberapa faktor, seperti penurunan semangat jiwa revolusioner lantaran masih mewarisi cara berpikir penjajah.

Namun demikian, Puan menegaskan bahwa segala rintangan itu harus dihadapi dengan revolusi mental. Esensi revolusi mental adalah mengubah pola pikir dan pandangan untuk gerakan kehidupan yang baru.

"Sehingga hal itu harus dilakukan dari diri sendiri dengan semangat optimis kreatif," tandasnya.

Puan, untuk pertama kalinya menginjak tanah yang pernah menjadi tempat pengasingan Soekarno di Kabupaten Ende, NTT. Selaku Menko PMK, Puan melihat antusiasme masyarakat akan sosok sang proklamator. Saat peringatan Harkitnas inilah muncul wacana menjadikan Ende sebagai Kota Soekarno.

"Alhamdulillah ini pertama kali saya datang menginjak kota Ende, dahulu sudah beberapa kali direncanakan tetapi selalu gagal dan baru kali akhirnya saya bisa sampai di Kota Ende," paparnya

Puan membayangkan saat Bung Karno menjadi tahanan politik pemerintah Belanda. Semangat dan aura perjuangan Soekarno masih bisa dirasakan.

"Namun kecintaan beliau akan Kota Ende membuat saya merasa beliau selalu hadir dan hadir di kota Ende. Saya bangga bisa hadiri di sini tidak hanya sebagai Menko PMK tapi sebagai cucu Soekarno saya bangga disini. Ende merupakan kota bersejarah buat bangsa tapi juga memiliki arti penting bagi keluarga kami," demikian Puan.
http://www.rmol.co/read/2015/05/20/2...itan-Nasional-


Akal-akalan Menteri Puan minta dana Rp 149 M buat revolusi mental
Kamis, 12 Februari 2015 06:09

Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional
Jokowi dan Puan Maharani.

Merdeka.com - Dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015, sejumlah kementerian berlomba-lomba meminta tambahan anggaran. Tambahan anggaran diajukan karena APBN 2015 yang disusun pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dianggap belum memasukkan program kerja kementerian sesuai visi-misi Presiden Joko Widodo.

Dengan alasan adanya tambahan program kerja sesuai visi misi pemerintahan Jokowi- JK, sejumlah menteri menggelar rapat dengan mitra kerjanya masing-masing di DPR. Termasuk Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani.

Seperti menteri lainnya, Menteri Puan mengajukan tambahan anggaran. Nilainya Rp 149 miliar. Tambahan dana ini disebut-sebut akan digunakan untuk program revolusi mental yang digagas Presiden Jokowi.

Menteri Puan mengajukan tambahan anggaran untuk program koordinasi pengembangan kebijakan sebesar Rp 19 miliar, dari pagu dalam APBN 2015 sebesar Rp 153,3 miliar, menjadi Rp 172,3 miliar.

Namun dalam rapat bersama DPR, Puan tidak menjelaskan secara detail apa agenda program revolusi mental. Padahal, proses dalam pengajuan anggaran wajib mencantumkan detail program dan penggunaan anggarannya.

Tidak jelasnya rencana program revolusi mental yang disampaikan Menteri Puan, mengundang kritik. Pengamat politik Ray Rangkuti melihat, apa yang disampaikan Menteri Puan tidak jelas. Dalam pandangannya, sah-sah saja bila kementerian mengajukan penambahan anggaran di tahun 2015. Apalagi subsidi BBM sudah dikurangi. Otomatis APBN akan bertambah dibandingkan tahun lalu.

Persoalannya, kata dia, kementerian harus memberi penjelasan detail soal rencana tambahan anggaran.

