Monday, May 4, 2015

(Sekolah Agama) :Australia Catholic Univ Jadikan Nama Bandar Narkoba Sbg Beasiswa


JK sebut Australia tak pantas abadikan penjahat jadi nama beasiswa

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai rencana Australia menggunakan nama dua narapidana narkoba tereksekusi mati, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, menjadi nama beasiswa untuk anak-anak Indonesia, merupakan hal yang kurang pantas.

Pasalnya, duo Bali Nine tersebut dieksekusi mati setelah melakukan tindak kejahatan berat.

"Saya kira karena yang dihukum mati itu termasuk kejahatan, ya tentu kurang pantas orang yang melaksanakan kejahatan di Indonesia diberi nama untuk beasiswa itu," tutur JK di kantornya, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (4/5).

JK menegaskan, apabila dua nama tersebut adalah orang-orang terhormat, maka kebijakan Australia menjadikan nama kedua sebagai nama beasiswa adalah hal yang wajar.

"Kalau orang-orangnya terhormat, katakanlah ilmuwan atau pahlawan Australia pasti Indonesia setuju. Tapi kalau nama kriminal menjadi beasiswa itu kurang pantas untuk itu," tegas JK.

Sebelumnya, sebuah kampus di Australia akan mengabadikan nama duo Bali Nine yang telah dieksekusi mati atas kasus narkotika di Indonesia sebagai nama beasiswa. Menanggapi langkah kampus tersebut, Perdana Menteri Tony Abbott mengernyitkan dahi.

Diberitakan The Age, Jumat (1/5), Kampus tersebut adalah Australian Catholic University yang akan menggunakan nama Andrew Chan dan Myuran Sukumaran sebagai nama beasiswa bagi mahasiswa asal Indonesia.

Beasiswa itu berupa gratis studi selama empat tahun dan diberikan pada pelajar Indonesia yang memenangkan kompetisi esai dengan tema menentang hukuman mati berjudul 'kesucian kehidupan manusia'.

Menurut wakil rektor kampus tersebut, Professor Greg Craven, nama kedua terpidana mati Bali Nine itu sangat tepat sebagai bentuk penghargaan terhadap 'perubahan diri, keberanian dan martabat', Chan dan Sukumaran.

"Sebagai bentuk simbolis, tulisan pelajar Indonesia ini akan berkontribusi terhadap penghapusan hukuman mati di Indonesia," ujar Craven dalam pernyataannya.

Chan dan Sukumaran adalah dua dari delapan tereksekusi mati yang menemui ajal di hadapan regu tembak Rabu lalu. Sebelum menghadapi ajal, Chan dan Sukumaran mengatakan ingin agar nama mereka dijadikan simbol terhadap penghapusan hukuman mati di dunia.

Publik Australia terbagi dua, antara yang mendukung dan menentang Indonesia. Mereka yang menentang mengatakan bahwa Chan dan Sukumaran telah berubah menjadi lebih baik dan berhak mendapat kesempatan kedua. Sementara yang mendukung eksekusi mengatakan, itu adalah hak Indonesia sebagai negara yang menegakkan hukum.

Abbott sendiri salah satu yang menentang hukuman mati terhadap dua warganya, dengan mengatakan bahwa eksekusi akan berdampak terhadap hubungan bilateral Australia-Indonesia. Kendati demikian, jika nama Chan dan Sukumaran disanjung sedemikian rupa, bahkan dijadikan nama beasiswa, Abbott agak mengernyitkan dahi.

Dalam wawancara dengan radio 2GB Australia, Abbott walau menolak eksekusi namun dia mengakui bahwa Chan dan Sukumaran adalah pelaku pengedaran narkoba, sebuah kejahatan dan tindakan yang buruk. Karena itu dia heran, mengapa ada universitas ternama yang memegang nilai-nilai terpuji malah justru menjadikan keduanya sebagai panutan.

"Beasiswa ini memberikan pesan yang tidak biasa. Jika boleh saya bilang, adalah hal yang aneh dilakukan sebuah universitas, terutama institusi yang seharusnya mendukung nilai-nilai terbaik," kata Abbott.

http://www.merdeka.com/peristiwa/jk-...-beasiswa.html


Link: http://adf.ly/1GHC3S

Blog Archive