Tuesday, May 19, 2015

Terserang Malaria, Dokter PTT di Pedalaman Papua Meninggal Dunia


Terserang Malaria, Dokter PTT di Pedalaman Papua Meninggal Dunia

Seorang dokter mengorbankan nyawanya dalam pengabdian diri untuk kemanusiaan kembali berulang. Seorang dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin tahun 2012 meninggal dunia tanggal 13 Mei 2015 di RSUD Abeparu Jayapura.

Beliau menderita malaria berulang dan terlambat dievakuasi dari Puskesmas tempat dinasnya beberapa hari karena kendala cuaca sehingga kondisi semakin memburuk saat sampai RS Abepura Jayapura. Saat beliau akan dievakuasi ke Makasar nyawanya tidak tertolong.

Dr. Dhanny Elya Tangke, biasa dipanggil Dhanny, adalah dokter PTT di Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua sejak tahun 2013. Beliau ditempatkan di daerah sangat terpencil di Distrik Weime sebuah distrik baru di daerah dataran rendah bagian utara pegunungan Bintang.

Kabupaten pegunungan Bintang sendiri menduduki peringkat 371 Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2013 dari 497 kabupaten di Indonesia. Berita meninggalnya seseorang dokter yang bekerja di daerah terpencil memang selalu berulang, baik karena sakit maupun kecelakaan.

Daerah distrik Weime memang terkenal dengan kasus malarianya. Risiko untuk seorang dokter bekerja di daerah endemis malaria adalah terjangkit malaria dan ini terjadi pada dokter muda yang mempunyai banyak mimpi-mimpi ini.

Dari hasil perbincangan saya dengan rekan beliau, saya mendapat info rencananya setelah menyelesaikan tugas di Propinsi Papua beliau memang akan kembali untuk melanjutkan pendidikan spesialis. Tetapi nasib berbicara lain, malaria telah mengubur cita-citanya dan harapan-harapan keluarganya.

Dhanny semasa mahasiswa merupakan salah satu aktifis kampus, aktif menjadi panitia berbagai kegiatan di kampus. Juga bergabung dengan Tim Bantuan Medis Calcaneus FK UNHAS, membuat beliau mencintai kegiatan-kegiatan sosial sampai akhirnya memilih menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di derah sangat terpencil di Kabupaten Pegunungan Bintang Papua. Tahun 2015 ini merupakan tahun ketiga beliau mengabdikan diri menjadi seorang dokter di tanah Papua.

Adanya berita seorang dokter yang meninggal saat bertugas mustinya bisa menjadi bukti bahwa seorang dokter kadang kala berada pada risiko yang tinggi dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dhanny sendiri tidak sendiri, bersama beliau ada ratusan dokter PTT yang ditempatkan di daerah terpencil dengan risiko nyawa sekalipun. Sumpah dokter yang pertama memang menjadi patokan untuk seorang dokter melakukan profesinya. Lafal 1 sumpah dokter: "Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan".

Dhanny telah mengorbankan nyawanya untuk kemanusiaan. Siapa saja dokter atau petugas kesehatan lain yang berdinas didaerah terpencil di Indonesia ini yang memang endemis malaria akan berisiko untuk terjangkit malaria. Sebagian besar dokter-dokter di Indonesia terutama yang mengikuti wajib kerja sarjana atau yang mengikuti kegiatan wajib dokter PTT pernah melewati masa-masa sulit ketika mengabdikan diri untuk pelayanan kesehatan di masyarakat.

Saya sendiri diawal menjadi dokter 25 tahun ditempatkan di daerah terpencil di propinsi Jambi dan di akhir masa tugas saya pun sempat menderita malaria dan sempat kambuh sampai 1 tahun ketika saya kembali sekolah pendidikan spesialis di Jakarta.

Hampir semua teman sejawat saya yang bekerja di Propinsi Papua pernah terkena malaria dari yang ringan sampai berat. Bahkan ada juga yang sampai mengalami malaria serebral dan bisa survive.

Memang sebenarnya masyarakat harus melihat profesi dokter secara utuh. Dokter dalam bekerja terikat akan sumpah yang wajib dilafalkan setiap dokter saat dilantik menjadi dokter. Dalam bekerja dokterpun terikat akan kode etik kedokteran.

Kembali kepada kasus Dr.Dhanny, harus ada penghargaan dari pemerintah atas pengorbanan beliau yang meninggal karena malaria. Beliau telah mempertaruhakan jiwa raganya untuk tanah Papua. Mimpi-mimpinya untuk menjalani profesi dimasa depan ini berakhir di tanah Papua karena terserang Malaria. Penyakit yang masih menjadi momok untuk sebagian besar masyarakat kita yang tinggal di derah endemis malaria.

Dr.Dhanny sudah meninggalkan kita semua. Beliau menunjukkan bahwa konsekuensi dalam melaksanakan profesi didaerah sangat terpencil adalah sebuah kematian. Terlepas orang lain peduli atau tidak peduli atas apa yang telah beliau perjuangkan.

Saya yakin kepergian beliau tidak akan menyurutkan para dokter muda Indonesia lainnya yang siap berangkat ke derah terpencil tetapi lebih memotivasi lagi para dokter muda untuk membantu mengatasi masalah kesehatan yang kompleks di derah terpencil tersebut.

Selamat jalan teman sejawat. Selamat jalan Pahlawan Kemanusiaan. (sam/jpnn)

*Dr. Ari F Syam
-Mantan dokter PTT daerah terpencil 1992-1995 di Propinsi Jambi.
-Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, University of Indonesia

turut berduka.

Link: http://adf.ly/1HOlmV

Blog Archive