"Permintaan itu boleh-boleh saja. Apalagi pemerintah dapat dana lumayan besar akibat pengalihan subsidi. Mungkin untuk pemasukan APBN kita akan bertambah. Sebelum mengajukan perubahan, alangkah baiknya dipikirkan terlebih dahulu apakah logis atau tidak anggaran yang diajukan. Tidak perlu mengajukan harga dulu, tapi paparkan dulu programnya," katanya.
http://www.merdeka.com/uang/akal-aka...si-mental.html


SBY Sindir Revolusi Mental Presiden Jokowi
"Revolusi tak harus melewati pertumpahan darah."
Sabtu, 25 April 2015 | 11:47 WIB

Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional
Jokowi dan SBY (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)

VIVA.co.id - Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan sebelum presiden Joko Widodo mengenalkan revolusi mental, konsep itu sudah lama digaungkan sejak abad ke-18.

Hal itu diungkapkan SBY saat berpidato di Aula Universitas Nasional, Sabtu 25 April 2015. Menurut SBY, revolusi yang digaungkan Jokowi itu sudah ada sejak era masa lalu termasuk dalam ajaran Karl Marx, tokoh Marxisme dunia.

"Revolusi mental itu sebenarnya sudah hidup di abad ke-18, ketika tiga tokoh besar di Jerman, Karl Max, Friedrich Hegel, dan Friedrich Engels yang kita kenal dengan ajaran Marxisme yang memunculkan Komunisme," kata SBY.

Lebih lanjut SBY mengatakan bahwa ajaran revolusi mental yang dianut oleh Marxisme itu mengajarkan untuk menolak sebuah penindasan. Secara tidak langsung, SBY menganggap revolusi mental yang diagungkan presiden Jokowi semasa kampanye bukanlah hal baru.

Namun SBY juga tak membantah bahwa ada yang berbeda antara revolusi mental ala presiden Jokowi dengan para tokoh dunia tersebut.
"Berbeda dengan yang dicetuskan oleh Marx, revolusi mental yang dimaksud Pak Jokowi itu mengubah karakter, itu saya setuju 100 persen. Revolusi tak harus melewati pertumpahan darah," jelas pria kelahiran Pacitan ini
http://nasional.news.viva.co.id/news...residen-jokowi


Enam Bulan Jadi Menteri, Puan dan Tjahjo Masih Berstatus Anggota DPR
Rabu, 13 Mei 2015 | 12:40 WIB

Puan Maharani Gelorakan Revolusi Mental di Hari Kebangkitan Nasional
Puan Maharani dan Tjahjo Kumolo saat diperkenalkan sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Menteri Dalam Negeri.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar enam bulan setelah dilantik, dua menteri yang berasal dari PDI Perjuangan, yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, masih berstatus sebagai anggota DPR. Setelah ditelusuri di Sekretariat Jenderal DPR RI, DPP PDI-P belum mengirimkan surat pergantian antar-waktu untuk kedua anggotanya itu.

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Jenderal DPR RI Winantuningtyastiti mengaku belum tahu apakah PDI-P sudah menyerahkan surat PAW untuk menggantikan Puan Maharani dan Tjahjo Kumolo. Dia meminta agar media bisa mengecek langsung ke bagian kepegawaian DPR.

"Saya enggak tahu ya. Soal itu bisa dilihat langsung di bagian kepegawaian di lantai 4," kata Win saat dihubungi, Selasa (13/5/2015).

Saat dicek ke bagian kepegawaian, sesuai kata Win, memang tak ada keterangan pengunduran diri dari Puan dan Tjahjo. Salah satu pegawai di sana membuka komputer yang berisi data dan dokumen semua anggota DPR periode 2014-2019. Setelah itu, data ditujukan ke nama Puan dan Tjahjo.

Dalam database tersebut, tidak ditemukan surat pengunduran diri ataupun pergantian antar-waktu. Hanya ada surat pelantikan keduanya sebagai anggota DPR yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 September 2014.

"Kalau surat sudah masuk, pasti datanya masuk ke sini semua," kata pegawai yang enggan disebutkan namanya itu.
http://nasional.kompas.com/read/2015...us.Anggota.DPR

--------------------------------

Bijimana mau mereformasi mental rakyat, bilamana tokoh utama penggerak revolusi mental itu sendiri ternyata tidak siap mental hanya untuk melepas jabatan kursi di DPR, padahal sudah diangkat jadi menteri setengah tahun lamanya?


:

Link: http://adf.ly/1HTXXf

Blog Archive